Cakrawala News – 03 Oktober 2026 | Saham GOTO ramai diperdagangkan, analis menyoroti valuasi dan buyback menjadi sorotan utama di pasar modal Indonesia pada perdagangan Senin (28/9). Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) langsung terjun ke batas auto rejection bawah (ARB) 14% ke level Rp 43 per saham begitu bursa dibuka, seiring penerapan aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 mulai hari ini. Antrean jual saham GOTO pun membengkak hingga menembus lebih dari 1 miliar lot pada level tersebut.
Berdasarkan data pasar hingga penutupan sore, volume saham GOTO yang diperdagangkan tercatat Rp 132,94 juta dengan nilai transaksi Rp 5,72 miliar. Jika seluruh antrean jual di harga Rp 43 diserap pasar, dibutuhkan dana sekitar Rp 4,49 triliun untuk menjebol dinding antrean tersebut. Kapitalisasi pasar GOTO saat ini mencapai Rp 49,04 triliun. Sebelumnya, saham GOTO telah tertahan di level gocap atau Rp 50 sejak 5 Mei 2026.
Analis Soroti Valuasi dan Potensi Penurunan Lanjutan
Research Analyst Bumiputera Sekuritas, Muhammad Thoriq Fadilla, menilai tidak tertutup kemungkinan saham GOTO melanjutkan penurunan. Meski begitu, ia menilai area harga Rp 25 hingga Rp 30 lebih tepat dipandang sebagai skenario downside atau potensi level terbawah, bukan sebagai fair value utama saham GOTO. Dengan Book Value Per Share (BVPS) GOTO sekitar Rp 27 per saham, harga tersebut mencerminkan valuasi sekitar 0,9 hingga 1,1 kali PBV atau sudah mendekati nilai bukunya.
Namun, Thoriq menegaskan level Rp 25 hingga Rp 30 bukan level pasti harga dasar GOTO. Menurutnya, pergerakan saham GOTO masih didominasi dinamika supply-demand, tekanan jual usai implementasi batas harga Rp 1, serta sentimen pasar. Selain itu, kemampuan perseroan mempertahankan perbaikan kinerja secara konsisten juga menjadi penentu. “Jadi, area tersebut lebih tepat dilihat sebagai zona valuasi rendah yang berpotensi menjadi area support jika tekanan jual kembali membesar,” ucap Thoriq kepada Katadata.co.id, Senin (28/9).
Thoriq menghitung fair value GOTO dengan mengacu pada fundamental dan multiple valuasi. Dengan harga saham sekitar Rp 43 dan PBV 1,57 kali, BVPS GOTO berada di kisaran Rp 27,4 per saham. Apabila pasar memberikan valuasi 2 hingga 2,2 kali PBV, harga wajar indikatif GOTO berada di kisaran Rp 55 hingga Rp 60 per saham. Sementara jika valuasinya mampu mendekati rata-rata sektor sebesar 2,79 kali PBV, implied value saham GOTO dapat mencapai sekitar Rp 76 per saham.
Tekanan Jual Masih Berlanjut
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan secara teknikal saham GOTO masih bergerak dalam tren penurunan yang membentuk pola parallel channel. Menurutnya, saham GOTO berpotensi menguji area support di kisaran Rp 36 hingga Rp 27. “Lihat teknikal aja deh dulu, kira-kira ke Rp 27 (fair value GOTO),” kata Liza kepada Katadata.co.id, Senin (28/9).
Liza juga menyoroti perdagangan saham GOTO pada 15 menit pertama setelah pasar dibuka yang langsung menyentuh batas ARB di harga Rp 43, dengan transaksi baru mencapai sekitar 482 ribu lot. Ia menilai jika ada investor yang ingin menjual 1 juta lot saja belum tentu terjual, apalagi institusi asing yang menggenggam puluhan juta lot atau miliaran lembar saham. “Berdasarkan logika sederhana di atas, most likely guyuran GOTO masih akan berlanjut besok-besok,” tambah Liza.
Manajemen Klaim Fundamental Bisnis Tetap Kuat
Di sisi lain, Head of Corporate Affairs GOTO, Audrey Petriny, mengatakan harga saham GOTO saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis perseroan yang terus menguat. “Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp 50,” kata Audrey dalam keterangan resmi, dikutip Senin (28/9).
Audrey menegaskan kinerja bisnis GOTO terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada kuartal II/2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar dan membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut. Pencapaian ini menjadi sinyal perbaikan kinerja perseroan di tengah tekanan pasar terhadap harga sahamnya.
Dengan demikian, saham GOTO ramai diperdagangkan, analis menyoroti valuasi dan buyback sebagai dua faktor yang perlu dicermati investor ke depan. Perbedaan pandangan antara analis yang melihat risiko penurunan lebih lanjut dan manajemen yang menekankan perbaikan fundamental menunjukkan masih adanya ketidakpastian arah harga saham GOTO dalam jangka pendek.
Investor disarankan mencermati dinamika supply-demand, perkembangan kinerja kuartalan perseroan, serta potensi aksi korporasi seperti buyback yang dapat memengaruhi valuasi saham GOTO ke depan. Pergerakan saham GOTO pasca penerapan batas harga minimum baru BEI akan menjadi indikator penting bagi sentimen pasar terhadap emiten teknologi tersebut.












