Popularitas Anjlok Usai Perang Iran, Trump Janjikan 5.000 Dolar ke Warga AS jika Republik Menang

Cakrawala News – 12 September 2026 | Popularitas anjlok usai perang Iran, Trump janjikan 5.000 dolar ke warga AS jika Republik menang menjadi sorotan menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November mendatang. Presiden AS Donald Trump menjanjikan pembayaran langsung sebesar 5.000 dolar AS atau sekitar Rp87,56 juta kepada setiap warga negara dewasa jika Partai Republik berhasil menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat AS sekaligus.

Janji tersebut disampaikan Trump di hadapan para pendukungnya saat menghadiri kampanye dan konvensi Partai Republik di Dallas, Texas. Menurut pemberitaan yang mengutip pernyataan Trump, ia menegaskan pembayaran itu hanya akan terealisasi jika kedua kamar Kongres jatuh ke tangan Partai Republik.

“Jika Partai Republik memenangi Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat Amerika Serikat, kedua-duanya, maka saya akan memberikan uang untuk setiap warga negara dewasa di Amerika Serikat sebesar 5.000 dolar AS,” kata Trump.

Pernyataan itu disampaikan di tengah tekanan biaya hidup yang dihadapi masyarakat Amerika Serikat. Trump bahkan mengibaratkan pembayaran tersebut seperti pembagian dividen perusahaan kepada pemegang saham, atau menyerupakannya dengan bonus cek sebesar 1.776 dolar AS yang pernah diterbitkan pemerintahannya untuk anggota militer tahun lalu.

Beban Anggaran yang Diperdebatkan

Hingga kini belum ada penjelasan terperinci mengenai mekanisme pendanaan program tersebut. Jika diberikan kepada sekitar 245,3 juta warga dewasa di AS berdasarkan data Sensus 2024, kebutuhan anggaran untuk program itu diperkirakan mencapai lebih dari 1,2 triliun dolar AS atau sekitar Rp21.120 triliun.

Sejumlah media internasional bahkan memperkirakan angka yang lebih besar. Dengan asumsi sekitar 270 juta warga dewasa, Reuters memperkirakan pembayaran itu membutuhkan sekitar 1,35 triliun dolar AS atau sekitar Rp23.636 triliun.

Besarnya kebutuhan dana tersebut memunculkan pertanyaan, termasuk dari internal Partai Republik. Anggota DPR AS asal Texas, Chip Roy, mempertanyakan sumber pembiayaan program tersebut. Kepada Politico, Roy menyatakan ingin mengetahui bagaimana rencana pembiayaan proposal itu.

Keraguan juga datang dari kelompok konservatif. Mantan Ketua House Freedom Caucus Bob Good menilai rencana tersebut berpotensi bertentangan dengan prinsip pembatasan anggaran. Melalui akun X, Good menyebut rencana itu sebagai skema pembelian suara yang akan menelan biaya hampir 1 triliun dolar AS.

Trump sendiri menyebut penerimaan dari tarif impor dapat menjadi salah satu sumber pendanaan dividen tersebut. Ia juga mengklaim kebijakan tarif telah menarik investasi hingga 21 triliun dolar AS ke Amerika Serikat. Namun, angka investasi yang tercatat di portal resmi Gedung Putih disebut hampir 10 triliun dolar AS lebih rendah dari klaim Trump.

Ketika ditanya mengenai potensi dampak pembayaran tersebut terhadap defisit anggaran, Trump menyatakan tidak khawatir. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang luar biasa akan menutupi kebutuhan dana tersebut.

Tekanan Politik dan Perang Iran

Janji pembagian uang itu muncul ketika Partai Republik menghadapi risiko kehilangan kendali atas DPR. Para analis memprediksi Partai Demokrat memiliki peluang besar untuk mengambil alih majelis rendah tersebut pada pemilu sela mendatang.

Penurunan tingkat persetujuan terhadap pemerintahan Trump menjadi faktor utama. Para pakar mengaitkan tren negatif ini dengan kebijakan aksi militer terhadap Iran serta lonjakan harga kebutuhan di dalam negeri yang membebani masyarakat AS. Tingkat kepuasan terhadap presiden disebut berada di sekitar 38 persen.

Dalam konteks itu, Trump membawa isu perang Iran langsung ke dalam kalkulasi politik pemilu. Sebelum menyampaikan pidato, ia mengatakan konflik akan berakhir segera setelah pemilu November karena Iran disebut berusaha memengaruhi hasil pemungutan suara. Trump juga menyatakan harga minyak akan turun setelah perang berakhir.

Reuters melaporkan konflik telah berlangsung lebih dari enam bulan dan belum menunjukkan tanda segera berakhir. Situasi ini menambah kompleksitas peta politik menjelang pemungutan suara.

Trump bahkan meminta pemilih menganggap dirinya ikut bertarung dalam pemilu sela. Ia juga mengklaim masa pemerintahannya sebagai dua tahun paling sukses secara finansial dan dalam segala hal lainnya dalam sejarah kepresidenan, tanpa memberikan bukti atas klaim tersebut.

Di sisi lain, Trump secara terbuka mengakui adanya kemungkinan Partai Republik kehilangan kendali atas DPR. Ia bahkan memprediksi bahwa jika Partai Demokrat berhasil menguasai parlemen, mereka akan segera berupaya melakukan proses pemakzulan terhadap dirinya.

Pihak Gedung Putih dalam pernyataan resminya tidak memberikan detail teknis mengenai mekanisme pelaksanaan atau distribusi dana tersebut. Gedung Putih menyebut pengumuman ini sebagai bukti terbaru bahwa Trump melakukan apa yang menurut para ahli tidak bisa dilakukan, yakni memberikan hasil bagi rakyat Amerika.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai dasar hukum, sumber dana pasti, maupun jadwal distribusi apabila Partai Republik memenangi kedua kamar Kongres. Kombinasi antara popularitas yang menurun, tekanan biaya hidup, dan janji finansial besar membuat pemilu sela November mendatang menjadi ujian politik yang menentukan bagi pemerintahan Trump.

Exit mobile version