Orang Kaya China Ramai-ramai Pindahkan Harta ke Bank AS, Ini Alasannya

Orang Kaya China Ramai-ramai Pindahkan Harta ke Bank AS, Ini Alasannya
Orang Kaya China Ramai-ramai Pindahkan Harta ke Bank AS, Ini Alasannya

Cakrawala News – 27 Oktober 2026 | Fenomena orang kaya China ramai-ramai pindahkan harta ke bank AS, ini alasannya menjadi sorotan setelah Beijing memperketat pengawasan terhadap kekayaan warga yang disimpan di luar negeri. Sejumlah keluarga kaya mulai mencari alternatif perbankan di Amerika Serikat, termasuk memindahkan aset dari Singapura dan Hong Kong ke rekening bank AS. Langkah ini muncul di tengah aturan pajak baru yang menyasar pendapatan dan keuntungan dari offshore trust atau perwalian aset di luar negeri.

Perpindahan dana tersebut penting dicermati karena kebijakan pajak di negara besar seperti China dapat memengaruhi cara investor mengelola kekayaan lintas negara. Kasus ini juga menunjukkan bahwa memindahkan uang ke negara lain tidak otomatis menghapus kewajiban pajak. Pertanyaannya, mengapa bank-bank AS menjadi pilihan baru, apa hubungannya dengan kebijakan pajak Beijing, dan apakah strategi ini benar-benar aman?

Aturan pajak baru picu kekhawatiran

Pemerintah China mulai memperketat pengawasan terhadap kekayaan warga yang tersimpan di luar negeri, termasuk aset yang ditempatkan melalui offshore trust. Pada Juli 2026, otoritas China menetapkan bahwa pendapatan dan keuntungan dari perwalian luar negeri milik wajib pajak yang berstatus residen pajak China dikenai pajak sebesar 20 persen.

Kebijakan itu membuat sejumlah pemilik kekayaan harus menghitung ulang kewajiban pajak mereka. Mereka pun mulai mencari nasihat hukum dan perpajakan untuk mengetahui berapa besar tagihan yang mungkin harus dibayarkan. Ketidakpastian besaran kewajiban inilah yang mendorong sebagian keluarga kaya menata kembali aset luar negeri mereka.

Bank AS dianggap lebih melindungi informasi

Salah satu alasan utama perpindahan dana adalah persepsi bahwa bank AS menawarkan perlindungan informasi lebih besar. Amerika Serikat diketahui tidak mengikuti pertukaran informasi otomatis CRS atau Common Reporting Standard bersama China. Ketiadaan pertukaran informasi otomatis itu membuat sebagian pemilik aset menilai rekening di AS lebih tertutup dibandingkan rekening di Singapura atau Hong Kong.

Penilaian tersebut pada akhirnya mendorong peningkatan permintaan rekening bank AS di kalangan orang kaya China. Mereka mencari tempat menyimpan dana yang dianggap memberi rasa aman lebih besar di tengah menguatnya pengawasan pajak di dalam negeri.

Pindah dana bukan berarti bebas pajak

Meski demikian, memindahkan uang ke AS tidak otomatis menghapus kewajiban pajak China bagi warga yang berstatus residen pajak. Rekening di bank AS tidak membatalkan tanggung jawab perpajakan tersebut. Riwayat transfer dana tetap dapat ditelusuri, sehingga perpindahan aset bukan jalan pintas untuk lepas dari kewajiban fiskal.

Selain itu, ruang untuk memindahkan aset dari China daratan dilaporkan semakin terbatas. Kondisi ini membuat strategi pemindahan dana ke luar negeri tidak selamanya mudah dilakukan dan memerlukan pertimbangan matang, termasuk risiko hukum serta perpajakan yang menyertainya.

Konteks kekayaan di China

Perbincangan soal perpindahan harta ini muncul di tengah dinamika kekayaan kelas atas China yang tetap menjadi perhatian pasar. Pada 19 Oktober 2026, lima miliarder China tercatat memimpin daftar orang dengan lonjakan kekayaan terbesar di dunia dengan peningkatan gabungan sebesar 3,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp66,5 triliun.

Lonjakan terbesar dialami Wang Xinxing, ketua sekaligus CEO Yushu Technology atau Unitree, yang kekayaannya naik 1,3 miliar dolar AS menjadi 9,1 miliar dolar AS. Di sisi lain, Chen Jianhua dari Hengli Group mencatat kenaikan kekayaan hingga 821 juta dolar AS, sementara Wang Liping dari Jiangsu Hengli Hydraulic menambah 623 juta dolar AS. Data ini menunjukkan bahwa konsentrasi kekayaan di China tetap besar, sehingga kebijakan pajak atas aset luar negeri berpotensi berdampak signifikan.

Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan orang kaya China ramai-ramai pindahkan harta ke bank AS, ini alasannya menjadi pengingat bahwa pengelolaan kekayaan lintas negara selalu terkait dengan aturan perpajakan di negara asal. Memilih yurisdiksi penyimpanan aset tidak menghapus tanggung jawab fiskal, dan setiap perpindahan dana meninggalkan jejak yang dapat ditelusuri otoritas.

Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana otoritas China menindaklanjuti aturan pajak 20 persen tersebut, seberapa besar permintaan rekening bank AS berlanjut, serta apakah muncul pengetatan baru terhadap arus modal keluar dari China daratan. Perkembangan ini akan menentukan arah pengelolaan kekayaan lintas negara bagi kalangan beraset besar di China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *