Cakrawala News – 25 Oktober 2026 | Sistem pertahanan Korkut sudah terjual ke-9 negara, termasuk Ukraina, menjadi salah satu bukti kebangkitan industri persenjataan Turki yang kini mendapat pengakuan terbuka dari NATO. Perkembangan ini menandai perubahan posisi Ankara yang selama puluhan tahun mengandalkan pembelian senjata dari luar negeri, kini berbalik menjadi pengembang sekaligus pemasok sistem militer bagi negara-negara lain.
Pengakuan tersebut datang langsung dari Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte ketika mengunjungi fasilitas perusahaan elektronik pertahanan ASELSAN di Ankara pada 22 April 2026. Dalam kunjungan itu, Rutte menilai negara-negara anggota aliansi dapat mengambil pelajaran dari keberhasilan Turki membangun kemampuan industri pertahanannya.
“Kita dapat belajar banyak dari apa yang dilakukan Turki di sini,” kata Rutte, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency dan Hurriyet Daily News.
Rutte secara khusus menggambarkan transformasi industri pertahanan Turki sebagai sebuah revolusi. Menurutnya, perubahan yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir ini merupakan lompatan besar yang layak dicontoh negara anggota NATO lainnya.
Dari Pengimpor Menjadi Pengekspor
Perubahan itu semakin terlihat ketika sejumlah negara anggota NATO memperluas kerja sama industri pertahanan dengan Ankara. Kanada, salah satu anggota G7 sekaligus sekutu Turki di NATO, menjadi contoh terbaru setelah kedua negara menyepakati penguatan hubungan pertahanan dalam kunjungan Perdana Menteri Mark Carney ke Ankara pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Dalam pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Carney dan pemerintah Turki menyepakati kerja sama yang mencakup industri pertahanan, transportasi, dan energi. Kerja sama pertahanan tersebut diarahkan untuk mempertemukan perusahaan-perusahaan kedua negara, memperluas peluang industri, serta memperkuat kemampuan pertahanan bersama dalam kerangka NATO.
Turki tidak lagi hanya dipandang sebagai pasar bagi produsen persenjataan Barat. Negara itu kini semakin diperhitungkan sebagai mitra pengembangan teknologi dan pemasok sistem pertahanan, mulai dari pesawat nirawak atau drone, kendaraan lapis baja, kapal perang, sistem elektronik pertahanan, hingga teknologi pertahanan udara.
Posisi itu diperkuat oleh catatan ekspor militer Turki yang menembus nilai besar. Sistem pertahanan Korkut sudah terjual ke-9 negara, termasuk Ukraina, menjadikannya salah satu produk pertahanan udara buatan Ankara yang paling diminati di pasar internasional.
Relevansi bagi Pertahanan Udara Ukraina
Masuknya Ukraina sebagai salah satu pengguna Korkut relevan dengan situasi di medan perang, di mana Kyiv menghadapi tekanan serangan udara Rusia yang semakin kompleks. Sistem pertahanan udara menjadi kebutuhan mendesak bagi Ukraina yang terus berupaya menghadapi gelombang serangan rudal dan drone.
Tekanan terbaru terlihat dalam serangan terhadap ibu kota Ukraina pada Rabu, 21 Oktober 2026 malam hingga Kamis, 22 Oktober 2026 dini hari. Menurut keterangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang dilaporkan Reuters, Rusia meluncurkan sedikitnya 21 rudal balistik dalam tiga gelombang serangan ke Kyiv.
Associated Press melaporkan serangan rudal Rusia di Kyiv menewaskan sedikitnya empat warga sipil dan melukai puluhan orang, termasuk anak-anak. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan akibat hantaman rudal dan pecahan proyektil.
Rusia tidak hanya mengandalkan satu jenis senjata. Dalam serangan sepanjang Oktober, Moskow menggunakan kombinasi rudal balistik, rudal jelajah, rudal antikapal yang diarahkan ke sasaran darat, serta drone serang dan drone pengecoh. Strategi itu memaksa Ukraina menghadapi ancaman dengan kecepatan, ketinggian, dan pola penerbangan berbeda dalam waktu hampir bersamaan.
Salah satu serangan yang memperlihatkan kompleksitas ancaman tersebut berlangsung pada 14 Oktober 2026. Mengutip Angkatan Udara Ukraina, media Ukraina The New Voice of Ukraine melaporkan Rusia meluncurkan 167 sarana serangan udara dalam satu malam, mencakup 128 drone dan 39 rudal dari sejumlah kategori, termasuk Iskander-M, KN-23, S-400 yang digunakan dalam peran serangan, Zircon, dan Onyx.
Tekanan pada Persediaan Rudal Pencegat
Serangan berlapis tersebut tidak hanya menguji kemampuan Kyiv menghancurkan sasaran di udara, tetapi juga menguras persediaan rudal pencegat yang semakin sulit diperoleh. Meski telah menerima sistem pertahanan canggih dari negara-negara Barat, kemampuan Ukraina menghadapi serangan balistik dalam jumlah besar masih sangat bergantung pada ketersediaan rudal pencegat.
Dalam konteks inilah kebutuhan akan sistem pertahanan udara yang efisien dan terjangkau menjadi kian penting. Sistem pertahanan Korkut sudah terjual ke-9 negara, termasuk Ukraina, menunjukkan bahwa Ankara mampu menawarkan alternatif yang diminati pasar, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemain utama industri pertahanan global.
Pengakuan NATO dan perluasan kerja sama dengan negara-negara anggota aliansi menjadi sinyal bahwa industri pertahanan Turki akan terus memainkan peran lebih besar dalam peta keamanan Eropa. Bagi Ankara, capaian ini sekaligus menegaskan bahwa transformasi yang disebut Rutte sebagai revolusi industri pertahanan bukan sekadar narasi, melainkan kenyataan yang terukur melalui ekspor dan kerja sama internasional.
Ke depan, yang perlu dicermati adalah bagaimana Turki mempertahankan momentum tersebut di tengah persaingan pasar senjata global dan dinamika keamanan yang berubah. Bagi Ukraina, ketersediaan sistem pertahanan udara tambahan akan tetap menjadi faktor krusial dalam menghadapi tekanan serangan Rusia yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.












