Pasukan Houthi Kuasai Garis Pantai Yaman hingga Mencapai Bab al-Mandeb, Pasokan Minyak Dunia Terancam

Pasukan Houthi Kuasai Garis Pantai Yaman hingga Mencapai Bab al-Mandeb, Pasokan Minyak Dunia Terancam
Pasukan Houthi Kuasai Garis Pantai Yaman hingga Mencapai Bab al-Mandeb, Pasokan Minyak Dunia Terancam

Cakrawala News – 15 September 2026 | Pasukan Houthi kuasai garis pantai Yaman hingga mencapai pelayaran strategis Bab al-Mandeb setelah merebut sejumlah wilayah penting di pesisir Laut Merah, termasuk kota pelabuhan Mocha dan Pulau Mayun. Penguasaan ini memperketat cengkeraman kelompok yang bersekutu dengan Iran tersebut atas jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, sekaligus memicu kekhawatiran serius terhadap keamanan distribusi energi global.

Menurut laporan Al-Jazeera yang dikutip JawaPos.com pada Sabtu (12/9), perebutan Mocha pada Kamis (10/9) menjadi pukulan besar bagi pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Setelah menguasai Mocha, pasukan Houthi bergerak ke selatan pada Jumat (11/9) menuju wilayah Bab al-Mandeb dan menguasai Pulau Mayun yang terletak di jantung selat tersebut.

Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting dunia karena menghubungkan Laut Merah dan Terusan Suez dengan Teluk Aden. Sekitar 12 persen perdagangan global melewati selat itu setiap hari, sehingga perubahan kendali di kawasan tersebut berdampak langsung pada arus logistik internasional.

Lebih dari 500 Tentara Tewas dalam Sebulan

Pasukan pemerintah Yaman pada Minggu (13/9) menyatakan lebih dari 500 tentara tewas dan sekitar 1.500 lainnya luka-luka dalam pertempuran selama sebulan terakhir melawan Houthi di sepanjang pesisir barat Yaman. Dalam pernyataan yang disiarkan Al-Joumhouriya TV, Pasukan Perlawanan Nasional Pemerintah Yaman menyebut angka korban itu tercatat pada periode 9 Agustus hingga 10 September.

Pihak pemerintah Yaman juga mengeklaim lebih dari 1.000 anggota Houthi tewas dan ribuan lainnya luka-luka. Namun, angka-angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.

Pernyataan itu menyebutkan pertempuran diawali dengan serangan rudal, drone, dan perahu bermuatan bahan peledak yang dilancarkan Houthi, sebelum meluas dari Hays di bagian selatan Provinsi Hodeidah ke beberapa front di Provinsi Taiz, Yaman barat daya. Serangan besar-besaran Houthi pada 3 September disebut dengan cepat mengubah peta garis depan di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman.

Setelah merebut Mocha dan Pulau Mayun, pasukan Houthi bergerak lebih jauh ke selatan menuju Provinsi Lahj, tempat pasukan pemerintah yang mundur berkumpul kembali. Situasi ini membawa pertempuran semakin dekat ke Aden, pusat pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Serangan Udara Saudi dan Blokade Maritim

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, pada Minggu (13/9) waktu setempat menyatakan pihaknya melaporkan 58 serangan udara Arab Saudi dalam 24 jam terakhir. Laporan televisi Almasirah yang dikelola Houthi menyebutkan penerbangan Saudi melancarkan dua serangan di area Saada, basis pertahanan kelompok tersebut.

Almasirah juga melaporkan tembakan artileri menghujani area distrik perbatasan Monabbih di provinsi yang sama, serta dua serangan Saudi lainnya menghantam sebuah pasar di Provinsi Al-Jawf, Yaman utara. Houthi mengklaim lebih dari 100 serangan terhadap posisi mereka sejak Selasa (8/9) pekan lalu, meski hingga kini belum ada konfirmasi dari Riyadh.

Sejauh ini, serangan Saudi disebut menargetkan garis depan pertempuran untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman, tanpa menyasar pusat kekuatan utama Houthi termasuk ibu kota Sanaa. Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap Saudi dan menargetkan kapal-kapal Saudi di Laut Merah.

Bentrokan terbaru itu mengakhiri ketenangan selama beberapa tahun di kawasan tersebut setelah gencatan senjata disepakati untuk konflik Yaman pada 2022. Konflik Yaman sendiri meletus pada akhir 2014 ketika Houthi merebut Sanaa dan sebagian besar wilayah utara, yang memicu intervensi koalisi pimpinan Arab Saudi pada Maret 2015.

Ancaman terhadap Pasokan Minyak Dunia

Penguasaan titik strategis Pulau Perim di muara Laut Merah oleh Houthi semakin mempersempit ruang gerak logistik Arab Saudi. Kondisi ini memperparah krisis energi setelah jalur pipa minyak lintas benua milik Saudi sebelumnya lumpuh akibat gempuran udara.

Penutupan pipa utama penampung alokasi empat persen konsumsi minyak global itu memaksa Riyadh mencari jalan keluar tanpa kepastian waktu pemulihan. Harga minyak mentah dunia pun langsung melonjak tajam menyusul kekhawatiran kemacetan distribusi energi fosil tersebut.

Analis Timur Tengah Fawaz Gerges menilai penguasaan Houthi atas pulau-pulau strategis di dekat Bab al-Mandeb sebagai pengubah permainan. Menurutnya, langkah itu mengubah keseimbangan kekuatan dan memberi Houthi daya tawar geopolitik serta geoekonomi yang jauh lebih besar atas Arab Saudi, negara-negara Teluk, Amerika Serikat, dan perdagangan global.

Kombinasi gangguan di Selat Hormuz yang masih diblokade Iran dan ancaman di Laut Merah dinilai sengaja dirancang untuk memicu kenaikan harga minyak serta inflasi dunia. Pengalihan ekspor minyak dari Selat Hormuz ke Laut Merah tidak lagi menjadi solusi aman.

Meski jet tempur koalisi terus membombardir kawasan pesisir Mocha, Houthi terbukti masih mengendalikan hampir seluruh garis pantai barat Yaman. Pemerintah Yaman yang diakui internasional mengonfirmasi ketangguhan posisi pertahanan kelompok bersenjata pendukung Iran tersebut.

Seorang pejabat Yaman menyatakan Houthi berada di bawah tekanan berat, namun pada intinya mereka memberikan tekanan yang semakin besar kepada pihak Saudi dengan meningkatkan kampanye serangan rudal dan drone.

Diplomasi Kawasan dan Prospek ke Depan

Peta geopolitik semakin rumit setelah Oman mendadak menunda agenda dialog penanganan krisis navigasi perdagangan laut internasional. Penundaan pertemuan bersama delegasi Iran itu kabarnya terjadi atas permintaan resmi dari pihak Arab Saudi.

Keberhasilan Houthi menguasai pulau-pulau strategis di sekitar Bab al-Mandeb memaksa negara-negara Teluk menghadapi pilihan sulit antara menanggung kerugian ekonomi atau membuka diplomasi langsung dengan Iran. Kondisi ini mengubah peta kekuatan kawasan sekaligus memperkuat posisi tawar Teheran dalam konfrontasi global.

Para pengamat menilai gangguan terhadap jalur tersebut dapat memperburuk krisis energi global karena perusahaan pelayaran dan asuransi berpotensi menganggap kawasan itu terlalu berisiko untuk dilalui. Namun, sejumlah analis meragukan kemampuan Houthi untuk mempertahankan kendali dan menjalankan blokade dalam jangka panjang.

Kekuatan tempur Houthi dinilai berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir berkat persenjataan Iran, termasuk rudal, drone, dan sistem pertahanan udara, sementara pasukan pemerintah Yaman menghadapi perpecahan internal. Perkembangan di Bab al-Mandeb dan sikap negara-negara Teluk terhadap Iran akan menjadi faktor penentu arah krisis energi dan keamanan pelayaran dunia dalam beberapa pekan mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *