Cakrawala News – 03 Oktober 2026 | Pasukan AS resmi tinggalkan Irak, akhiri misi 2 dekade setelah seluruh personel militer Amerika Serikat mengosongkan pangkalan terakhir mereka di negara tersebut pada Rabu, 30 September 2026. Penarikan penuh ini menandai berakhirnya operasi militer yang dimulai sejak invasi tahun 2003 dan telah menewaskan lebih dari 4.500 prajurit AS.
Kepala juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan mitra-mitra koalisi secara resmi mengakhiri Operation Inherent Resolve in Iraq. Menurutnya, kepergian tertib pasukan koalisi beserta perlengkapannya dari Pangkalan Udara Erbil menandai akhir misi militer yang dinilai sukses dalam mengalahkan ISIS di Irak.
“Hari ini, Amerika Serikat dan mitra-mitra Koalisi kami secara resmi mengakhiri Operation Inherent Resolve in Iraq, sejalan dengan pernyataan bersama AS-Iraq pada September 2024 serta kepentingan nasional Amerika Serikat,” kata Parnell.
Keputusan penarikan ini merupakan bagian dari kesepakatan tahun 2024 pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, yang kemudian dilanjutkan pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Langkah tersebut diambil di tengah ketegangan bersenjata yang masih berlangsung antara AS dan Iran.
Klaim Kemenangan Trump dan Sambutan Iran
Presiden Donald Trump mengumumkan penarikan pasukan melalui akun X resmi Gedung Putih. Ia menyebut momen ini sebagai hari yang luar biasa bagi Amerika Serikat dan mengklaim kemenangan telak atas ISIS.
“Hari ini, dengan bangga saya umumkan bahwa pasukan Amerika terakhir sedang meninggalkan Irak!” kata Trump.
Trump juga mengapresiasi Perdana Menteri Irak yang baru, Ali al-Zaidi, yang ia klaim didukungnya sejak awal dan menang dengan keunggulan mutlak. Menurut Trump, Operation Inherent Resolve kini berakhir pada tahun 2026 di bawah kepemimpinannya, berbeda dengan situasi di Afghanistan yang meninggalkan banyak peralatan militer.
Di sisi lain, Iran menyambut positif penghentian misi pasukan asing tersebut. Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Amir Hayat Moqaddam, menyatakan bahwa keamanan abadi akan tercipta di Irak dan seluruh kawasan begitu pasukan Amerika pergi.
Kelompok bersenjata di Irak juga menyambut pengosongan pangkalan militer asing sebagai kemenangan bersejarah. Komandan Islamic Resistance di Iraq, Abu Mojtaba al-Yasiri, menyebut 30 September sebagai berakhirnya satu halaman kelam dalam sejarah Irak dan kegagalan pendudukan untuk memaksakan kehendaknya.
Kekhawatiran Kekosongan Kekuasaan dan Kebangkitan ISIS
Meski secara umum penarikan pasukan AS mendapat dukungan luas dari masyarakat Irak, sebagian pihak menilai langkah tersebut dilakukan terlalu dini. Tokoh masyarakat Fallujah, Abdulrahman al-Zobaie, mengungkapkan kekhawatiran bahwa kepergian pasukan asing akan menciptakan kekosongan kekuasaan.
“Semua warga Irak mendambakan kedaulatan, tetapi mereka takut kepergian pasukan asing akan menciptakan kekosongan kekuasaan,” ujar al-Zobaie.
Pakar keamanan Irak, Jasim al-Bahadli, memperkirakan kelompok milisi pro-Iran tidak hanya akan menggambarkan penarikan pasukan AS sebagai kemenangan, tetapi juga berupaya memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbesar pengaruh dalam pengambilan keputusan di bidang keamanan dan politik. Menurutnya, kepergian koalisi menghilangkan kehadiran militer yang selama bertahun-tahun menjadi penyeimbang terhadap pengaruh Teheran di Irak.
Selain itu, perwira militer Irak dan pejabat wilayah Kurdi mengkhawatirkan potensi ancaman dari jaringan sel tidur ISIS. Penghentian bantuan logistik, pengawasan drone, dan data intelijen dari AS dinilai memberi celah bagi kelompok radikal untuk bangkit kembali. Dinas intelijen Irak bahkan telah mendeteksi rencana aksi bom bunuh diri yang dirancang bertepatan dengan momen penarikan pasukan AS.
Pemerintah Irak meyakini bahwa penarikan pasukan koalisi tersebut menghilangkan alasan yang digunakan faksi-faksi militan dukungan Iran untuk mempertahankan senjata mereka.
Kelanjutan Misi di Suriah dan Yordania
Meski misi di Irak berakhir, US Central Command menyatakan bahwa Combined Joint Task Force-Operation Inherent Resolve (CJTF-OIR) masih beroperasi dan kini bermarkas di Yordania. Pasukan AS dilaporkan melanjutkan misi kontra-ISIS di Suriah bersama mitra koalisi dan pemerintah Suriah.
Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper memuji puluhan ribu anggota militer Amerika, diplomat, dan personel sipil yang ditugaskan di Irak. Menurutnya, berkat ketabahan, pengorbanan, dan profesionalisme mereka, ISIS tidak lagi menjadi ancaman sistemik bagi keamanan nasional Irak. Pasukan keamanan Irak, termasuk Peshmerga dan pasukan keamanan Wilayah Kurdistan Irak, dinilai kini memiliki kapasitas, kepemimpinan, dan kemandirian operasional untuk mengatasi ancaman terhadap tanah air mereka.
Berakhirnya kehadiran militer AS setelah lebih dari dua dekade menjadi titik balik penting bagi peta politik dan sistem keamanan Timur Tengah. Publik masih akan mencermati bagaimana pemerintah Irak menjaga stabilitas, menahan dominasi Iran, sekaligus mencegah kebangkitan kembali jaringan ekstremis di wilayah tersebut.








