Cakrawala News – 30 Oktober 2026 | BMKG gempa mencatat aktivitas kegempaan yang cukup intens di sejumlah wilayah Indonesia pada Kamis, 29 Oktober 2026. Selain 76 kejadian gempa yang terdeteksi di wilayah Tanggamus, Lampung, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga melaporkan gempa berkekuatan signifikan di Maluku dan Papua pada hari yang sama.
Analis Gempa Bumi BMKG Stasiun Lampung Utara, Febri, menyatakan aktivitas kegempaan di Tanggamus masih tercatat hingga hari ini. Gempa terbesar yang terdeteksi memiliki magnitudo 4,7.
“Dari tanggal 28 Oktober sampai hari ini, kejadian gempa yang terjadi di wilayah Tanggamus sudah sebanyak 76 kejadian gempa,” kata Febri, Kamis (29/10/2026).
Menurut Febri, rangkaian gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar di wilayah Tanggamus. Aktivitas pada sesar itulah yang menyebabkan terjadinya gempa bumi yang tercatat oleh BMKG.
“Penyebab dari terjadinya gempa tersebut adanya aktivitas sesar yang terjadi di wilayah Tanggamus,” ujarnya.
Tiga Gempa Dirasakan Warga
Dari total 76 kejadian gempa yang tercatat selama dua hari tersebut, hanya tiga gempa yang dirasakan masyarakat. Sisanya tercatat melalui pemantauan BMKG tanpa laporan guncangan yang dirasakan warga.
“Dari 76 gempa di Tanggamus, ada tiga gempa yang dirasakan warga,” ucap Febri.
Terkait kemungkinan munculnya gempa dengan kekuatan lebih besar, Febri menegaskan BMKG belum dapat memprediksi hal tersebut. Menurutnya, gempa bumi hingga kini belum bisa dipastikan kapan terjadi dan berapa besar kekuatannya.
“Untuk adakah potensi gempa yang lebih besar dari sebelumnya masih belum bisa kami prediksi, ya, karena gempa bumi masih belum bisa diprediksi,” jelasnya.
BMKG mengimbau masyarakat di Tanggamus dan wilayah sekitarnya agar tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya. Warga diminta mengikuti perkembangan aktivitas gempa melalui kanal informasi resmi BMKG.
Gempa Menengah di Laut Banda
Pada hari yang sama, gempa bumi berkekuatan besar mengguncang wilayah Laut Banda, Maluku, sekitar pukul 05.06 WIB. BMKG mencatat parameter pemutakhiran gempa ini dengan magnitudo M6,2.
Episenter gempa terletak pada koordinat 6,34 derajat Lintang Selatan dan 130,48 derajat Bujur Timur, tepatnya di laut pada jarak 203 kilometer arah barat laut Tanimbar, Maluku, dengan kedalaman hiposenter 164 kilometer.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, memastikan berdasarkan hasil pemodelan matematika, gempa ini tidak berpotensi memicu tsunami.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat adanya aktivitas deformasi dalam lempeng (intraslab) di Laut Banda. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan geser turun (oblique normal),” ujar Wijayanto dalam keterangan resminya.
Guncangan gempa ini dirasakan cukup luas hingga ke provinsi tetangga dengan skala intensitas III MMI, yaitu getaran dirasakan nyata dalam rumah dan terasa seakan-akan ada truk berat berlalu. Wilayah yang merasakan guncangan meliputi Banda Naira, Tanimbar, Kaimana, dan Sorong.
Sementara itu, laporan lain menyebut gempa di kawasan Tanimbar tercatat dengan magnitudo 6,4 pada pukul 05.06 WIB dengan kedalaman 160 kilometer. Perbedaan angka magnitudo dan kedalaman ini merupakan hal umum dalam pemutakhiran parameter gempa oleh BMKG. Hingga berita ini ditulis, belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat gempa tersebut.
Gempa Dangkal di Oksibil Papua
Gempa juga mengguncang Oksibil, Papua Pegunungan, pada Kamis (29/10/2026) pukul 10.26 WIB. BMKG awalnya mencatat gempa berkekuatan M6,0, kemudian memperbarui parameternya menjadi M5,9 pada kedalaman 42 kilometer.
Pusat gempa berlokasi di darat, 171 kilometer tenggara Oksibil, Papua Pegunungan. Wijayanto menyatakan hasil pemodelan tsunami menunjukkan gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa tersebut merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme sesar geser (strike slip).
Berdasarkan laporan masyarakat, gempa ini dirasakan dengan skala intensitas III MMI. Getaran dirasakan nyata dalam rumah dan terasa seakan-akan ada truk berlalu di Boven Digoel.
Wilayah Rawan dan Imbauan Waspada
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di Indonesia terus berlangsung, baik di zona sesar daratan seperti di Tanggamus maupun di zona pertemuan lempeng seperti di Laut Banda dan Papua. Wilayah Tanimbar, misalnya, dikenal aktif secara tektonik karena berada di zona pertemuan lempeng.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar bahkan telah menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami pada Juni 2026 untuk melatih kesiapan warga menghadapi bencana.
BMKG secara konsisten mengimbau masyarakat tetap tenang, waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta memantau perkembangan aktivitas gempa hanya melalui kanal resmi BMKG.
Bagi masyarakat di wilayah rawan gempa, pemahaman soal jalur evakuasi dan prosedur keselamatan tetap menjadi bekal penting. Informasi resmi dari BMKG menjadi rujukan utama agar warga tidak panik menghadapi rangkaian gempa yang terus tercatat.
