Cakrawala News – 26 September 2026 | Terungkap, delapan tentara AS coba bunuh diri di USS Lincoln selama penugasan perang menghadapi Iran. Fakta ini disampaikan Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat Hung Cao melalui surat resmi kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, yang menandai salah satu pengungkapan paling serius mengenai tekanan mental awak kapal induk dalam beberapa tahun terakhir.
Surat tersebut merupakan balasan atas pertanyaan Senator Demokrat Kirsten Gillibrand mengenai kualitas hidup, moral, dan laporan anggota awak yang berupaya menyakiti diri sendiri. Cao menyatakan tidak ada personel yang meninggal akibat bunuh diri selama masa penugasan berlangsung, namun ia mengonfirmasi adanya sejumlah insiden berbahaya yang melibatkan upaya terjun ke laut.
Delapan Kasus di Berbagai Unit Gugus Tempur
Delapan upaya bunuh diri itu tidak hanya melibatkan awak kapal induk USS Abraham Lincoln. Data tersebut mencakup personel sayap udara kapal induk, staf gugus tempur, staf skuadron kapal perusak, awak kapal perusak pengawal, hingga seluruh skuadron penerbangan yang ikut dalam penugasan. Gugus tempur USS Abraham Lincoln sendiri terdiri dari sekitar enam kapal dengan total 6.000 hingga 7.000 pelaut Angkatan Laut AS.
Dua insiden di antaranya berlangsung dramatis. Cao mengonfirmasi seorang personel dari sayap udara melompat ke laut pada awal Agustus, namun berhasil diselamatkan dengan cepat oleh helikopter Angkatan Laut AS, mendapat penanganan medis di atas kapal, lalu dipindahkan untuk perawatan lanjutan. Insiden serupa terjadi pada Maret ketika seorang pelaut berupaya melompat ke laut, tetapi aksinya digagalkan oleh rekan-rekannya sebelum ia dipulangkan ke pangkalan induk untuk perawatan medis.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan penugasan gugus tempur kapal induk pada umumnya. Seorang pejabat militer AS yang dikutip CNN menyebut delapan percobaan bunuh diri sebagai angka yang sangat tinggi, karena penugasan serupa dalam beberapa tahun terakhir biasanya hanya mencatat sekitar satu atau dua kasus per tahun.
“Delapan upaya bunuh diri adalah angka yang sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan tingkat stres yang serius,” kata mantan Hakim Advokat Jenderal AL AS Donald J. Guter.
Lebih dari 300 Hari di Laut Tanpa Singgah
Beban misi yang panjang menjadi latar utama persoalan ini. USS Abraham Lincoln meninggalkan San Diego pada 21 November 2025 dan telah berlayar lebih dari 300 hari. Kapal induk kelas Nimitz itu bahkan bertahan di laut lepas selama 286 hari tanpa bersandar di pelabuhan mana pun, mencetak rekor masa penugasan terpanjang. Ketika tiba di Guam pada 19 September, penugasan kapal telah memasuki bulan ke-10 atau sekitar 304 hari, mendekati rekor pasca-Perang Vietnam yang dicatat USS Gerald R. Ford selama 326 hari.
Penugasan kapal awalnya dijadwalkan berakhir pada Mei, tetapi diperpanjang berulang kali menyusul pecahnya perang melawan Iran pada Februari. Ribuan prajurit baru pertama kali menginjak daratan saat kapal singgah selama sepekan di Thailand pada awal September sebelum bertolak menuju Guam. Selain satu kali singgah singkat pada Desember, para awak tidak mendapatkan kesempatan turun ke darat dalam kurun waktu tersebut.
Intensitas operasi tempur membuat awak menghadapi kondisi berbeda dibandingkan pengerahan reguler, ketika kapal biasanya dapat singgah di pelabuhan sekutu untuk mengisi perbekalan sekaligus memberi kesempatan istirahat. Laporan media AS mengaitkan masalah kekurangan pasokan dengan serangan Iran terhadap sejumlah lokasi militer AS di Timur Tengah, termasuk kerusakan parah pada pangkalan angkatan laut di Bahrain pada masa awal perang. Angkatan Laut dilaporkan terpaksa beralih menggunakan Pulau Diego Garcia di Samudra Hindia sebagai pusat pasokan utama, yang berjarak sekitar 3.540 kilometer dari lokasi operasi USS Abraham Lincoln di kawasan Teluk.
Dukungan Kesehatan Mental dan Keterbatasan Logistik
Pihak Angkatan Laut AS mengeklaim telah menyiagakan berbagai sumber daya kesehatan mental di atas kapal, termasuk seorang psikolog klinis, tiga teknisi kesehatan perilaku, seorang pekerja sosial klinis, seorang konselor pencegahan terintegrasi, seekor anjing pendamping, dan lima rohaniwan. Namun, Cao juga mengakui adanya keterbatasan pasokan logistik karena kapal menjalankan operasi tempur berskala besar, yang berdampak pada pengurangan pilihan hidangan utama saat jam makan dari dua pilihan menjadi hanya satu.
Keluarga prajurit melaporkan bahwa kelelahan ekstrem dan jam kerja padat tetap memicu kecemasan di kalangan awak kapal. Pengungkapan terungkap, delapan tentara AS coba bunuh diri di USS Lincoln ini juga bertolak belakang dengan sikap pemerintah AS beberapa pekan sebelumnya. Pada Agustus, Presiden AS Donald Trump sempat menepis kekhawatiran publik perihal gangguan kesehatan jiwa para awak kapal dan menilai masa penugasan tersebut belum cukup lama.
Desakan kini mengarah kepada parlemen dan pemerintah AS agar mengevaluasi keselamatan serta kesejahteraan prajurit. Publikasi surat Cao kepada Senat menjadi titik terang setelah berbulan-bulan laporan mengenai tekanan mental, persoalan logistik, dan rendahnya moral sebagian awak kapal beredar tanpa konfirmasi resmi.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah Angkatan Laut AS memperbaiki durasi penugasan, rotasi awak, dan akses layanan kesehatan mental di gugus tempur. Tanpa perbaikan itu, kekhawatiran serupa berpotensi terulang pada pengerahan kapal induk berikutnya, terutama saat operasi tempur berlangsung intens dan kunjungan pelabuhan menjadi sangat terbatas.
