Cakrawala News – 27 September 2026 | KSAL ungkap alasan kapal induk RI pertama Garibaldi dinamai KRI Sriwijaya menjadi sorotan publik setelah kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengungkapkan dua alasan utama di balik penamaan tersebut, yakni pemilihan nama yang merujuk pada kejayaan Kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim tertua di Nusantara, serta adanya hubungan baik antara Indonesia dan Italia yang membuat kapal itu dihibahkan.
“Sriwijaya kerajaan maritim Indonesia yang tertua ya. Lebih tua dari Majapahit. Makanya dipilih itu,” kata Ali setelah acara peresmian nama KRI Sriwijaya-100 di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026).
Prosesi pergantian bendera atau reflagging digelar di atas geladak kapal yang bersandar di Dermaga 107. Upacara dipimpin Chief of Staff Italian Navy Admiral Giuseppe Berutti Bergotto bersama KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali. Setelah bendera Italia diturunkan dan digantikan bendera Merah Putih, prosesi dilanjutkan dengan shipnaming serta pengukuhan Komandan KRI Sriwijaya-100 yang dipimpin Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
Alasan Italia Hibahkan Kapal Induk
Selain soal nama, KSAL juga membeberkan alasan Italia rela menyerahkan kapal induknya kepada Indonesia. Menurut Ali, pertimbangan utama Italia adalah hubungan baik yang terjalin antara Angkatan Laut Indonesia dan Angkatan Laut Italia, serta kebiasaan Indonesia menggunakan berbagai produk pertahanan buatan Italia.
“Alasan hibah, karena kerja sama yang baik antara Angkatan Laut Indonesia dengan Angkatan Laut Italia. Dan kita juga banyak, telah banyak menggunakan produk-produk Itali ya, helikopter, semua peralatan banyak, nah kapal PPA yang fregat yang lalu. Inilah akhirnya Italia menganggap kita ini mempunyai hubungan yang sangat baik dan emosionalnya cukup kuat, akhirnya dihibahkanlah kapal induk ini untuk Indonesia,” ujar Ali kepada awak media.
Ali menjelaskan ada beberapa faktor yang membuat hubungan Indonesia dan Italia berjalan harmonis. Salah satunya, TNI dan militer Italia kerap terlibat dalam berbagai kegiatan kerja sama, mulai dari pertemuan diplomasi hingga latihan militer bersama. Alasan lainnya karena Kementerian Pertahanan RI banyak membeli alutsista dari Italia, termasuk helikopter dan kapal fregat.
Kondisi Kapal dan Pembiayaan Perawatan
Ali memastikan KRI Sriwijaya-100 masih dalam kondisi sangat baik dan layak digunakan. Hal itu dibuktikan dengan kemampuan kapal melakukan perjalanan selama 20 hari dari Italia menuju Indonesia tanpa kendala berarti.
“Jadi kapal ini sangat capable, kapabilitasnya cukup bagus. Anda lihat perjalanan selama 20 hari dari Itali tidak mengalami permasalahan sama sekali. Jadi ini menunjukkan bahwa kapal ini masih kondisinya sangat baik,” jelasnya.
Soal pembiayaan, Ali menyatakan perawatan KRI Sriwijaya-100 sudah dirancang oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan). Anggaran tersebut mencakup kebutuhan retrofit hingga pemeliharaan berkala, mulai dari pemeliharaan tahunan, dua tahunan, sampai lima tahunan.
“Untuk pembiayaan sebenarnya sudah direncanakan oleh Kementerian Pertahanan. Semuanya udah disiapkan termasuk dengan retrofit ya. Pemeliharaan tahunan, pemeliharaan 2 tahunan, pemeliharaan 5 tahunan semuanya sudah disiapkan,” ucapnya.
Makna Historis Nama Sriwijaya
Narator dalam upacara pemberian nama kapal Republik Indonesia juga membacakan alasan pemilihan nama Sriwijaya. Menurut narator, Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim terbesar se-Asia Tenggara pada masanya. Kerajaan itu berpusat di sekitar wilayah Palembang dan berkembang sejak sekitar abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi.
Sriwijaya tumbuh sebagai kekuatan politik, perdagangan, dan keagamaan yang memiliki pengaruh luas. Letaknya yang strategis memungkinkan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan penting, khususnya di kawasan Selat Malaka, sehingga jaringan kekuasaannya menjangkau berbagai wilayah di Sumatera, Semenanjung Malaya, Jawa, hingga kawasan Asia Tenggara lainnya.
Ali berharap penamaan KRI Sriwijaya-100 dapat menjadi simbol untuk menghidupkan kembali kejayaan maritim Indonesia. Menurutnya, Sriwijaya memiliki rekam sejarah sebagai kekuatan maritim yang membawa kejayaan Nusantara pada masa lalu.
“Dan itu membawa kejayaan kemaritiman di era masa lalu. Nah ini harapannya dengan penamaan itu kita akan mengembalikan keemasan atau kejayaan kemaritiman Nusantara seperti yang lalu ya,” kata Ali.
Dampak bagi Industri Pertahanan Dalam Negeri
Kerja sama yang terbangun dari hibah ini juga dinilai membawa dampak positif bagi pengembangan industri pertahanan dalam negeri. Ali mencontohkan kerja sama antara PT Penataran Angkatan Laut (PAL) Indonesia dengan perusahaan asal Italia, Fincantieri, dalam memperbarui teknologi KRI Sriwijaya-100.
Dengan adanya kerja sama tersebut, industri pertahanan dalam negeri memperoleh keuntungan berupa transfer of technology (ToT) dari Italia. Diharapkan, kualitas produk industri pertahanan dalam negeri bisa semakin meningkat seiring berjalannya waktu.
Sebelumnya, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan (Karo Humas Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyatakan Indonesia mendapatkan kapal induk secara hibah dari Pemerintah Italia. Kapal yang diproduksi pada 1983 tersebut kini resmi menjadi bagian dari jajaran TNI Angkatan Laut dan menyandang bendera Merah Putih.
Kehadiran KRI Sriwijaya-100 menandai babak baru bagi TNI AL karena menjadi kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia. Selain memperkuat kemampuan pertahanan laut, kapal ini diproyeksikan mendukung berbagai operasi, termasuk operasi militer selain perang (OMSP), dukungan operasi helikopter, serta penanganan pascabencana dan bantuan kemanusiaan.
Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada kesiapan operasional KRI Sriwijaya-100, termasuk proses retrofit, pemeliharaan berkala, dan penggantian sejumlah peralatan komunikasi yang disebut KSAL akan dilakukan. Dengan kondisi yang dinilai masih sangat baik, kapal induk pertama RI ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol kejayaan maritim Nusantara, tetapi juga kekuatan nyata dalam menjaga kedaulatan laut Indonesia.








