Cakrawala News – 25 September 2026 | Mahfud MD sentil Prabowo yang sebut pakar goblok: Presiden juga banyak yang goblok, tahu contohnya? Pernyataan itu disampaikan Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Mahfud MD menanggapi ucapan Presiden Prabowo Subianto yang menggunakan diksi “goblok” dalam sambutannya pada acara HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN), Jumat (18/9) malam. Mahfud menilai tidak semua profesor atau pakar berada di bawah standar, dan sebaliknya, jabatan presiden pun tidak otomatis menjamin kualitas seorang pemimpin.
Dalam siniar di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (23/9), Mahfud mengakui memang ada sejumlah pakar dan profesor yang kapasitasnya di bawah standar. Namun ia menegaskan, dari sekitar 1.500 lebih profesor, tidak semuanya demikian. Karena itu, ia menolak generalisasi yang menyebut para pakar atau profesor sebagai “goblok”.
“Tetapi tentu tidak semua profesor. Seperti halnya presiden juga banyak yang goblok kan?” kata Mahfud.
Mahfud menegaskan bahwa pernyataannya bukan ditujukan untuk menyerang Prabowo. Ia justru mengamini bahwa Prabowo tidak goblok dan menilai Presiden RI itu memiliki wawasan luas dalam memimpin pemerintahan. Mahfud bahkan mengaku kagum atas pidato Prabowo di dunia internasional.
“Di dunia internasional, kadang kala dari sudut bahasa dan orasi dia cukup membanggakan, harus diakui kan? Cukup membanggakan,” ujarnya.
Meski demikian, Mahfud mengingatkan bahwa tidak sepatutnya seorang kepala negara melontarkan pernyataan bernada ejekan kepada para pengkritik. Menurutnya, seorang pemimpin semestinya tidak menyerang balik rakyat yang menyampaikan kritik.
“Enggak layak menurut saya, iya. Seharusnya jangan mengejek orang yang mengkritik, gitu ya. Karena ya tidak etislah ya dari sudut itu,” cetusnya.
Mahfud lantas membandingkan dengan pemimpin negara lain yang dikritik oleh rakyatnya, tetapi tidak melakukan serangan balik. Ia menilai sikap defensif dengan menyerang balik justru tidak diperlukan dalam menghadapi kritik.
“Nah, ketika masalah itu dikatakan atau dibahas oleh para pakar di dalam negeri, lalu selalu defensif, malah menyerang balik. Kalau defensif itu ya diam aja, kalau Pak Prabowo kan menyerang balik bilang profesor goblok, apa goblok, gitu,” imbuhnya.
Kronologi Polemik Goblok
Polemik ini bermula dari sambutan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional pada 18 September. Dalam kesempatan itu, Prabowo menyinggung sejumlah pakar yang menurutnya melontarkan kritik hingga fitnah terhadap gagasan pemerintah.
Dalam konteks itulah ia melontarkan pernyataan, “Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok.” Prabowo juga menekankan bahwa seorang cendekiawan harus mempunyai kejujuran intelektual.
Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan publik. Mahfud MD termasuk salah satu tokoh yang menanggapi. Ia menilai kritik seharusnya dijawab dengan argumen, bukan dengan ejekan. Menurutnya, perbedaan pendapat antara pemerintah dan kalangan akademik merupakan hal wajar dalam kehidupan demokrasi.
Dalam penjelasannya, Mahfud memberi contoh Idi Amin sebagai gambaran pemimpin negara yang dinilai tidak memiliki kualitas baik. Ia tidak menyebut Prabowo sebagai presiden yang ia maksud. Hal ini penting dicatat agar tidak terjadi salah tafsir atas pernyataannya.
Kritik dan Etika Pemimpin
Mahfud menegaskan bahwa tidak ada jabatan yang membuat manusia otomatis benar. Gelar profesor tidak menjadikan seluruh pendapat seseorang sebagai kebenaran ilmiah. Sebaliknya, kemenangan dalam pemilihan umum dan jabatan Presiden Republik Indonesia juga tidak menjadikan seluruh keputusan seorang presiden otomatis benar.
Karena itu, ia menilai kritik dari kalangan pakar seharusnya disikapi dengan lapang dada. Menurutnya, kepala negara justru perlu memberi contoh dalam berdemokrasi, termasuk ketika menghadapi pandangan yang berbeda.
Pernyataan Mahfud ini menambah panjang daftar tanggapan publik atas ucapan Prabowo. Sejumlah kalangan menilai diksi “goblok” kurang tepat digunakan oleh seorang kepala negara, terutama ketika ditujukan kepada kelompok akademik yang menyampaikan kritik.
Di sisi lain, perdebatan mengenai kualitas pakar dan pemimpin bukan hal baru. Publik kerap mempertanyakan independensi dan kualitas argumentasi para pakar, sementara pemerintah juga sering dinilai tidak responsif terhadap kritik. Polemik ini memperlihatkan bahwa hubungan antara pemerintah dan kalangan akademik masih menyisakan ketegangan.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana pemerintah menanggapi kritik dari kalangan pakar ke depan. Apakah akan dijawab dengan argumen substansi, atau kembali dengan pernyataan yang bersifat menyerang pribadi. Sebab, kualitas demokrasi juga diukur dari cara pemimpin memperlakukan kritik.
Mahfud MD sentil Prabowo yang sebut pakar goblok: Presiden juga banyak yang goblok, tahu contohnya? Pernyataan itu menjadi penanda bahwa perdebatan soal etika pemimpin dan kritik akademik belum selesai. Publik menunggu sikap resmi pemerintah atas polemik ini.










