Energi  

Pertamina Segera Tender Proyek USD 1,1 Miliar, Biorefinery Cilacap Ditarget Onstream 2029

Pertamina Segera Tender Proyek USD 1,1 Miliar, Biorefinery Cilacap Ditarget Onstream 2029
Pertamina Segera Tender Proyek USD 1,1 Miliar, Biorefinery Cilacap Ditarget Onstream 2029

Cakrawala News – 15 September 2026 | PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menargetkan proses tender atau Engineering, Procurement, and Construction (EPC) proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 dapat dilaksanakan pada 2027. Pertamina segera tender proyek senilai USD 1,1 miliar, biorefinery Cilacap ditarget onstream 2029, dengan kilang yang didedikasikan untuk memproduksi 100 persen biofuel guna memperkuat kemandirian energi hijau dan penyediaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) nasional.

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga, Hermawan Budiantoro, menjelaskan bahwa saat ini proyek masih berada dalam tahap engineering atau Front End Engineering Design (FEED). Setelah tahap itu rampung, proyek akan ditenderkan kepada kontraktor.

“Saat ini masih dalam tahap engineering (FEED), yang nantinya akan ditenderkan. Sudah mulai kemarin licensor dan EPC konstruksinya. Harapannya nanti bisa konstruksi mulai tahun ini. Mudah-mudahan nanti di 2029 sudah mulai berproduksi,” kata Hermawan di sela kegiatan Pertamax Journey 2026, di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9).

Biorefinery Cilacap Fase 2 akan didirikan di lahan seluas 17,5 hektare (Ha). Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai sekitar USD 1,1 miliar atau setara lebih kurang Rp 19 triliun.

Kilang ini dirancang untuk mengolah bahan baku berbasis nabati serta limbah ramah lingkungan. Beberapa bahan baku yang akan digunakan antara lain minyak goreng bekas atau minyak jelantah (mijel)/ used cooking oil (UCO), crude palm oil (CPO), serta palm oil mill effluent (POME).

Adapun kapasitas Biorefinery Cilacap Fase 2 didesain mencapai 6.000 barel per hari (bph). Dari kapasitas tersebut, kilang ditargetkan mampu memproduksi SAF sekitar 232.000 ton per tahun.

Produksi SAF Saat Ini Masih Terbatas

Untuk saat ini, proses produksi SAF berbahan UCO di RU IV Cilacap masih dilakukan di unit Treated Distillate Hydrotreating (TDHT). Produk Pertamina SAF telah memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan Def Stan 91-091.

Pencapaian ini menjadikan Pertamina SAF sebagai produk SAF pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang bersertifikat resmi. Untuk tahap awal, kapasitas produksi ditargetkan sebesar 9 metric barrel dengan komposisi 2–3 persen UCO.

“Saat ini produksi (SAF di TDHT) terbatas. Sehingga kedepan kita ada rencana pembangunan biorefinery yang nanti (bahan bakunya) akan dikumpulkan sebagian dari perusahaan atau masyarakat,” jelas Hermawan.

Ketika Biorefinery Cilacap onstream pada 2029 nanti, diperkirakan kebutuhan UCO mencapai sekitar 318.000 ton per tahun. Guna memenuhi kebutuhan bahan baku ini, Pertamina menggunakan skema Business to Customer (B2C) serta Business to Business (B2B).

Pada skema B2C, UCO diperoleh dari masyarakat, komunitas, dan perwira Pertamina. Adapun skema B2B yang sudah berjalan saat ini di antaranya yaitu UCO Collection Box dan Noovoleum.

Sementara itu, pada skema B2B, UCO dikumpulkan dari SPPG, horeka (hotel, restoran, kafe), serta KDMP dan perusahaan pengumpul mijel lainnya.

Perkuat Kemandirian Energi Hijau

Langkah Pertamina segera tender proyek senilai USD 1,1 miliar, biorefinery Cilacap ditarget onstream 2029 ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas portofolio energi bersih. Sebelumnya, Pertamina juga telah mengoperasikan Green Refinery Cilacap sebagai salah satu tonggak pengembangan bisnis rendah karbon.

Pengembangan biorefinery di Cilacap diharapkan memperkuat rantai pasok bahan bakar ramah lingkungan dalam negeri, terutama untuk sektor penerbangan yang membutuhkan SAF. Produksi SAF bersertifikat menjadi penting seiring meningkatnya kebutuhan aviasi terhadap bahan bakar yang lebih bersih.

Dengan kapasitas yang jauh lebih besar dibandingkan produksi di unit TDHT saat ini, Biorefinery Cilacap Fase 2 diproyeksikan menjadi salah satu fasilitas biofuel skala besar di Indonesia. Proyek ini juga diharapkan menyerap bahan baku dari masyarakat dan pelaku usaha, sehingga turut membuka peluang ekonomi di sektor pengumpulan limbah minyak jelantah.

Meski demikian, realisasi proyek masih bergantung pada penyelesaian tahap engineering, proses tender EPC, serta pembangunan konstruksi yang direncanakan mulai tahun ini. Pertamina menargetkan produksi komersial dapat dimulai pada 2029.

Ke depan, publik akan menantikan kepastian jadwal tender, pemenang kontrak EPC, serta kesiapan pasokan bahan baku UCO dalam jumlah besar. Keberhasilan proyek ini menjadi penentu sejauh mana target penyediaan SAF nasional dan penguatan energi hijau dapat tercapai sesuai jadwal.

Exit mobile version