MTQ Nasional XXXI di Semarang Resmi Dibuka, 2.242 Peserta dari 37 Provinsi Berlaga

MTQ Nasional XXXI di Semarang Resmi Dibuka, 2.242 Peserta dari 37 Provinsi Berlaga
MTQ Nasional XXXI di Semarang Resmi Dibuka, 2.242 Peserta dari 37 Provinsi Berlaga

Cakrawala News – 14 September 2026 | Dari Jawa Tengah, MTQ Nasional XXXI pancarkan kedamaian dan pererat kebersamaan. Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 resmi dibuka di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (12/9/2026) malam, diikuti 2.242 peserta dari 37 provinsi yang akan berkompetisi hingga 20 September 2026.

Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan bedug oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno. Turut hadir Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, para gubernur dan wakil gubernur, serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama dari berbagai daerah.

Ribuan pengunjung memadati Lapangan Pancasila sejak sore. Suasana malam pembukaan menjadi panggung kebersamaan lintas daerah, dengan kafilah dari berbagai penjuru Nusantara membawa identitas budaya masing-masing.

Delapan Cabang dan 48 Kategori

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama sekaligus Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), Abu Rokhmad, menyampaikan bahwa para peserta akan berkompetisi dalam delapan cabang, 24 golongan, dan 48 kategori musabaqah.

“MTQ Nasional sebagai instrumen pembinaan Al-Qur’an yang inklusif dan menjangkau lintas generasi,” ujar Abu Rokhmad saat menyampaikan laporan penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI di Semarang.

Menurut Abu Rokhmad, kategori yang dilombakan mencakup hafalan satu juz hingga 30 juz serta tafsir Al-Qur’an dalam tiga bahasa. Keragaman cabang tersebut, katanya, menunjukkan pembinaan Al-Qur’an tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menghafal, tetapi juga pemahaman, penafsiran, penulisan, dan pengembangan seni Al-Qur’an.

Untuk menjaga kualitas penilaian, penyelenggara menyiapkan 155 Dewan Hakim yang telah melalui tahapan penyiapan sesuai standar penyelenggaraan MTQ Nasional. “Independensi, objektivitas, dan profesionalitas Dewan Hakim menjadi variabel kunci yang kami jaga ketat agar hasil kompetisi tetap kredibel dan diterima oleh seluruh kafilah,” kata Abu Rokhmad.

Kompetisi berlangsung serentak di 12 venue yang tersebar di Kota Semarang, ditambah satu titik registrasi kafilah, sehingga total terdapat 13 titik operasional selama pelaksanaan MTQ Nasional XXXI.

Pesan Damai dari Jawa Tengah

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membuka perhelatan ini dengan seruan perdamaian dunia. Ia menekankan bahwa MTQ bukan sekadar ajang kompetisi keagamaan, melainkan ruang interaksi bagi masyarakat dari berbagai daerah dan latar belakang.

Di tengah situasi global yang diliputi ketegangan geopolitik dan konflik, Luthfi berharap perhelatan yang mempertemukan kafilah dari 37 provinsi ini dapat memancarkan suasana damai dari Jawa Tengah ke seluruh penjuru negeri, bahkan ke kancah internasional.

“Dunia dengan geopolitik yang tidak menentu, perang Amerika dengan Iran, Ukraina dengan Rusia, dagang USA dengan China. Tetapi hari ini Musabaqah Tilawatil Qur’an yang ada di Semarang, di Jawa Tengah, akan dipancarkan kedamaian di seluruh Indonesia dan di seluruh dunia,” ujar Ahmad Luthfi saat memberikan sambutan pembukaan.

Menurutnya, pesan damai tersebut selaras dengan esensi MTQ yang mempersatukan peserta dari beragam daerah dalam semangat persaudaraan. Kehadiran para kepala daerah dan kafilah dari berbagai penjuru Indonesia, kata dia, menjadi bukti bahwa Al-Qur’an mampu menjadi titik temu dalam kehidupan berbangsa.

Luthfi juga mengingatkan pentingnya menjaga persaingan antarkafilah tetap sehat dan sportif. Ia mengapresiasi Kalimantan Timur sebagai juara umum MTQ Nasional sebelumnya meski memiliki populasi lebih kecil dari Jawa Tengah, yang menurutnya menunjukkan MTQ memberi kesempatan sama bagi setiap peserta.

“Jauh dari kepentingan apa pun, termasuk lebih penting hanya sekitar juara. Tetapi saya meyakini di hati kami yang paling dalam bahwa seluruh peserta adalah juara di hadapan Allah SWT karena telah membaca dan mengamalkan Al-Qur’an,” tutur Luthfi.

Dari Jawa Tengah, MTQ Nasional XXXI pancarkan kedamaian dan pererat kebersamaan, termasuk melalui pesan inklusivitas yang diusung penyelenggara. MTQ XXXI menghadirkan cabang ekshibisi Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas sensorik tuli serta pemanfaatan mushaf Al-Qur’an isyarat.

“Ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi semua, tidak boleh ada seseorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur’an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” papar Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Menag menyebut MTQ sebagai pesta rakyat paling besar di seluruh Indonesia. Ia berharap MTQ mampu menjadi momentum untuk menyambungkan kembali bacaan dengan tindakan, hafalan dengan pengamalan, serta pengetahuan dengan keteladanan.

Nilai-nilai Al-Qur’an, kata Menag, perlu hadir dalam berbagai ruang kehidupan. Dalam keluarga, nilai tersebut antara lain tercermin melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, dan sikap saling menghormati. Dalam lingkungan kerja, nilai Qurani dapat diwujudkan melalui amanah, kedisiplinan, profesionalisme, dan pelayanan yang adil.

Ia juga mengingatkan agar kedekatan dengan Al-Qur’an tercermin dalam integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan kewenangan, menjauhi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, serta menjaga kepercayaan masyarakat. “Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan, dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” katanya.

Rekor MURI dan Dukungan Lintas Agama

Pembukaan MTQ Nasional XXXI juga mencatatkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Sebanyak 288.219 peserta menyanyikan Mars MTQ Nasional XXXI secara serentak, baik langsung maupun daring, dari total peserta tersebut 24.957 orang hadir langsung di Simpang Lima, sementara 263.262 peserta lainnya mengikuti dari sekolah jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK di seluruh Kota Semarang melalui sambungan daring.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menilai rekor ini bukan hanya soal jumlah. Menurutnya, Gema Mars MTQ menjadi potret bagaimana perhelatan keagamaan bisa menjadi ruang persaudaraan.

“Rekor ini adalah simbol kebersamaan. Malam ini kita melihat bahwa MTQ milik seluruh masyarakat, sekaligus menjadi ruang bersama untuk merawat persaudaraan dan kebhinekaan,” kata Agustina dalam keterangan resmi, Minggu (13/9).

Gambaran kebersamaan itu terlihat nyata. Sebanyak 10.867 warga lintas agama turut hadir di lokasi utama dan menyanyikan mars yang sama. Mereka berasal dari unsur ASN, santri, guru, serta perwakilan komunitas Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Bagi Agustina, kehadiran beragam latar belakang dalam satu panggung mencerminkan wajah Semarang yang terbuka dan ramah, sejalan dengan filosofi Warak Ngendog yang selama ini menjadi simbol persatuan warga kota.

Dukungan lintas agama juga tampil melalui Paduan Suara Akbar yang digelar di Simpang Lima, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Minggu (13/9). Puluhan orang dari berbagai gereja membawakan tiga lagu, yakni ‘Semua Karena Cinta’, ‘Rukun Persaudaraan’, dan ‘Gambang Semarang’.

Penyelenggara Kristen Kementerian Agama Kota Semarang sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan Pesparawi Daerah (LPPD) Kota Semarang, Kristiani Ambarwati, mengatakan Paduan Suara Akbar menjadi bentuk dukungan lintas agama terhadap pelaksanaan MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang.

“Kami Padus Akbar memang tergabung dari 87 gereja dan ada yang mengutus beberapa perwakilan. Sebetulnya anggota kami 300, tetapi karena dadakan, kami baru menampilkan sedikit orang,” ujar Kris. Ia menyebut pemilihan lagu ‘Semua Karena Cinta’ untuk menggambarkan persaudaraan dan rasa saling mencintai antarmasyarakat, sementara ‘Gambang Semarang’ menjadi wujud identitas Kota Semarang. Persiapan penampilan tersebut dilakukan dalam waktu singkat, bahkan latihan untuk lagu ‘Gambang Semarang’ baru dilakukan sehari sebelum tampil.

Bagi para kafilah, kemeriahan pembukaan meninggalkan kesan mendalam. Ayas Lukman Hakim, peserta dari Provinsi Banten, mengaku terkesan dengan kesiapan panitia.

Dengan rangkaian kompetisi yang berlangsung hingga 20 September 2026, MTQ Nasional XXXI di Semarang menjadi ruang pembinaan Al-Qur’an sekaligus panggung kebersamaan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Publik menantikan hasil penilaian Dewan Hakim serta bagaimana nilai-nilai yang digaungkan pada pembukaan dapat terus hidup setelah perhelatan berakhir.

Exit mobile version