Sekat Bakar 3,2 Km di Barito Utara Jadi Benteng Karhutla, Menhut Tegaskan Lindungi Habitat Orangutan

Sekat Bakar 3,2 Km di Barito Utara Jadi Benteng Karhutla, Menhut Tegaskan Lindungi Habitat Orangutan
Sekat Bakar 3,2 Km di Barito Utara Jadi Benteng Karhutla, Menhut Tegaskan Lindungi Habitat Orangutan

Cakrawala News – 03 November 2026 | Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan komitmen pemerintah menjaga kawasan hutan Kalimantan setelah meninjau langsung sekat bakar sepanjang 3,2 kilometer di Desa Paring Lahung, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjadikan sekat bakar jadi benteng cegah karhutla meluas, menhut tegaskan untuk lindungi habitat orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang hidup di kawasan tersebut. Peninjauan dilakukan bersama pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit, pada Sabtu (31/10/2026).

Dalam kunjungan itu, Menhut berjalan menyusuri jalur sekat bakar untuk melihat kondisi pembatas antara area yang telah terbakar dan kawasan hutan yang masih hijau. Pada satu sisi terlihat bekas kebakaran, sementara vegetasi di sisi lainnya masih tampak utuh. Kondisi tersebut, menurut keterangan Kementerian Kehutanan, menunjukkan peran sekat bakar dalam membatasi pergerakan api menuju kawasan yang belum terbakar.

Dibangun Sejak September 2026

Pembangunan sekat bakar dimulai pada 11 September 2026. Menurut Menhut, pembuatan jalur penghambat api ini merupakan bagian dari upaya menghambat penjalaran api sekaligus memberikan ruang bagi tim di lapangan untuk melakukan penanganan karhutla secara lebih efektif.

Keputusan membangun sekat bakar diambil setelah upaya pemadaman yang dilakukan berulang kali belum mampu menghentikan kebakaran. Chanee Kalaweit menyatakan tim sebelumnya telah berupaya memadamkan api selama sekitar 10 hari, tetapi kebakaran kembali terjadi.

“Sebelum ambil keputusan ini (bikin sekat bakar) pernah berkomunikasi dengan bapak Menteri, 10 hari sudah coba, padamin-padamin, cukup confident ternyata apinya nyala lagi,” kata Chanee.

Sebelumnya, pendiri Yayasan Kalaweit itu juga meminta bantuan melalui media sosial untuk menangani kebakaran yang mengancam kawasan hutan. Seruan tersebut menjadi salah satu pemicu perhatian berbagai pihak terhadap penanganan kebakaran di wilayah itu.

Melibatkan Berbagai Pihak

Pembangunan sekat bakar tidak dikerjakan sendirian. Menurut keterangan Kementerian Kehutanan, proses pembuatan jalur tersebut melibatkan Chanee bersama Manggala Agni Kementerian Kehutanan, petugas pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Utara, serta masyarakat setempat. Sejumlah perusahaan turut memberikan dukungan berupa penggunaan alat berat untuk mempercepat proses pembuatan sekat.

Kolaborasi lintas pihak ini dinilai penting karena karhutla di kawasan gambut dan hutan Kalimantan kerap sulit dipadamkan hanya dengan cara konvensional. Selain menghambat penjalaran api, sekat bakar memberi ruang bagi petugas untuk melakukan penanganan secara lebih terencana.

Keberadaan sekat bakar juga dinilai membantu melindungi habitat orangutan Kalimantan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kawasan hutan di Barito Utara merupakan salah satu wilayah yang menjadi tempat hidup satwa dilindungi tersebut, sehingga upaya pengendalian api di kawasan ini memiliki arti penting bagi konservasi.

Penanganan Karhutla Secara Nasional

Persoalan karhutla bukan hanya terjadi di Kalimantan Tengah. Dalam rangkuman wartawan humaniora, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyebutkan lebih dari 100.000 personel tergabung dan terlibat aktif dalam Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan sepanjang tahun 2026. Angka tersebut menunjukkan skala penanganan karhutla yang melibatkan banyak pihak di tingkat nasional.

Sementara itu, bencana hidrometeorologi juga terjadi di sejumlah daerah. Di Aceh, banjir yang disebabkan tingginya intensitas hujan dan meluapnya Daerah Aliran Sungai Krueng Meureubo serta Krueng Woyla merendam ratusan rumah warga dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 100 sentimeter. Banjir tersebut tersebar di 17 desa di Kecamatan Pante Ceureumen, Woyla Barat, Arongan Lambalek, dan Kecamatan Sungai Mas, Aceh Barat.

Dua persoalan berbeda itu, karhutla dan banjir, sama-sama menuntut kesiapsiagaan pemerintah daerah serta masyarakat. Namun khusus untuk karhutla di Barito Utara, sekat bakar menjadi salah satu instrumen yang dinilai efektif mencegah perluasan area terbakar.

Yang Perlu Diperhatikan ke Depan

Meski dinilai berhasil membatasi penjalaran api, keberhasilan sekat bakar tetap bergantung pada pemantauan berkelanjutan. Api yang kembali menyala di lahan gambut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Karena itu, perawatan jalur sekat dan kesiapan personel di lapangan menjadi faktor penting agar fungsi sekat bakar jadi benteng cegah karhutla meluas, menhut tegaskan untuk lindungi habitat orangutan tetap terjaga.

Peninjauan oleh Menhut sekaligus menjadi penegasan bahwa perlindungan habitat orangutan Kalimantan tidak bisa dipisahkan dari upaya pengendalian kebakaran hutan. Dengan keterlibatan Manggala Agni, BPBD, masyarakat, dan dukungan perusahaan, diharapkan kawasan hutan di Barito Utara tetap lestari sekaligus aman dari ancaman api pada musim kemarau berikutnya.

Exit mobile version