Perang Iran Kuras Stok Amunisi AS, Pentagon Akui Persediaan Strategis Menipis

Perang Iran Kuras Stok Amunisi AS, Pentagon Akui Persediaan Strategis Menipis
Perang Iran Kuras Stok Amunisi AS, Pentagon Akui Persediaan Strategis Menipis

Cakrawala News – 17 September 2026 | Bagaimana Iran menguras stok senjata AS? Laporan pertama Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan Amerika Serikat yang dirilis Senin (14/9/2026) mengungkap bahwa perang melawan Iran telah membuat persediaan amunisi strategis Washington menipis dan memaksa Pentagon mengubah pola operasi militernya di Timur Tengah. Temuan ini bertentangan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang berulang kali menegaskan bahwa persediaan amunisi negaranya masih penuh, bahkan menyebutnya hampir tak terbatas.

Dalam laporan wajib yang disampaikan kepada Kongres, pengawas Pentagon mencatat Operasi Epic Fury (OEF) diperkirakan menelan biaya 33,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 590,9 triliun sepanjang 28 Februari hingga 30 Juni. Dari jumlah itu, sekitar 22,3 miliar dolar AS merupakan biaya amunisi yang telah digunakan dalam operasi bersama Israel tersebut.

“Penggunaan amunisi dalam OEF telah menyebabkan kekurangan pada persediaan strategis dan mengungkap hambatan pada industri pertahanan dalam mengisi kembali stok amunisi,” demikian isi laporan itu, seperti dikutip dari CNA.

OEF merupakan nama yang digunakan AS untuk operasi militernya bersama Israel yang bertujuan menghancurkan kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militernya, menurut Komando Pusat AS (CENTCOM).

Serangan Iran Lumpuhkan Ratusan Fasilitas AS

Laporan yang sama mengungkap bahwa serangan Iran selama bulan-bulan pertama perang telah merusak dan menghancurkan ratusan bangunan serta struktur di pangkalan AS yang tersebar di sedikitnya delapan negara Timur Tengah. Serangan tercatat mengenai pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania.

Selain kerusakan fisik, dokumen itu mengakui konflik telah mengurangi stok sejumlah amunisi penting Amerika Serikat. CNN sebelumnya melaporkan sejumlah aset strategis AS, termasuk instalasi radar pertahanan rudal, hancur pada fase awal perang. Militer AS disebut hampir menghabiskan 80 persen stok pencegat THAAD.

Skala serangan Iran tidak hanya menimbulkan kerugian material. Pentagon mengakui tekanan dari Iran dan kelompok-kelompok proksinya turut memaksa CENTCOM mengubah pola operasi militer Amerika yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di kawasan. CENTCOM memindahkan personel, aset, dan fasilitas penyimpanan dari sejumlah lokasi yang dinilai semakin rentan.

Perubahan tersebut menunjukkan Washington tidak lagi dapat memperlakukan sebagian pangkalannya di Timur Tengah sebagai fasilitas yang relatif aman dari serangan langsung.

Salah satu perubahan paling nyata terjadi pada sistem evakuasi medis. Helikopter medevac Angkatan Darat AS ditarik dari Irak dan Kuwait sehingga sebagian besar evakuasi medis harus dilakukan melalui jalur darat menuju fasilitas perawatan lokal. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang waktu penanganan korban dalam situasi darurat.

Kerugian Material dan Biaya Evakuasi

Laporan inspektorat juga menyertakan untuk kali pertama foto-foto kerusakan pesawat-pesawat AS, pangkalan, dan pos diplomatik di Timur Tengah. Sebagian besar informasi itu sebenarnya sudah diberitakan media selama enam bulan terakhir, namun laporan inspeksi Pentagon menyajikan penghitungan resmi ongkos perang terhadap kehidupan rakyat AS, pembayar pajak, dan kerusakan fisik.

Puluhan pesawat dan drone AS dilaporkan rusak dan hancur. Salah satu foto yang dirilis memperlihatkan kehancuran Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS, akibat serangan Iran ke pangkalan Pangeran Sultan di Arab Saudi pada Jumat (27/3/2026).

Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada akhir Juli mengatakan kepada Kongres AS bahwa perang Iran telah menghabiskan anggaran hingga 37,5 miliar dolar AS. Sementara nilai kerugian dari rusaknya fasilitas diplomatik AS belum dirilis ke publik. Pos-pos diplomatik seperti di Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan UEA mengalami kerusakan paling parah, dengan estimasi dampak kerusakan mencapai 184 juta dolar AS.

Pada awal Juni, Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa ongkos perang secara keseluruhan adalah 113 juta dolar AS, di mana hampir 80 juta dolar AS digunakan untuk respons rencana kontingensi, termasuk biaya evakuasi personel dan keluarga serta warga negara AS lainnya di kawasan.

Deplu AS melaporkan bahwa beberapa pekan dan bulan setelah AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, pemerintahan Trump mengevakuasi sekitar 9.000 warga negara AS dari beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa. Lewat penerbangan komersial dan pribadi serta jalur darat dan air, ongkos operasi evakuasi mencapai 11 juta dolar AS hingga akhir Juni. Evakuasi terbesar terjadi di Israel, disusul Irak dan Yordania, dengan ongkos terbesar berasal dari UEA yang mencapai 4 juta dolar AS.

Hambatan Industri Pertahanan dan Dampak Global

Untuk mengatasi kekurangan stok dan keterlambatan pasokan, Pentagon berupaya menyederhanakan proses pengadaan, memangkas waktu produksi, serta menambah cadangan bahan penting, komponen, dan jenis amunisi tertentu. Namun laporan itu mencatat bahwa peningkatan kapasitas produksi membutuhkan waktu yang cukup lama.

Beberapa ahli sebelumnya memperkirakan akan memakan waktu sekitar tiga tahun bagi kontraktor militer untuk memproduksi rudal terbaru dan rudal interseptor hingga mencapai level kapasitas produksi seperti sebelum perang.

Kondisi tersebut kemungkinan menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah di Ukraina dan Taiwan, yang mengandalkan pembelian senjata dari AS untuk melawan atau menangkal ancaman dari negara tetangga yang jauh lebih besar dan bermusuhan. Ukraina sangat membutuhkan tambahan rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot buatan AS dalam perang melawan Rusia. Sementara itu, Taiwan bergantung pada kesepakatan pembelian senjata dengan AS untuk menangkal China, yang menganggap pulau itu sebagai bagian dari wilayahnya.

Trump berulang kali menepis kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan senjata selama enam bulan perang di Timur Tengah. Pada Senin (14/9), melalui platform Truth Social miliknya, ia mengatakan AS memproduksi senjata-senjata yang lebih canggih dan elit daripada kapan pun dalam sejarahnya. CNN sebelumnya melaporkan bahwa kekurangan rudal berpemandu jarak jauh dan pencegat pertahanan udara telah memengaruhi strategi Trump dalam konflik dengan Iran.

Pertanyaan bagaimana Iran menguras stok senjata AS kini menjadi sorotan utama di Washington. Serangan beruntun terhadap pangkalan di delapan negara, ditambah tekanan kelompok proksi, memaksa militer AS mengubah tata kelola logistik dan operasionalnya di kawasan. Laporan inspektur jenderal menjadi pengakuan formal pertama Departemen Pertahanan mengenai luasnya dampak serangan tersebut.

Ke depan, yang perlu dicermati adalah seberapa cepat industri pertahanan AS mampu memulihkan persediaan strategisnya, serta bagaimana keterbatasan stok amunisi itu memengaruhi komitmen Washington terhadap sekutu-sekutunya, termasuk Ukraina dan Taiwan. Selama kapasitas produksi belum pulih, tekanan terhadap kebijakan luar negeri dan strategi militer AS diperkirakan akan terus berlanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *