Cakrawala News – 20 September 2026 | Jakarta – Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75–4 persen. Keputusan ini menandai kenaikan pertama sejak 2023 dan langsung memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menuntut The Fed segera memangkas suku bunga. Peristiwa inilah yang membuat The Fed naikkan bunga ke 4 persen, bikin Trump meradang, sekaligus memicu kekhawatiran baru bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Keputusan tersebut diambil dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu (16/9/2026) dan disetujui secara bulat. Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan kenaikan ini diperlukan karena inflasi AS masih terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama. “Faktanya jelas, inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama,” kata Warsh dalam konferensi pers, seperti dikutip dari AFP, Kamis (17/9/2026).
Warsh menegaskan bahwa langkah ini adalah keputusan serius, namun diperlukan untuk menjaga stabilitas harga. Ia juga menyebut bahwa The Fed tidak akan terpengaruh tekanan politik dari Gedung Putih. Sikap ini berbeda dengan pendahulunya, Jerome Powell, yang sempat terlibat friksi terbuka dengan Trump.
Trump Desak Suku Bunga 1 Persen
Trump merespons kenaikan tersebut dengan keras. Dalam unggahannya, ia menyatakan bahwa suku bunga AS seharusnya berada di level 1 persen atau bahkan lebih rendah. Menurutnya, AS adalah negara dengan kredit terbaik di dunia, jauh lebih baik dari negara lain.
“Suku bunga di Amerika Serikat seharusnya 1 persen atau kurang dari itu, karena kami adalah negara dengan kredit terbaik di dunia; jauh lebih baik dari yang lain,” tulis Trump. Ia juga mengklaim AS sedang mengalami ledakan investasi baru dan menuntut, “Turunkan suku bunga Amerika Serikat. Segera!”
Trump sebelumnya telah berulang kali mengkritik Powell karena dianggap lambat menurunkan suku bunga. Kini, ia mengarahkan kritiknya kepada Warsh, meski pada akhir Mei 2026 ia sempat menyatakan dukungan kepada Warsh sebagai ketua baru The Fed yang akan memodernisasi bank sentral.
Inflasi AS Masih di Atas Target
Kenaikan suku bunga ini dilatarbelakangi oleh inflasi AS yang masih jauh di atas target 2 persen. Data CPI Agustus tercatat 3,4 persen secara tahunan. Proyeksi inflasi PCE untuk 2026 mencapai 3,7 persen dan diperkirakan baru kembali ke target pada 2029.
Selain itu, pertumbuhan PDB riil AS diproyeksikan 2,3 persen dengan tingkat pengangguran 4,1 persen. Warsh menilai belanja domestik tetap tangguh, produktivitas kuat, dan pasar tenaga kerja menguat. “Artinya, ekonomi AS masih cukup kuat untuk menanggung pengetatan,” ujarnya.
Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan memperkirakan setidaknya satu kenaikan lagi sebelum akhir 2026. Ini menandakan perubahan rezim dari higher-for-longer menjadi higher-again, yang berpotensi memberikan tekanan lebih besar pada mata uang negara berkembang.
Dampak bagi Indonesia
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin mungkin tampak kecil, tetapi dampaknya bagi rupiah bisa jauh lebih besar. “Ancaman bagi rupiah bukan satu Fed hike, melainkan perubahan rezim,” kata Syafruddin dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, ketika The Fed menaikkan suku bunga dan pasar memperkirakan kenaikan lanjutan, imbal hasil aset dolar menjadi lebih menarik. Yield treasury 10 tahun terpantau sekitar 4,96 persen setelah keputusan. Investor kemudian membandingkan return aset rupiah dengan aset dolar setelah memperhitungkan risiko kurs.
Jika selisih return menyempit sementara risiko rupiah meningkat, modal global cenderung tidak mengambil risiko tambahan di Indonesia. Dolar menguat, permintaan lindung nilai meningkat, dan tekanan terhadap rupiah dapat membesar.
Pelemahan rupiah akan membuat biaya impor bahan baku, mesin, dan barang luar negeri menjadi lebih mahal. Perusahaan dapat menghadapi kenaikan biaya usaha. Namun, dampak ke harga domestik tidak serta-merta terjadi karena bergantung pada kontrak perdagangan, biaya produksi, dan kemampuan perusahaan menyerap kenaikan.
Bank Indonesia sendiri telah menghadapi tekanan terhadap rupiah sepanjang 2026 dan sebelumnya menaikkan suku bunga untuk menstabilkan mata uang. Pada Juli 2026, BI mempertahankan suku bunga setelah kenaikan sebelumnya. Ke depan, arah suku bunga AS akan menjadi salah satu pertimbangan BI dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas rupiah serta inflasi.
Bagi masyarakat, perkembangan ini dapat memengaruhi biaya pinjaman dan imbal hasil simpanan apabila suku bunga domestik ikut berubah. Namun, keputusan BI tidak otomatis mengikuti The Fed karena tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi dalam negeri.
Ekonom Yanuar Rizky dalam kanal YouTube pribadinya menilai kenaikan ini bisa jadi bagian dari strategi AS untuk memperkuat dolar. Ia mencatat indeks dolar AS naik dari kisaran 96–97 menjadi 98–99, bahkan menembus level 100 pasca-pengumuman. Yanuar juga menyebut Warsh cenderung hawkish dan tidak ingin terseret konflik dengan Trump.
Dengan demikian, keputusan The Fed naikkan bunga ke 4 persen, bikin Trump meradang, menjadi sinyal bahwa era suku bunga tinggi belum berakhir. Pasar akan mencermati setiap pernyataan Warsh dan data inflasi AS berikutnya, karena ekspektasi terhadap jalur suku bunga dapat menggerakkan arus modal global bahkan sebelum kenaikan berikutnya benar-benar diumumkan.












