Cakrawala News – 12 Oktober 2026 | Mahfud MD ungkap pergantian Listyo Sigit dari Kapolri sempat gagal 3 kali: Jokowi & Gibran menghadap menjadi sorotan publik. Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan itu menilai pencopotan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri baru benar-benar terwujud pada 1 Oktober 2026 setelah sebelumnya beberapa kali direncanakan namun tak pernah terlaksana.
Menurut Mahfud, keputusan pergantian Kapolri kali ini sengaja disampaikan secara mendadak agar tidak kembali mengalami kegagalan seperti sebelumnya. Ia menyampaikan analisis tersebut dalam tayangan YouTube miliknya, yang dikutip pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Dalam pernyataannya, Mahfud secara khusus menyinggung peran Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam dinamika pergantian Kapolri sebelumnya. Ia menduga salah satu penyebab gagalnya rencana pergantian itu berkaitan dengan kedatangan Gibran untuk menghadap, sebuah hal yang menurutnya tidak pernah terjadi sebelumnya.
“Kenapa kepada Listyo mendadak? Menurut saya masalahnya karena sebelumnya pernah mau diganti lagi, lalu tiba-tiba nggak jadi karena beritanya Gibran datang menghadap, yang selama ini nggak pernah menghadap lalu menghadap,” kata Mahfud.
Indikasi Keputusan yang Benar-benar Mendadak
Mahfud menilai salah satu tanda bahwa keputusan pergantian Kapolri benar-benar dilakukan secara mendadak terlihat dari agenda Listyo Sigit pada hari penggantian. Saat itu, Listyo masih mengikuti upacara di Lubang Buaya bersama Presiden Prabowo Subianto sebelum kemudian mendapat pemberitahuan mengenai pergantian dirinya.
Ia kemudian mengaitkan dinamika tersebut dengan beberapa upaya pergantian Kapolri yang sebelumnya disebut tidak terlaksana. Menurut Mahfud, Presiden Prabowo kali ini memilih untuk tidak memberi tahu lebih awal agar rencana tersebut tidak kembali kandas.
Mahfud MD ungkap pergantian Listyo Sigit dari Kapolri sempat gagal 3 kali: Jokowi & Gibran menghadap, sehingga ia menilai taktik pemberitahuan mendadak menjadi pilihan untuk menghindari pengulangan kegagalan.
“Yang terakhir ini menurut saya Pak Prabowo mengambil taktik ini, nggak usah diberitahu dulu. Makanya pemberitahuannya mendadak tanggal 1. Jangan sampai berulang tiga kali sebelumnya yang selalu gagal,” ucap dia.
Peran Sufmi Dasco dan Proses Cepat di DPR
Di balik proses pergantian tersebut, Mahfud turut menyoroti peran Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad. Ia menilai langkah Dasco dalam mengawal proses pergantian Kapolri berlangsung dengan cepat, mulai dari pengumuman hingga proses uji kelayakan dan kepatutan di DPR.
Mahfud menduga surat terkait pergantian Kapolri sudah berada di tangan Dasco pada malam sebelumnya, namun baru diumumkan dan disampaikan ke DPR setelah upacara di Lubang Buaya selesai. Menurutnya, setelah itu Dasco muncul mengantarkan Suyudi dan pihak terkait lainnya.
“Ini analisis saya, pastilah malamnya itu sudah Dasco yang pegang suratnya tapi diumumkan dan disampaikan ke DPR sesudah upacara di Lubang Buaya, baru muncul Dasco yang mengantarkan Pak Suyudi dan sebagainya,” ujar Mahfud.
Pernyataan Mahfud ini menambah lapisan konteks pada proses transisi kepemimpinan di tubuh Polri. Ia menyoroti bahwa rangkaian peristiwa tersebut tidak sekadar soal penggantian pejabat, tetapi juga mencerminkan cara pengambilan keputusan politik di tingkat tertinggi pemerintahan.
Isu mengenai Mahfud MD ungkap pergantian Listyo Sigit dari Kapolri sempat gagal 3 kali: Jokowi & Gibran menghadap juga menjadi perhatian karena menyangkut dua nama besar, yakni Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. Namun perlu dicatat, pernyataan Mahfud merupakan analisis dan pandangan pribadinya, bukan pernyataan resmi dari istana atau lembaga terkait.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan dalam pernyataan Mahfud, termasuk mengenai dugaan keterlibatan Gibran maupun peran Dasco. Publik pun menantikan klarifikasi lebih lanjut agar dinamika pergantian Kapolri dapat dipahami secara utuh.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana proses uji kelayakan dan kepatutan di DPR berjalan, serta apakah pernyataan Mahfud akan memicu respons dari istana, DPR, maupun Polri. Dinamika ini akan menentukan arah pemberitaan politik keamanan dalam beberapa hari ke depan.






