Jawa  

Menu MBG Diduga dari Telur Bolognese dan Mix Sayur, Ratusan Siswa di Batang Keracunan

Menu MBG Diduga dari Telur Bolognese dan Mix Sayur, Ratusan Siswa di Batang Keracunan
Menu MBG Diduga dari Telur Bolognese dan Mix Sayur, Ratusan Siswa di Batang Keracunan

Cakrawala News – 27 September 2026 | Menu MBG yang Buat Ratusan Siswa Keracunan di Batang Diduga dari Telur Bolognese dan Mix Sayur menjadi sorotan setelah ratusan siswa dan orang tua di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tumbang usai menyantap makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Menu yang dibagikan pada Selasa (22/9/2026) itu terdiri atas nasi, telur bolognaise, mix sayur, tahu mendoan, dan buah anggur. Keluhan mual dan pusing muncul beberapa jam setelah makanan disantap siswa di sekolah sekitar pukul 11.00 WIB.

Hingga Rabu (23/9/2026), jumlah warga yang diduga menjadi korban mencapai 276 orang. Mereka berasal dari siswa dan orang tua siswa di 11 sekolah, yakni SDN 1 Bawang, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Qurota ‘Ayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.

Wakil Bupati Batang Suyono menyatakan bahwa sebagian orang tua ikut mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka. “Pukul 20.38 WIB, total 275 yang terdaftar di Bawang. Jadi perkembangan tetap kita tunggu, yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir,” ucapnya saat meninjau korban di RSUD Batang, Rabu malam.

Dugaan Sementara Mengarah ke Olahan Telur

Dari keterangan para korban, salah satu menu yang dicurigai menjadi pemicu adalah olahan telur. Meski demikian, pemerintah daerah belum menyimpulkan bahan atau menu tertentu sebagai penyebab. Suyono menegaskan bahwa pihaknya menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum menarik kesimpulan.

Sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Batang untuk diperiksa. Pemerintah meminta semua pihak tidak menyimpulkan penyebab dugaan keracunan sebelum hasil laboratorium keluar. SPPG yang memasok MBG ke 11 sekolah tersebut juga sudah dihentikan sementara operasionalnya.

Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan sejumlah ketidakpatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam pemeriksaan di SPPG Kecamatan Bawang. Salah satunya adalah telur yang diolah sejak malam. Selain itu, BGN menyoroti kondisi kebersihan pada beberapa bagian SPPG yang perlu mendapat perhatian.

Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menyatakan pihaknya belum menyimpulkan temuan tersebut sebagai penyebab gangguan kesehatan. “Kami sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi. Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum seluruh pemeriksaan selesai. Semua harus berdasarkan fakta dan hasil investigasi,” tegasnya.

BGN juga mencatat adanya pelanggaran lain, yakni sebagian makanan dibawa pulang oleh penerima manfaat. Atas temuan itu, BGN menjatuhkan sanksi suspend berat, mencopot Kepala SPPG Bawang, dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk investigasi menyeluruh.

SPPG Dibekukan 30 Hari, Penutupan Permanen Masih Mungkin

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Hadiriajaya, mengatakan SPPG Bela Batang Sejahtera telah dibekukan operasionalnya selama 30 hari. Menurutnya, dengan jumlah korban yang mencapai ratusan, sanksi yang dijatuhkan adalah penangguhan atau suspend berat.

“Penghentian sementara tersebut masih dapat berkembang menjadi penutupan permanen apabila hasil evaluasi menemukan unsur-unsur pelanggaran yang memenuhi ketentuan. Ditemukan unsur-unsur yang melanggar, bisa mungkin dikenakan penghentian operasional selamanya,” ujar Hadiriajaya seusai meninjau SPPG tersebut, Jumat (25/9/2026).

Ia menambahkan bahwa keberlanjutan operasional SPPG akan ditentukan berdasarkan hasil investigasi dan evaluasi. KPPG Semarang akan mengevaluasi secara mendalam SPPG tersebut dan SPPG lain untuk memastikan program MBG berjalan sesuai ketentuan.

Terkait penanganan korban, Hadiriajaya menyebut hal itu akan dibahas BGN bersama Pemkab Batang. Mengenai kemungkinan kompensasi, ia masih menunggu arahan lebih lanjut dari BGN. Pemkab Batang sebelumnya memastikan akan menanggung biaya perawatan korban dan menyiapkan bantuan bagi keluarga yang mendampingi pasien selama perawatan, sebesar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per hari per keluarga.

Kapasitas Kesehatan dan Perkembangan Korban

Suyono mengungkapkan bahwa SPPG yang memasok MBG ke 11 sekolah di Kecamatan Bawang melayani sekitar 2.700 penerima manfaat. Ia memastikan pemerintah terus mendata dan memantau perkembangan jumlah korban. Kapasitas rumah sakit di wilayah Batang menjadi perhatian karena jumlah pasien berpotensi bertambah.

“Kalau di Batang semua penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap. Masih ada di Bandar, itu kan bisa untuk menampung sebagian,” ujar Suyono. Ia juga menginstruksikan RSUD Batang memberikan penanganan maksimal kepada para korban.

Hingga Jumat (25/9/2026), tercatat 498 orang menjalani pemeriksaan. Jumlah ini menunjukkan bahwa dampak kejadian masih terus dipantau oleh pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan.

Kasus ini menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap seluruh rantai produksi dan distribusi MBG, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian, hingga distribusi. Hasil investigasi dan evaluasi KPPG Semarang bersama BGN akan menjadi dasar penentuan nasib SPPG Bela Batang Sejahtera, apakah tetap beroperasi dengan perbaikan atau ditutup permanen. Pemerintah daerah juga masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami ratusan warga tersebut.

Exit mobile version