Cakrawala News – 11 Oktober 2026 | Ratu Suthida dari Thailand dilaporkan berhasil menuntaskan penerbangan solo selama 41 menit dengan jet tempur Saab Gripen pada 8 Oktober 2026. Aksi tersebut disebut-sebut sebagai yang pertama bagi seorang ratu yang masih bertakhta untuk menerbangkan pesawat militer supersonik seorang diri. Penerbangan itu berlangsung di sebuah pangkalan militer di Provinsi Surat Thani, Thailand selatan, dan disaksikan langsung dari lepas landas hingga mendarat oleh Raja Maha Vajiralongkorn.
Sejumlah laporan menyebut, usai pendaratan, Raja Maha Vajiralongkorn menyerahkan karangan bunga dan menyematkan lencana Golden Gripen Order di lengan kiri Suthida sebagai penanda tonggak sejarah tersebut. Biro Pers Kerajaan Thailand kemudian mempublikasikan momen Ratu Suthida menerbangkan jet tempur itu.
Latihan Sebelum Terbang Solo
Menurut laporan media, Suthida menjalani program pelatihan menerbangkan jet tempur Gripen pada periode 20 Agustus hingga 4 September 2026. Ia lebih dulu mengikuti pelatihan simulasi selama beberapa minggu serta latihan menerbangkan Gripen versi dua kursi sebelum akhirnya diizinkan terbang solo. Instruktur dan spesialis penerbangan mengawasi seluruh program tersebut dan memberikan bimbingan sepanjang latihan.
Prosedur yang dijalani Suthida disebut mengikuti standar proses personel Angkatan Udara Thailand. Hal ini menegaskan bahwa penerbangan solo tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari tahapan pelatihan yang memiliki standar teknis dan keselamatan tertentu.
Jejak Penerbangan Sejak 2010
Ratu Suthida lahir pada 1978 dan diketahui mulai belajar menerbangkan pesawat sejak 2010. Ia memegang Airline Transport Pilot Licence dan telah mengumpulkan lebih dari 1.188 jam terbang, termasuk jam terbang di simulator serta pelatihan jet lanjutan. Sebelum masuk ke kokpit Gripen, ia menjalani latihan intensif yang mencakup berbagai tipe pesawat.
Karier penerbangannya terbilang tidak biasa. Ia pernah bekerja sebagai pramugari di Thai Airways sebelum bergabung dengan Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand. Dari sana, ia menapaki karier hingga mencapai pangkat jenderal di lingkup pasukan keamanan kerajaan. Pengalaman tersebut membuatnya memiliki kredensial penerbangan militer yang formal, sesuatu yang jarang dimiliki oleh tokoh kerajaan yang sedang bertakhta.
Pernikahannya dengan Raja Maha Vajiralongkorn pada Mei 2019 dan pengangkatannya sebagai ratu menempatkan Suthida di antara segelintir ratu yang masih bertakhta di dunia dengan kualifikasi penerbangan militer resmi.
Duet Kerajaan di Kokpit
Kecintaan pada dunia penerbangan bukan hal baru di lingkaran kerajaan Thailand. Raja Maha Vajiralongkorn juga memegang sertifikasi pilot dan merupakan pilot militer yang memenuhi syarat untuk menerbangkan Northrop F-5, jet tempur F-16, serta Boeing 737-400.
Pasangan kerajaan itu pernah menjadi perbincangan publik karena menerbangkan sendiri pesawat komersial saat kunjungan kenegaraan ke Bhutan pada 2025. Dalam penerbangan tersebut, kemudi dipegang Raja Maha Vajiralongkorn, sementara Ratu Suthida bertindak sebagai kopilot. Mereka berhasil mendaratkan Boeing 737-800 dengan mulus di Bandara Internasional Paro, Bhutan, sebuah medan yang dikenal menantang bagi sebagian pilot.
Konteks Alutsista Gripen di Thailand
Thailand telah lama mengoperasikan skadron jet tempur Gripen C/D buatan Saab, perusahaan asal Swedia. Pada 2025, Thailand menandatangani kesepakatan pembelian tiga unit jet tempur Gripen E dan satu unit Gripen F dengan nilai sekitar 556 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp9,94 triliun. Pesawat-pesawat itu dijadwalkan tiba di Thailand pada 2030.
Dengan demikian, penerbangan solo Ratu Suthida turut menyoroti kedekatan kerajaan Thailand dengan armada Gripen yang menjadi tulang punggung sebagian kekuatan udara negara tersebut.
Klaim Sejarah yang Masih Diperdebatkan
Meski menarik perhatian luas, klaim bahwa Suthida adalah ratu pertama dan satu-satunya dalam sejarah yang menerbangkan jet tempur secara solo belum diverifikasi oleh sumber independen. Konfirmasi resmi atas peristiwa tersebut juga masih ditunggu. Sebagian laporan menyebut peristiwa itu sebagai tonggak bersejarah, namun status klaim tersebut perlu dibaca dengan hati-hati karena belum ada verifikasi pihak ketiga yang benar-benar independen.
Selain itu, terdapat perbedaan kecil dalam penyajian data di antara laporan media. Sebagian menyebut total jam terbang Suthida lebih dari 1.188 jam, sementara laporan lain menyebut angka 1.190 jam. Perbedaan angka ini tidak mengubah inti pemberitaan, tetapi menunjukkan bahwa detail teknis masih dapat mengalami pembaruan seiring munculnya informasi resmi berikutnya.
Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Publik masih menantikan konfirmasi resmi dari istana atau otoritas terkait mengenai rincian penerbangan tersebut, termasuk jenis varian Gripen yang digunakan dan rute penerbangan yang ditempuh. Kejelasan soal klaim sejarah juga penting agar narasi yang berkembang tidak melampaui fakta yang ada.
Terlepas dari perdebatan tersebut, penerbangan solo Suthida menambah dimensi baru pada citra kerajaan Thailand di mata publik, khususnya karena melibatkan kemampuan teknis dan keberanian dalam mengoperasikan pesawat tempur. Perkembangan berikutnya akan menentukan seberapa jauh peristiwa ini dicatat sebagai tonggak dalam sejarah penerbangan kerajaan maupun penerbangan militer Thailand.
