Cakrawala News – 30 Oktober 2026 | Hujan deras tiba-tiba turun saat karhutla, para relawan terharu langsung sujud syukur di jalan. Momen itu terjadi di Desa Sungai Alat, Kaliukan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Minggu, 25 Oktober 2026, sekitar pukul 14.30 WIB. Sejumlah relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan yang tengah berjibaku melawan api spontan bersujud di tengah jalan basah begitu rintik hujan berubah menjadi guyuran lebat.
Peristiwa tersebut terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial. Dalam rekaman itu, para relawan tampak tertawa bahagia sambil bersujud, sementara di belakang mereka terlihat mobil yang membawa toren berisi pasokan air. Salah satu relawan yang masih memegang selang air pun ikut melakukan sujud syukur.
Salah satu relawan, Naim, menuturkan bahwa dirinya bersama warga sekitar memang sejak awal bersiap memadamkan titik api di kawasan tersebut. Sebelum berangkat, mereka sempat mengisi air ke dalam tandon.
"Informasi awal kita terima sekitar 10 menit pengisian air ke dalam tandon, setelah itu kita berangkat menuju titik lokasi yang terjadi karhutla," kata Naim, seperti dikutip dari tayangan Metro TV, Senin, 26 Oktober 2026.
Menurut Naim, mereka berjibaku melawan api sekitar 40 menit hingga satu jam. Tak lama setelah itu, hujan turun. Rintik yang mulanya ringan berangsur-angsur menjadi lebat.
"Di situ kami dan para rekanan relawan merasa syukur terharu bahagia gembira atas turunnya hujan tersebut karena kami telah menantikan hujan tersebut sudah berbulan-bulan lamanya," ujarnya.
Angin Kencang Sempat Bobol Garis Pertahanan
Di lokasi lain, kondisi di lapangan sempat kritis. Relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan, Deny Priyatna, melaporkan bahwa api sempat tak terkendali dan membobol garis pertahanan relawan di sekitar Camp Tanjung Harapan, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Menurut Deny, embusan angin yang sangat kencang membuat api sulit ditahan dan terus mendekati pos relawan. Berbagai pihak telah berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah api meluas.
"Apinya sudah tidak bisa ditahan karena angin sangat kencang dan semakin dekat ke pos. Para relawan, teman-teman Pokdarwis, masyarakat Tanjung Harapan, dan pihak Balai sudah mencoba melakukan yang terbaik," ungkap Deny dalam dokumentasi lapangannya.
Turunnya hujan deras akhirnya menjadi angin segar bagi upaya pemadaman yang sebelumnya sempat kewalahan. Hujan disertai angin kencang mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah setelah hampir lima bulan dilanda musim kemarau dan kabut asap pekat.
Hasil Modifikasi Cuaca
Di Kabupaten Banjar, hujan deras mengguyur selama kurang lebih 16 menit. Warga dan para relawan menyambut fenomena tersebut dengan penuh sukacita.
Hujan di wilayah Kalimantan Selatan itu diklaim sebagai hasil operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang digencarkan Lanud Sjamsudin Noor bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak 10 Oktober lalu.
Selain Kabupaten Banjar, guyuran hujan juga dilaporkan membasahi wilayah Banjarbaru dan Kotabaru. Meski demikian, beberapa daerah lainnya masih terpantau diselimuti kabut asap.
Perbedaan lokasi dan waktu kejadian dalam laporan sejumlah media tidak mengubah inti peristiwa: para relawan yang telah berbulan-bulan menantikan hujan akhirnya bisa bernapas lega. Sujud syukur di jalan menjadi simbol kelegaan sekaligus pengingat beratnya perjuangan memadamkan karhutla di tengah cuaca ekstrem.
Hujan deras tiba-tiba turun saat karhutla, para relawan terharu langsung sujud syukur di jalan menjadi gambaran nyata betapa berharganya setiap tetes air bagi mereka yang bertarung melawan api.
Meski hujan telah mengguyur, kewaspadaan tetap diperlukan. Sejumlah wilayah masih dilapisi kabut asap, dan potensi titik api baru belum sepenuhnya hilang. Operasi modifikasi cuaca serta upaya pemadaman di lapangan masih perlu dilanjutkan agar bencana karhutla tidak kembali meluas.
