Cakrawala News – 18 Oktober 2026 | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap persoalan komunikasi antara pimpinan Jakarta International Stadium (JIS) dan PT Pembangunan Jaya Ancol yang sempat menghambat penyelesaian masalah konektivitas kedua kawasan. Dalam pernyataannya, Pramono: Dulu dirut JIS dan Ancol ketemu aja enggak bisa, sehingga persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan lewat dialog justru tertahan cukup lama. Hal itu disampaikan Pramono usai meresmikan Masjid Apung An-Nur di kawasan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Jumat (16/10/2026).
Menurut Pramono, sejak awal menjabat sebagai gubernur, ia memang ingin menghubungkan JIS dengan Ancol. Akses transportasi dinilainya menjadi salah satu persoalan yang membuat pemanfaatan stadion belum maksimal, terutama ketika menggelar acara besar.
“Salah satu problem utama kita itu kan egonya pemimpin. Dulu antara Dirut JIS sama Dirut Ancol, ketemu ngomong aja nggak bisa,” ujar Pramono dalam keterangannya kepada wartawan.
Pramono mengaku sempat mempertanyakan mengapa kedua pimpinan tersebut tidak bisa berkomunikasi untuk mencari solusi atas persoalan yang ada. Ia pun menyoroti bahwa persoalan yang tampak sederhana sebenarnya bisa dipecahkan jika ada kemauan untuk duduk bersama.
“Sampai saya bilang, ‘Kenapa nggak bisa ketemu ngomong dan memecahkan persoalan?’,” tutur Pramono menirukan pertanyaannya saat itu.
Konektivitas JIS-Ancol Mulai Tersambung
Pramono menyebut, setelah komunikasi kedua pihak berjalan baik, sejumlah persoalan mulai terselesaikan. Salah satunya melalui penyambungan akses antara JIS dan Ancol sepanjang kurang lebih 300 meter. Akses tersebut memungkinkan pengunjung JIS memanfaatkan area parkir di kawasan Ancol.
Menurutnya, penyambungan akses ini menjadi solusi penting karena selama ini keterbatasan parkir dan akses menjadi kendala saat stadion menggelar acara dengan jumlah pengunjung besar. Pramono mencontohkan konser The Weeknd yang digelar pada 26–27 September 2026, ketika jumlah pengunjung acara besar di JIS disebut bisa mencapai lebih dari 80.000 orang dalam sehari.
“Ketika sudah disambungkan yang kurang lebih 300 meter ini, seluruh parkir sekarang bisa di Ancol, mau mobil berapa pun bisa di Ancol,” ungkapnya.
Selain akses darat, Pramono menyatakan konektivitas dua lokasi tersebut kini juga didukung layanan transportasi umum melalui Transjakarta dan KRL. Ketersediaan pilihan transportasi ini dinilai menjadi bagian penting dalam menunjang mobilitas pengunjung yang hendak menuju stadion, khususnya saat berlangsungnya konser atau pertandingan dengan jumlah penonton yang besar.
Ego Kepemimpinan sebagai Persoalan Serius
Dalam keterangannya, Pramono tidak hanya menyoroti persoalan teknis konektivitas. Ia juga menyinggung soal ego kepemimpinan yang menurutnya dapat menjadi penghambat kerja sama antarinstitusi. Persoalan ego tersebut, kata dia, bukan hanya terjadi di lingkup JIS dan Ancol, tetapi juga menjadi persoalan yang lebih luas.
Pernyataan Pramono: Dulu dirut JIS dan Ancol ketemu aja enggak bisa menjadi gambaran bagaimana persoalan komunikasi antarpimpinan bisa berdampak langsung pada pelayanan publik. Padahal, lanjutnya, banyak persoalan bisa diselesaikan lebih cepat apabila masing-masing pihak bersedia membuka ruang dialog dan mengedepankan kepentingan bersama.
Bagi Pramono, penyelesaian persoalan konektivitas JIS dan Ancol menjadi contoh bahwa komunikasi yang baik antarlembaga dapat menghasilkan solusi nyata. Penyambungan akses sepanjang ratusan meter itu disebutnya sebagai langkah awal yang membuka peluang pemanfaatan kawasan secara lebih optimal.
Dengan akses yang lebih baik, pengunjung tidak lagi hanya bergantung pada area parkir di sekitar stadion. Mereka dapat memanfaatkan fasilitas parkir di Ancol, sementara perjalanan menuju JIS juga dapat dilakukan menggunakan transportasi umum yang telah tersedia.
Pernyataan Pramono: Dulu dirut JIS dan Ancol ketemu aja enggak bisa sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan koordinasi antarpimpinan masih menjadi tantangan dalam pengelolaan fasilitas publik di Jakarta. Ke depan, keberlanjutan komunikasi antara pengelola JIS, Ancol, dan pemerintah daerah akan menentukan sejauh mana konektivitas serta layanan transportasi di kawasan tersebut dapat terus ditingkatkan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tampaknya akan terus mendorong integrasi akses dan transportasi di kawasan Ancol dan JIS. Sebab, pemanfaatan stadion berkapasitas besar itu dinilai bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk parkir, akses jalan, dan angkutan umum yang memadai.
Bagi publik, penyambungan akses JIS-Ancol dan ketersediaan Transjakarta serta KRL menjadi kabar yang perlu dicermati, terutama menjelang gelaran acara-acara besar berikutnya. Keberhasilan penanganan persoalan ini akan menjadi tolok ukur apakah persoalan ego kepemimpinan yang disoroti Pramono benar-benar telah diatasi secara berkelanjutan.
