Cakrawala News – 22 September 2026 | Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mundur jadi pengurus Golkar 6 bulan lalu, Sarmuji: Mungkin ingin fokus ke hal lain. Kabar pengunduran diri politisi Partai Golkar itu dibenarkan langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar M. Sarmuji, yang menyebut Nusron telah meninggalkan posisinya di kepengurusan partai berlambang pohon beringin tersebut sejak beberapa bulan silam.
“Sudah lama. Seingat saya lebih dari enam bulan lalu,” ujar Sarmuji saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (19/9/2026).
Sebelum mengundurkan diri, Nusron tercatat menjabat sebagai Ketua Bidang Keagamaan dan Kerohanian DPP Partai Golkar. Dengan pengunduran diri tersebut, menurut Sarmuji, Nusron kini berstatus sebagai anggota atau kader biasa di Partai Golkar.
Ajukan Mundur Langsung ke Bahlil
Sarmuji menjelaskan bahwa Nusron mengajukan pengunduran dirinya secara langsung kepada Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui alasan persis di balik keputusan tersebut.
“Mungkin ingin fokus ke hal lain,” kata Sarmuji.
Pernyataan Sarmuji itu sekaligus menegaskan bahwa Nusron tidak lagi duduk dalam struktur kepengurusan harian partai, meski statusnya sebagai kader tetap melekat.
Nusron Bungkam soal Alasan
Nusron sendiri membenarkan isu pengunduran dirinya dari kepengurusan Partai Golkar. Ditemui usai rapat di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/9/2026), ia mengaku telah berdiskusi dengan Bahlil mengenai langkah tersebut sejak tahun lalu.
“Kalau soal itu kami sudah lama diskusi dengan Pak Bahlil dari tahun lalu. Jadi selebihnya lebih baik tanyakan sama Pak Bahlil selaku ketua umum. Kami sudah pernah diskusi masalah itu lama,” kata Nusron.
Namun, ketika ditanya soal alasan spesifik dirinya mundur dari kepengurusan Partai Golkar, Nusron enggan memberikan jawaban. Ia juga tidak menanggapi pertanyaan ihwal fokus atau agenda kerja yang akan dilakukannya ke depan setelah tidak lagi menjadi bagian dari kepengurusan partai.
Dalam kesempatan itu, Nusron bahkan meminta awak media mengonfirmasi langsung alasan pengunduran dirinya kepada Bahlil Lahadalia selaku ketua umum partai.
Tak Terkait Dugaan Kasus Korupsi
Sarmuji memastikan bahwa kemunduran Nusron dari kepengurusan Partai Beringin tidak ada sangkut pautnya dengan dugaan kasus korupsi yang menyeret namanya. Pernyataan itu disampaikan di tengah sorotan publik terhadap isu hukum yang menyeret sejumlah pejabat.
Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dilaporkan melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di kawasan Jabodetabek pada 14 September 2026. Sejumlah pemberitaan juga menyebut adanya penggeledahan yang berkaitan dengan Kementerian ATR/BPN. Meski demikian, tidak ada keterangan resmi yang secara langsung mengaitkan pengunduran diri Nusron dengan rangkaian peristiwa hukum tersebut.
Pernyataan Sarmuji bahwa pengunduran diri itu tak berkaitan dengan dugaan kasus korupsi menjadi penegasan penting, mengingat isu tersebut mencuat bersamaan dengan kabar mundurnya Nusron dari kepengurusan partai.
Posisi Nusron di Pemerintahan
Hingga kini, Nusron masih menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Ia tetap aktif menghadiri agenda pemerintahan, termasuk rapat di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta.
Pengunduran diri dari kepengurusan partai disebut tidak memengaruhi posisinya di kabinet. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut bisa dibaca sebagai upaya menjaga fokus kerja di kementerian yang membidangi pertanahan dan tata ruang, meski Nusron sendiri enggan mengonfirmasi hal itu.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Nusron sempat tertawa melihat situasi saat dirinya dikerubungi belasan pewarta. Namun, raut wajahnya berubah datar ketika pertanyaan soal keanggotaan di Golkar dan pengetahuannya tentang kasus dugaan korupsi di Kementerian ATR terus dilontarkan.
“Mohon maaf, saya punya privasi untuk jalan. Boleh tidak saya jalan,” katanya.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Pengunduran diri Nusron dari kepengurusan Partai Golkar menambah panjang dinamika internal partai berlambang beringin. Meski disebut telah berlangsung lebih dari enam bulan, kabar ini baru mencuat ke publik belakangan, seiring sorotan terhadap isu hukum di lingkungan Kementerian ATR/BPN.
Publik masih menantikan penjelasan resmi dari Bahlil Lahadalia selaku ketua umum, termasuk mengenai alasan di balik keputusan Nusron. Sampai saat itu tiba, pernyataan Sarmuji bahwa Nusron mundur jadi pengurus Golkar 6 bulan lalu, Sarmuji: Mungkin ingin fokus ke hal lain, menjadi keterangan paling gamblang yang tersedia.
Yang jelas, status Nusron kini hanya sebagai kader biasa Partai Golkar. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada sikap resmi DPP Partai Golkar dan penjelasan dari Nusron maupun Bahlil mengenai arah politik ke depan.
