Cakrawala News – 15 September 2026 | Olivia Rodrigo pakai dress dari brand Palestina yang nyaris tutup, begini cerita di baliknya! Penyanyi asal Amerika Serikat itu mengenakan mini dress baby pink custom dari Nöl Collective, label fashion asal Ramallah, Palestina, saat tampil di festival Daisy Chain Fields di California pada akhir Agustus 2026. Pilihan busana tersebut bukan sekadar pernyataan gaya, melainkan membawa cerita panjang tentang perjuangan pengrajin tradisional Palestina yang hampir kehilangan ruang untuk berkarya.
Dress yang dikenakan Olivia dibuat khusus oleh Nöl Collective, merek yang didirikan oleh Yasmeen Mjalli. Busana tersebut mengusung teknik bordir tatreez, sulam tradisional Palestina yang menjadi bagian penting dari identitas budaya setempat. Motif burung dan rangkaian bunga daisy saling terhubung di permukaan dress, menghadirkan detail yang manis sekaligus sarat makna.
Motif Burung dan Daisy yang Sarat Makna
Dalam desain yang dibagikan melalui akun Instagram Nöl Collective, motif burung pada dress tersebut disebut merepresentasikan kebebasan dan pergerakan. Sementara rangkaian bunga daisy terasa semakin pas karena festival yang dihadiri Olivia memang bernama Daisy Chain Fields. Kombinasi keduanya membuat dress tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menyimpan pesan yang dalam.
Selain bordir tradisional, dress tersebut memiliki sejumlah detail yang membuat tampilannya semakin feminin. Siluet mini dress berwarna baby pink itu dinilai cocok dengan karakter panggung Olivia, sekaligus menonjolkan keindahan teknik sulam yang dikerjakan tangan.
Dikerjakan Kurang dari Sepekan
Permintaan untuk membuat dress Olivia datang dengan waktu yang sangat terbatas. Yasmeen Mjalli dan tim Nöl Collective hanya memiliki waktu kurang dari sepekan untuk menyelesaikannya. Bersama Vogue Arabia, mereka merekam proses tersebut sejak awal.
Tim sebelumnya sudah memiliki rencana bahan yang akan digunakan, namun material yang dibutuhkan tidak tersedia. Karena keterbatasan kain, tim kemudian menemukan kain raw silk berwarna baby pink di Ramallah. Dari sana, kain tersebut dibawa ke Bethlehem untuk mulai diproses menjadi pakaian yang akan dikenakan Olivia.
Dalam prosesnya, sejumlah pengrajin Palestina terlibat. Nöl Collective menyebut Paman Ibrahim dan Bibi Abdileh sebagai sosok yang memotong kain untuk dijadikan dress. Pengerjaan mencakup pemotongan raw silk, penjahitan, hingga bordir tatreez yang dikerjakan secara tradisional. Hasil akhirnya adalah sebuah mini dress dengan detail bordir yang mampu mengubah sesuatu yang sederhana menjadi cerita panjang ketika dipandang lebih dekat.
Pesanan Datang Saat Brand Hampir Tutup
Yang membuat kisah ini semakin menarik, pesanan dari Olivia datang ketika Nöl Collective hampir menghentikan operasi. Momen tersebut menjadi titik penting bagi brand asal Ramallah itu, sekaligus menyoroti jaringan artisan Palestina yang selama ini bertahan di tengah berbagai keterbatasan.
Kehadiran dress tersebut di panggung global disebut ikut membawa craftsmanship Palestina ke perhatian publik yang lebih luas. Teknik tatreez, yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi, kembali diperbincangkan melalui fashion kontemporer yang dikenakan musisi internasional.
Relevansi Teknik Tradisional di Dunia Mode
Gaya Olivia menunjukkan bagaimana teknik tradisional tetap bisa relevan dengan fashion zaman sekarang. Bordir tatreez yang identik dengan warisan budaya Palestina dipadukan dengan potongan modern dan warna lembut, menghasilkan busana yang tidak terkesan kuno. Pendekatan ini dinilai mampu memperkenalkan kekayaan budaya kepada audiens yang lebih muda.
Festival Daisy Chain Fields sendiri bertujuan merayakan perempuan dalam musik. Dengan momentum tersebut, penampilan Olivia dianggap sejalan dengan semangat perayaan itu, terutama karena dress yang dikenakannya lahir dari kerja kolektif sejumlah perempuan dan pengrajin di Palestina.
Konteks Industri Fashion dan Isu Global
Kisah dress Olivia mencuat di tengah dinamika industri fashion yang kerap bersinggungan dengan isu politik dan kemanusiaan. Sebelumnya, sejumlah warganet mengkritik keputusan rumah mode Ralph Lauren yang menggandeng Gal Gadot untuk kampanye Fall 2026. Kritik tersebut muncul karena latar belakang Gadot sebagai warga Israel dan dukungannya terhadap Israel.
Dalam pemberitaan yang beredar, sejumlah pengguna media sosial menyerukan boikot terhadap Ralph Lauren. Ada pula yang mengaku berhenti menjadi pelanggan dan memilih merek lain. Reaksi itu berkaitan dengan sikap Gadot yang secara terbuka mendukung Israel, sementara agresi militer Israel di Gaza, Palestina, masih berlanjut dan telah menewaskan puluhan ribu rakyat sipil.
Di sisi lain, langkah Olivia memakai dress dari label Palestina mendapat perhatian karena dianggap memberi ruang bagi karya pengrajin lokal. Perbedaan respons publik terhadap kedua kasus tersebut menunjukkan bagaimana pilihan busana di panggung hiburan dapat dengan cepat berkembang menjadi perbincangan yang lebih luas.
Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari perwakilan Olivia Rodrigo mengenai alasan pemilihan Nöl Collective. Namun, jejak kolaborasi tersebut sudah terekam dalam unggahan Nöl Collective dan laporan Vogue Arabia yang mengikuti proses pembuatannya.
Bagi Nöl Collective, pesanan ini menjadi penanda bahwa brand kecil dengan akar budaya kuat dapat menjangkau panggung global. Bagi publik, kisah Olivia Rodrigo pakai dress dari brand Palestina yang nyaris tutup, begini cerita di baliknya, menjadi pengingat bahwa di balik sebuah busana sering kali ada kerja panjang, keterampilan turun-temurun, dan perjuangan manusia yang layak untuk diketahui.










