Cakrawala News – 14 Oktober 2026 | Rekam serangan Houthi di Arab Saudi, sejumlah warga Amerika Serikat ditahan menjadi sorotan setelah Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh mengumumkan bahwa beberapa warganya ditahan karena mengambil foto peristiwa terkini di tengah rentetan serangan milisi Houthi dari Yaman. Pengumuman itu disampaikan pada Senin (12/10/2026) waktu setempat, seperti dilansir AFP dan Arab News, Selasa (13/10/2026).
Pihak kedutaan tidak merinci berapa jumlah warga Amerika Serikat yang ditangkap maupun memastikan apakah mereka telah dibebaskan. Dalam pernyataannya, Kedubes AS menyebut para warganya ditahan karena mengambil gambar terkait serangan yang melanda Arab Saudi.
“Beberapa warga negara Amerika telah ditahan karena mengambil foto peristiwa-peristiwa terkini,” sebut Kedutaan Besar AS di Riyadh dalam pernyataannya.
Penangkapan tersebut tidak berdiri sendiri. Otoritas Arab Saudi sebelumnya telah memperingatkan bahwa merekam, mempublikasikan, atau menyebarluaskan informasi terkait upaya mencegat rudal dan drone, termasuk lokasi dampak serangan, dapat membuat seseorang terjerat masalah hukum.
Keterangan sejumlah warga negara asing yang tinggal di Riyadh menyebutkan bahwa beberapa kenalan mereka ditangkap karena merekam peristiwa terkini dan membagikan rekaman tersebut di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa peringatan otoritas Saudi tidak hanya berlaku bagi warga lokal, tetapi juga menyasar warga asing yang mendokumentasikan operasi keamanan.
Peringatan Khusus bagi Pegawai Pemerintah AS
Selain menyoroti penangkapan tersebut, Kedubes AS mengeluarkan peringatan khusus bagi pegawai pemerintah Amerika Serikat yang bertugas di Arab Saudi. Mereka diwajibkan memperoleh izin sebelum menggunakan bandara mana pun di negara tersebut.
“Para pegawai pemerintah AS yang bekerja di Arab Saudi memerlukan izin khusus untuk menggunakan bandara mana pun di Arab Saudi,” tegas pernyataan kedutaan.
Kepada AFP, Kedubes AS menjelaskan bahwa izin khusus bagi staf pemerintah AS tersebut hanya dapat diperoleh melalui pihak kedutaan. Kedubes AS juga mengimbau warga negara Amerika untuk sangat berhati-hati jika memilih menggunakan bandara-bandara di Arab Saudi.
Peringatan itu muncul setelah serangkaian serangan Houthi mengguncang fasilitas penerbangan di Arab Saudi. Setidaknya 18 orang tewas dalam serangan di kawasan Bandara Riyadh, termasuk 13 orang pada Sabtu (10/10), sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Selain Riyadh, Bandara Internasional Abha juga menjadi sasaran serangan pada Selasa. Insiden tersebut menewaskan dua orang.
Rentetan Serangan di Sejumlah Bandara
Dilansir Al-Jazeera, Selasa (13/10/2026), setidaknya ada lima bandara yang terdampak serangan Houthi. Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi salah satu yang paling sering disasar. Bandara di ibu kota Saudi ini telah diserang empat kali dalam lima hari terakhir.
Otoritas Saudi melaporkan satu orang tewas dan delapan orang terluka pada 7 Oktober. Pada 8 Oktober, sebuah serangan menewaskan seorang pilot maskapai penerbangan dan dua warga negara Saudi lainnya serta melukai beberapa orang lainnya. Serangan kembali terjadi pada Sabtu (10/11) yang menewaskan 13 orang dan melukai ratusan orang lainnya. Serangan Houthi kembali terjadi pada Minggu (11/10), menyebabkan satu orang tewas dan puluhan terluka.
Rekaman CCTV menunjukkan serangan tersebut mengenai para jemaah umrah yang hendak berangkat dari Riyadh. Sementara itu, Houthi juga mengaku melakukan serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam, kota pelabuhan industri di pesisir Teluk, pada Minggu (11/10). Pada 7 Oktober, dua orang tewas dan 28 orang terluka dalam serangan terhadap fasilitas di bandara tersebut. Bandara Internasional King Abdullah bin Abdulaziz di Jazan juga disebut sebagai salah satu lokasi yang terdampak.
Rentetan serangan itu membuat keamanan bandara dan keselamatan penumpang menjadi perhatian, sekaligus mendorong otoritas dan perwakilan diplomatik mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam mendokumentasikan maupun menyebarkan informasi terkait operasi keamanan.
Dampak pada Pasar Energi dan Pelayaran
Ketegangan di Arab Saudi turut berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (13/10/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penambahan pasokan diesel Rusia ke pasar global, disertai pelonggaran sementara sanksi AS terhadap produk bahan bakar dari Moskow.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 61 sen atau 0,57 persen menjadi 106,04 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 47 sen atau 0,5 persen ke level 93,27 dolar AS per barel.
Tambahan pasokan diesel Rusia diharapkan dapat membantu meredakan ketatnya pasokan bahan bakar global. Namun, kebijakan Trump tersebut menuai penolakan dari parlemen AS karena dinilai bertentangan dengan undang-undang yang melarang impor energi Rusia hingga negara itu mengakhiri agresinya terhadap Ukraina.
Kepala Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai tambahan pasokan diesel Rusia dan kondisi pasokan Arab Saudi yang lebih stabil memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk bernapas. Meski demikian, pelaku pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap potensi serangan lanjutan terhadap kapal dan jaringan pipa energi di Timur Tengah.
Risiko tersebut dinilai lebih besar dibandingkan kelegaan yang muncul dari tambahan pasokan bahan bakar. Serangan terhadap kapal tanker juga dilaporkan terjadi di kawasan Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Situasi tersebut membuat harga minyak masih berpeluang kembali naik apabila ketegangan geopolitik terus meningkat.
“Sampai kita melihat tanda-tanda deeskalasi yang lebih jelas, kecenderungan pergerakan harga masih mengarah naik,” ujar Waterer.
Ketegangan di jalur-jalur utama distribusi energi itu juga meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi. Biaya tersebut dilaporkan telah melampaui sepertiga dari nilai komoditas, sehingga menambah tekanan terhadap distribusi minyak mentah dan produk turunannya.
Yang Perlu Diperhatikan Selanjutnya
Kombinasi antara penangkapan warga asing karena merekam serangan dan eskalasi serangan Houthi terhadap fasilitas strategis Arab Saudi menempatkan keselamatan warga sipil, termasuk warga negara asing, dalam posisi rentan. Kedubes AS menegaskan bahwa dokumentasi terkait pencegatan rudal dan drone serta lokasi dampaknya dapat berujung pada konsekuensi hukum di Arab Saudi.
Ke depan, publik masih menunggu kejelasan mengenai jumlah warga Amerika Serikat yang ditahan dan status hukum mereka. Sementara itu, situasi keamanan di sejumlah bandara Arab Saudi dan potensi serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah akan terus menjadi faktor yang menentukan arah pasar minyak dunia dalam beberapa hari mendatang.
