Cakrawala News – 21 September 2026 | Kala gelaran final MTQ 2026 di Jateng pukau ribuan manusia [titlebase] menjadi momen puncak Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI yang berlangsung di Kota Semarang. Ribuan penonton dari berbagai kalangan memadati Lapangan Pancasila, Simpang Lima, untuk menyaksikan para qari dan qariah terbaik tanah air melantunkan ayat suci Al-Qur’an hingga malam penutupan, Sabtu (19/9/2026).
Gelaran yang berlangsung sembilan hari itu resmi berakhir dengan Kalimantan Timur keluar sebagai juara umum. Tuan rumah Jawa Tengah menempati posisi kedua atau runner-up, disusul DKI Jakarta di peringkat ketiga.
Simpang Lima Memutih oleh Ribuan Penonton
Suasana final cabang Seni Baca Al-Qur’an Golongan Dewasa menjadi salah satu momen paling berkesan. Sesi yang dimulai sekitar pukul 22.00 WIB, Jumat (18/9/2026), itu tidak menyurutkan antusiasme penonton yang duduk bersila dengan rapi di lapangan.
Pada Golongan Dewasa Putri, finalis yang menembus babak pamungkas berasal dari Nusa Tenggara Barat, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur. Sementara di Golongan Dewasa Putra, persaingan menghadirkan finalis dari DKI Jakarta, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat.
Rudi Ahmad, penonton asal Provinsi Papua Tengah, mengaku takjub dengan penyelenggaraan MTQ kali ini. Menurutnya, penataan panggung sangat megah dan keramahan warga Semarang luar biasa. Ia juga menyebut baru kali ini melihat penonton seramai itu dan tetap khidmat hingga akhir.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, yang turut menyaksikan final dari tengah masyarakat, mengapresiasi penonton yang bertahan mengikuti perlombaan sampai selesai. Ia menilai antusiasme masyarakat menunjukkan kedekatan mereka dengan Al-Qur’an.
Jateng Melompat dari Peringkat 16 ke Runner-up
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut capaian runner-up sebagai hasil kerja keras kafilah daerahnya. Ia mengingatkan bahwa pada gelaran sebelumnya di Kalimantan Timur, Jawa Tengah hanya menempati peringkat ke-16.
“Alhamdulillah. Jawa Tengah sukses. Dari peringkat 16 menjadi peringkat dua nasional. Ini usaha yang luar biasa sekali,” kata Ahmad Luthfi dalam keterangan tertulis, Minggu (20/9/2026).
Luthfi menjelaskan, kafilah Jawa Tengah sebelumnya diasramakan, dilatih, dan diberi materi secara serius. Pembinaan itu dilakukan di bawah bimbingan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen selaku Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengah.
Hasil keputusan Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI menetapkan Kalimantan Timur sebagai juara umum dengan nilai 288. Jawa Tengah berada di posisi kedua dengan nilai 208, disusul DKI Jakarta dengan nilai 129.
Posisi berikutnya ditempati Aceh dan Jawa Timur dengan nilai masing-masing 99, Sumatera Utara dan Jawa Barat masing-masing 71, Sumatera Selatan 55, Banten 52, Riau 35, Nusa Tenggara Barat 33, serta Sulawesi Selatan 31.
Jawa Tengah sendiri mengirimkan 67 kafilah yang telah melalui seleksi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. Dari jumlah tersebut, 30 peserta berhasil melaju ke babak final.
Pembinaan Berkelanjutan Jadi Sorotan
Bagi Taj Yasin, keberhasilan MTQ tidak semata diukur dari siapa yang menjadi juara. Menurutnya, berakhirnya kompetisi justru menjadi momentum memperkuat pembinaan Al-Qur’an secara berkelanjutan.
Ia mendorong kaderisasi peserta, peningkatan kompetensi pelatih dan dewan hakim, serta penguatan lembaga pendidikan Al-Qur’an terus dilakukan sepanjang waktu.
“Pembinaan harus berjalan sepanjang waktu melalui kaderisasi peserta, peningkatan kompetensi pelatih dan dewan hakim, serta penguatan lembaga pendidikan Al-Qur’an,” kata Taj Yasin saat penutupan MTQ Nasional XXXI di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai capaian Jawa Tengah sebagai runner-up merupakan loncatan prestasi yang luar biasa dan patut diapresiasi. Menurutnya, hal itu membuktikan pembinaan LPTQ di Jawa Tengah berjalan baik.
“Ini suatu bukti bahwa di mana ada usaha, di situ pasti ada hasil; di mana ada perjuangan, di situ ada janji yang sangat disimpan,” kata Nasaruddin.
Ia juga mengacungi jempol kepada Jawa Tengah selaku tuan rumah dan menyatakan tidak ada kendala teknis maupun nonteknis yang berarti selama gelaran berlangsung. Nasaruddin memberikan ucapan selamat kepada para juara dan juara umum.
Dampak Ekonomi dan Pesan Kedamaian
Selain prestasi, MTQ Nasional di Jawa Tengah turut menggerakkan perekonomian daerah. Ahmad Luthfi menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perputaran transaksi mencapai Rp 1,3 triliun selama sembilan hari penyelenggaraan.
Luthfi juga menyoroti dampak sosial gelaran ini di tengah gempuran disinformasi, ujaran kebencian, hingga kampanye hitam di media massa. Menurutnya, MTQ menghadirkan narasi kebenaran sehingga suasana Jawa Tengah menjadi lebih aman dan nyaman.
“Di media massa dipenuhi disinformasi, adanya hate speech, black campaign, sehingga dengan MTQ menceritakan kebenaran, sehingga hikmahnya Jateng adem ayem,” sebutnya.
Dengan berakhirnya MTQ Nasional XXXI, perhatian kini tertuju pada keberlanjutan pembinaan kafilah daerah menjelang gelaran berikutnya. Bagi Jawa Tengah, lonjakan prestasi dari peringkat 16 ke posisi runner-up menjadi modal sekaligus tantangan untuk menjaga konsistensi pembinaan Al-Qur’an di semua tingkatan.
Gelaran final MTQ 2026 di Jateng pukau ribuan manusia [titlebase] sekaligus menegaskan posisi Simpang Lima sebagai panggung syiar Al-Qur’an yang mampu menyatukan masyarakat dari berbagai daerah, dari Papua Tengah hingga Kalimantan Timur.






