Cakrawala News – 22 September 2026 | Warga jajal LRT Kelapa Gading-Manggarai, harap diperpanjang sampai Dukuh Atas menjadi sorotan pada akhir pekan pertama setelah rute baru LRT Jakarta itu resmi beroperasi. Antusiasme warga terlihat di sejumlah stasiun, mulai dari Stasiun Manggarai hingga Stasiun Velodrome dan Rawamangun, meski kepadatan penumpang di tiap titik berbeda-beda. Rute sepanjang 12,2 kilometer ini menghubungkan kawasan timur Jakarta dengan simpul transit Manggarai dan memangkas perjalanan menjadi sekitar 28 menit tanpa terjebak kemacetan jalan raya.
LRT Jakarta lintas Kelapa Gading-Manggarai diresmikan Presiden Prabowo Subianto bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Rabu (16/9/2026). Jalur tersebut memiliki 11 stasiun, yakni Kelapa Gading, Boulevard Utara Summarecon Mal, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, Velodrome, Rawamangun, Pramuka, Matraman, Proklamasi, dan Manggarai. Pada tahap awal, layanan di segmen baru Velodrome-Manggarai masih dibuka terbatas di tiga stasiun, yakni Rawamangun, Pramuka, dan Manggarai, sambil menunggu evaluasi sebelum layanan penuh diterapkan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan tarif khusus selama delapan hari pertama setelah peresmian. Pramono Anung menyatakan tarif yang dibebankan gratis atau hanya 8 rupiah pada masa tersebut. Setelah masa itu berakhir, tarif Kelapa Gading-Manggarai menjadi Rp5.000, sedangkan perjalanan Velodrome-Manggarai tetap Rp8 hingga tarif reguler definitif ditetapkan.
Animo Akhir Pekan dan Harapan Penumpang
Pantauan pada Minggu (20/9/2026) pagi di Stasiun Rawamangun dan Stasiun Velodrome pukul 08.00 WIB menunjukkan rute baru ini masih lengang. Belum terlihat penumpukan maupun antrean padat di peron arah Manggarai. Mayoritas pengguna yang menjajal rute anyar ini merupakan warga sekitar yang penasaran sekaligus memanfaatkan waktu luang pada Minggu pagi, dan sebagian besar mengaku baru pertama kali mencoba rute perpanjangan tersebut.
Sejumlah penumpang memanfaatkan rute baru menuju Stasiun Manggarai sebagai jalur alternatif untuk mencapai kawasan Sudirman-Senayan, termasuk untuk menikmati Hari Bebas Kendaraan Bermotor (Car Free Day). Anwar (21), warga Jati, mengaku sengaja naik LRT Jakarta rute baru bersama rekannya. Ia menyebut tujuannya sebenarnya ke Sudirman, tetapi perjalanan mentok di Manggarai sehingga harus transit terlebih dahulu. Ia juga mengakui Transjakarta Koridor 4 lebih dekat dari tempat tinggalnya, namun ia penasaran karena rute ini masih baru.
Hal senada diungkapkan Andika (20), warga Rawamangun, yang antusias merasakan langsung pengalaman menaiki kereta dari koridor timur menuju Stasiun Manggarai. Sementara itu, suasana berbeda terlihat sehari sebelumnya. Pantauan pada Sabtu (19/9/2026) sejak siang hari menunjukkan kepadatan di sepanjang peron arah Kelapa Gading di Stasiun LRT Manggarai. Area peron yang tidak terlalu luas membuat barisan antrean tampak memanjang dari depan hingga belakang, dan ruang gerak calon penumpang kian terbatas.
Penumpang yang datang kala itu berasal dari berbagai kalangan usia, mulai anak-anak, remaja, hingga kelompok lansia, memanfaatkan momen libur akhir pekan. Petugas keamanan stasiun tampak terus bersiaga mengatur alur antrean dan melayani pertanyaan calon penumpang, mulai informasi rute perjalanan hingga keluhan terkait waktu tunggu kedatangan kereta.
Wulan, warga asal Bogor, sengaja datang bersama suami dan kedua anaknya untuk menjajal LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai. Ia mengaku sempat mengantre sekitar 20 menit hanya untuk bisa masuk ke dalam gerbong. Wulan menilai kehadiran rute baru ini sangat membantu mobilitas masyarakat. Meski demikian, ia menyarankan agar jumlah rangkaian kereta serta frekuensi keberangkatan ditambah agar antrean penumpang tidak menumpuk. Menurutnya, kereta masih menggunakan dua gerbong dan waktu tunggu sekitar 15 menit, sehingga ia berharap jeda keberangkatan bisa dipersingkat menjadi sekitar lima menit.
Warga lainnya, Wahyu (29), juga merasakan sensasi naik LRT Kelapa Gading-Manggarai untuk pertama kali. Ia mengaku sudah berdiri mengantre selama setengah jam karena ingin pergi ke Kelapa Gading bersama teman-temannya. Ia menduga banyak orang berpikir sama, yakni ingin mencoba moda baru ini mumpung hari libur.
Manfaat dan Catatan Perbaikan
Kehadiran koridor baru ini mulai memberi pilihan perjalanan bagi warga dari kawasan Kelapa Gading dan sekitarnya. Diah Ayu (27), warga Kelapa Gading, menjadi salah satu pengguna yang merasakan manfaatnya. Sebelumnya, perjalanan menuju kawasan tempatnya bekerja mengharuskannya berganti moda setelah mencapai Velodrome. Kini ia dapat langsung menggunakan LRT hingga Manggarai sebelum melanjutkan perjalanan dengan moda lain. Diah berharap tarif setelah masa transisi tetap terjangkau dan menilai harga tiket akan ikut menentukan apakah masyarakat menjadikan LRT sebagai pilihan perjalanan harian.
Mahasiswa asal Bekasi, Jibran Novryan (18), menilai keberadaan jalur tersebut menambah alternatif perjalanan dan mengurangi penumpukan di moda lain. Ia mencontohkan kepadatan yang kerap ditemuinya saat menggunakan kereta rel listrik, sehingga kehadiran LRT dinilai bisa membuat transportasi umum tidak terlalu penuh.
Dari sisi aksesibilitas, Ajat Sudrajat, penyandang disabilitas yang tergabung dalam Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional, menilai fasilitas dan pelayanan petugas LRT Jakarta telah mendukung kebutuhan pengguna disabilitas, baik aksesibilitas fisik maupun nonfisik. Perwakilan Tim Inklusi Disabilitas Kementerian Perhubungan, Catur Gusti Nugroho, juga menyebut fasilitas ramp sekitar 10 cm cukup membantu, meski ia mencatat kursi yang dinilai sedikit keras dan menyampaikan sejumlah catatan kepada petugas untuk perbaikan ke depan. Ia menyebut waktu tempuh perjalanan berkisar 28 hingga 40 menit.
Respons positif datang dari kelompok lansia. Silvi (65) dan Lilis (66) mengaku sangat terbantu dengan hadirnya rute baru ini untuk menunjang mobilitas harian mereka. Warga Manggarai Selatan, Lia, berharap keberadaan LRT dapat mendukung kegiatan ekonomi di kawasan yang dilalui sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Meski rute baru telah beroperasi, sejumlah penumpang tetap menantikan kelanjutan jaringan. Harapan agar layanan diperpanjang hingga Dukuh Atas muncul sebagai salah satu aspirasi yang mengemuka, seiring kebutuhan konektivitas menuju kawasan pusat bisnis. Warga jajal LRT Kelapa Gading-Manggarai, harap diperpanjang sampai Dukuh Atas menjadi gambaran bahwa moda ini tidak hanya dinilai dari perjalanan yang sudah ada, tetapi juga dari rencana pengembangan berikutnya.
Evaluasi tahap awal, penambahan rangkaian dan frekuensi kereta, serta kepastian tarif reguler akan menjadi faktor penentu apakah LRT Jakarta mampu mempertahankan minat warga setelah masa tarif khusus berakhir. Perkembangan berikutnya pun masih ditunggu, terutama terkait perluasan layanan dan integrasi antarmoda yang terus dikebut pemerintah.
