Cakrawala News – 23 September 2026 | Riyadh jadi sasaran Houthi, AS peringatkan eskalasi perang Yaman setelah kelompok milisi yang didukung Iran itu mengklaim meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak ke sejumlah lokasi sensitif di ibu kota Arab Saudi. Peringatan itu disampaikan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Sabtu (19/9/2026), yang menilai konflik antara Arab Saudi dan Houthi dapat meningkat dengan cepat dan tanpa terduga.
Washington meminta warga Amerika yang berada di luar kawasan untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan menuju atau melintasi Timur Tengah. Peringatan keamanan baru juga dikeluarkan oleh 11 kedutaan besar AS di kawasan, mencakup destinasi penerbangan internasional penting seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yordania.
“Warga Amerika di luar Timur Tengah harus secara serius mempertimbangkan kembali perjalanan ke dan melalui kawasan tersebut,” demikian peringatan Departemen Luar Negeri AS. Warga Amerika yang telah berada di kawasan diminta meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menghadapi pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, maupun gangguan perjalanan lainnya.
Klaim Serangan Houthi dan Bantahan Koalisi Saudi
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyampaikan melalui Telegram bahwa kelompoknya menjalankan dua operasi militer menggunakan sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak. Sasaran pertama disebut menyasar situs-situs sensitif di Riyadh, sedangkan sasaran kedua mengincar fasilitas Aramco di Yanbu.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan pertahanan udaranya berhasil menghancurkan rudal yang ditembakkan Houthi menuju Riyadh. Koalisi juga mengklaim menggagalkan serangan lain terhadap Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu. Menurut pernyataan koalisi melalui platform X, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut.
Meski demikian, kesaksian jurnalis Agence France-Presse menyebut dua ledakan terdengar dan sebuah tangki bahan bakar berlogo Aramco terbakar di dekat Bandara Internasional King Khalid. Kobaran api dan kepulan asap hitam besar terlihat di kawasan dekat bandara, meski hubungan langsung antara kebakaran tersebut dan serangan Houthi belum dipastikan secara independen. Pemerintah Saudi tidak segera memberikan penjelasan mengenai penyebab kebakaran itu.
Warga setempat dilaporkan mendengar sirene peringatan serangan udara dan merasakan guncangan pada jendela rumah mereka. Otoritas Arab Saudi kemudian mengeluarkan peringatan agar warga tetap berlindung di dalam ruangan, sebuah langkah yang disebut belum pernah dilakukan sebelumnya. Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi mencabut peringatan bahaya tersebut sekitar setengah jam setelah ledakan terdengar.
Dukungan AS dan Penjualan Jet Tempur F-35
Di tengah eskalasi tersebut, Departemen Luar Negeri AS menyetujui penjualan 48 jet tempur F-35 senilai 24,3 miliar dolar AS atau setara Rp432 triliun kepada Arab Saudi. Langkah itu disebut untuk membantu kerajaan menghadapi ancaman saat ini dan masa depan.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan Washington berdiri teguh bersama Arab Saudi melawan terorisme Houthi, sembari terus berkonsultasi erat dengan mitra Saudi. Namun, platform berita Axios melaporkan Washington sebelumnya sempat menolak permintaan Saudi untuk melancarkan serangan langsung terhadap posisi Houthi.
Laporan CNN menyebut Arab Saudi dan AS belum memiliki rencana yang jelas untuk menghadapi Houthi setelah kelompok itu menguasai sebuah pulau strategis di Laut Merah. Sejumlah pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan laporan intelijen selama berbulan-bulan telah menunjukkan Houthi akan berusaha menutup jalur perairan penting bagi pelayaran komersial. Washington disebut telah meningkatkan dukungan intelijen dan memberikan data sasaran kepada Arab Saudi, tetapi dukungan itu dinilai belum cukup membantu pasukan Saudi memukul mundur Houthi.
Perubahan jadwal mendadak Presiden AS Donald Trump juga menjadi sorotan. Trump mempersingkat kegiatannya di Camp David dan kembali ke Gedung Putih pada Sabtu (19/9). Pemerintah AS tidak memberikan penjelasan resmi mengenai perubahan jadwal tersebut, yang terjadi bersamaan dengan eskalasi militer besar terhadap Arab Saudi.
Penguasaan Selat Bab el-Mandeb dan Krisis Kemanusiaan
Anggota Biro Politik Houthi, Mohamed al-Bukhaiti, mengatakan kelompoknya telah memperluas penguasaan wilayah di Yaman bagian barat, termasuk memblokade Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Dalam wawancara dengan Associated Press, ia menyatakan Houthi tidak berniat menyerang kapal-kapal AS di Laut Merah, tetapi tetap mengancam seluruh aktivitas yang berkaitan dengan Arab Saudi.
“Kami tidak menargetkan Amerika Serikat maupun negara lain di selat tersebut, dengan satu-satunya pengecualian adalah musuh kami, Arab Saudi,” kata al-Bukhaiti. Ia menegaskan serangan terhadap Arab Saudi akan berlanjut sampai Riyadh mengakhiri blokade selama satu dekade terhadap wilayah-wilayah Yaman yang dikuasai Houthi dan mengizinkan kapal mencapai pelabuhan di sepanjang Laut Merah.
Houthi juga menyatakan bersedia kembali ke meja perundingan dengan syarat blokade Saudi dihentikan. Kemajuan pasukan pemberontak membuat Houthi menguasai kota pelabuhan penting Mokha serta sejumlah pulau strategis di Laut Merah, memungkinkan mereka memantau lalu lintas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb yang menjadi jalur bagi 12 persen perdagangan dunia.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan serangan kilat tersebut telah menyebabkan lebih dari 110 ribu orang mengungsi dan ratusan orang tewas. Gempuran itu mulai mengganggu ekspor minyak Saudi serta lalu lintas pelayaran maritim di kawasan Laut Merah. Rangkaian serangan udara balasan yang dilancarkan pasukan Saudi sejauh ini belum berhasil menghentikan laju pergerakan kelompok tersebut.
Konflik Yaman bermula pada 2014 ketika Houthi menguasai ibu kota Sanaa, yang kemudian memicu intervensi militer pimpinan Saudi pada Maret 2015. Gencatan senjata yang sempat tercapai pada 2022 runtuh pada Juli setelah Houthi mengizinkan pesawat Iran mendarat di Yaman. Ketegangan semakin memuncak setelah Arab Saudi menuduh Houthi menargetkan Kota Mekah pada awal pekan, meski tuduhan itu dibantah keras oleh Houthi sebagai kebohongan usang.
Dengan Riyadh jadi sasaran Houthi, AS peringatkan eskalasi perang Yaman yang berpotensi meluas ke sejumlah titik baru di kawasan. Perhatian berikutnya tertuju pada apakah blokade Selat Bab el-Mandeb berlanjut dan bagaimana respons Arab Saudi serta Amerika Serikat menghadapi tekanan militer Houthi yang semakin presisi.












