Cakrawala News – 03 November 2026 | Langkah PT Pupuk Indonesia (Persero) dalam memperkuat hilirisasi industri kimia nasional memasuki babak baru. Melalui anak usahanya, PT Petrokimia Gresik, perseroan membangun pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Gresik, Jawa Timur. Inisiatif ini menjadi wujud nyata komitmen Pupuk Indonesia bangun pabrik soda ash, tekan impor dan hemat devisa hingga triliunan rupiah setiap tahun.
Proyek tersebut ditandai dengan penandatanganan kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) antara PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind), yang keduanya merupakan anak usaha Pupuk Indonesia. Pabrik ini menjadi fasilitas soda ash kedua di lingkungan Pupuk Indonesia Group setelah sebelumnya dikembangkan melalui Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim).
Mendorong Substitusi Impor Bahan Baku Industri
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi strategi penting untuk mengurangi ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi di dalam negeri.
“Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Rahmad dalam keterangan resmi, Sabtu (31/10/2026).
Urgensi proyek ini tercermin dari besarnya ketergantungan Indonesia terhadap soda ash. Sepanjang 2025, kebutuhan nasional terhadap bahan kimia tersebut masih sepenuhnya dipenuhi dari luar negeri, dengan volume mencapai sekitar 1,05 juta ton senilai 225 juta dolar Amerika Serikat.
Pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik dirancang memiliki kapasitas produksi 300.000 ton per tahun. Dengan kapasitas tersebut, fasilitas ini berpotensi menggantikan sekitar 29 persen volume impor nasional dan menghemat devisa hingga Rp1,4 triliun per tahun.
Pemanfaatan Emisi Karbon untuk Produk Bernilai Tambah
Selain soda ash, proyek ini juga akan memproduksi Amonium Klorida dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Produk tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi pupuk NPK sehingga memperkuat integrasi rantai pasok industri kimia sekaligus mendukung ketahanan bahan baku pupuk nasional.
Yang menarik, pabrik ini dirancang memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun dari proses produksi pupuk. Pemanfaatan CO2 dalam rantai produksi soda ash menghubungkan kegiatan produksi pupuk dengan pengembangan produk kimia bernilai tambah.
Langkah ini juga menjadi bagian dari arah transformasi hijau Pupuk Indonesia melalui dekarbonisasi bertahap menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Dengan demikian, upaya Pupuk Indonesia bangun pabrik soda ash, tekan impor dan hemat devisa berjalan seiring dengan agenda keberlanjutan perusahaan.
Bagian dari Agenda Industrialisasi Nasional
Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik merupakan bagian dari agenda industrialisasi Pupuk Indonesia melalui pembangunan dan revitalisasi 8 pabrik dalam 5 tahun ke depan. Sebagai proyek soda ash kedua di lingkungan grup, pengembangan ini memperluas langkah hilirisasi dan diversifikasi produk kimia bernilai tambah.
Rahmad menyebut Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional.
“Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kita jalankan,” ujarnya.
Dengan kehadiran pabrik ini, kapasitas soda ash di lingkungan Pupuk Indonesia Group secara gabungan bersama Pupuk Kaltim ditargetkan mencapai 600.000 ton, dengan potensi penghematan devisa hingga Rp2 triliun per tahun.
Bagi industri nasional, produksi soda ash dalam negeri menjadi krusial karena bahan kimia ini dibutuhkan oleh berbagai sektor, mulai dari kaca, keramik, hingga deterjen. Selama bertahun-tahun, kebutuhan tersebut sepenuhnya bergantung pada pasokan impor sehingga rentan terhadap gejolak nilai tukar dan gangguan rantai pasok global.
Ke depan, pelaksanaan kontrak EPCC antara Petrokimia Gresik dan Rekind menjadi penentu realisasi target kapasitas dan jadwal operasional pabrik. Publik dan pelaku industri akan menantikan sejauh mana proyek ini mampu merealisasikan potensi substitusi impor yang telah diproyeksikan.
Jika terealisasi sesuai rencana, langkah Pupuk Indonesia bangun pabrik soda ash, tekan impor dan hemat devisa tidak hanya memperkuat kemandirian industri kimia, tetapi juga menjadi contoh bagaimana hilirisasi dan pemanfaatan karbon dapat berjalan beriringan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
