Cakrawala News – 15 September 2026 | Jakmania Teror Beckham Putra di Laga Persija vs Persib,Suporter: Biasa lah Bumbu di Sepak Bola [titlebase] menjadi sorotan setelah gelandang Persib Bandung itu mendapat tekanan dari oknum suporter tuan rumah saat laga bertajuk El Clasico Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026). Teror tersebut berupa nyanyian bernada ejekan, ujaran kebencian, hingga pelemparan botol air mineral ke arah Beckham Putra Nugraha ketika ia melakukan pemanasan di belakang gawang pada babak pertama.
Laga Persija Jakarta melawan Persib Bandung sendiri berakhir dramatis. Macan Kemayoran menang 2-1 atas Maung Bandung dalam lanjutan BRI Super League 2026/2027. Namun, hasil pertandingan itu tak lepas dari insiden di tribun yang melibatkan pemain berusia 24 tahun tersebut.
Mantan kapten Persib Bandung, Atep, menilai tekanan yang diterima Beckham merupakan hal yang lumrah dalam sebuah rivalitas. Ia justru menyanjung ketenangan pemain muda itu dalam menghadapi situasi panas di SUGBK.
“Iya, dalam laga El Clasico, dalam rivalitas, pressure-pressure itu biasa,” ujar Atep, seperti dikutip dari Bola.com, Minggu (13/9/2026).
Atep menyampaikan hal itu saat menghadiri acara “Roll To Glory FIFA ASEAN CUP Family Parade” di Car Free Day (CFD) Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu (13-9-2026). Menurutnya, tim tuan rumah memang berupaya memberikan tekanan lebih kepada pemain yang menjadi target, dan dalam hal ini sasarannya adalah Beckham.
“Tuan rumah juga ingin memberikan tekanannya lebih terhadap para pemain yang memang tujuannya ke Beckham,” kata Atep.
Respons Beckham dan Kemarahan Greg Nwokolo
Insiden bermula ketika Beckham melakukan pemanasan di area belakang gawang. Sejumlah Jakmania di tribun meneriakkan nyanyian bernada ejekan yang liriknya diubah dengan menyebut nama Beckham. Pemain bernomor punggung itu memilih merespons dengan sikap cuek, termasuk dengan menunjukkan patch emas Persib di lengan jerseynya.
Respons tersebut disebut justru membuat sebagian suporter di sisi kanan tribun media semakin panas dan terus mencacinya. Situasi kemudian mendapat perhatian koordinator lapangan Jakmania dan steward. Penjagaan di area itu ditambah, terlebih pagar pembatas di sisi tersebut telah diturunkan oleh suporter.
Selain teriakan dan ujaran kebencian, Beckham juga menjadi sasaran pelemparan botol dari oknum suporter. Aksi itu mendapat sorotan dari eks pemain Persija, Greg Nwokolo. Greg meminta Jakmania tetap menjaga rivalitas dalam batas yang wajar dan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan Persija maupun suporter sendiri.
“Satu hal yang kurang menarik, jangan lempar botol bro, karena kita merugikan diri kita sendiri dan tim. Datang nonton pertandingan lalu pulang, jangan lempar botol ke pemain lawan, gak boleh!” kata Greg, dikutip dari Instagram PRFM News, Minggu (13/9/2026).
Menurut Greg, intimidasi terhadap tim lawan merupakan bagian dari rivalitas dalam pertandingan, tetapi tindakan melempar botol tidak seharusnya dilakukan.
“Mau rivalitas bagaimana pun, mau intimidasi tim lawan, tapi jangan lempar botol,” ujar Greg.
Pertemuan Pertama di GBK Usai Tujuh Tahun
Pertemuan Persija dan Persib di GBK pada Sabtu (12/9/2026) menjadi momentum istimewa. Kedua tim dengan sejarah rivalitas panjang itu kembali bertemu di stadion yang sama setelah pertemuan terakhir pada 10 Juli 2019, atau sekitar tujuh tahun lalu.
Saat itu, puluhan ribu pasang mata menyaksikan duel Persija dan Persib yang berlangsung ketat hingga berakhir imbang 1-1. Kini, cerita yang hadir bukan hanya tentang pertandingan dan hasil di papan skor. Ribuan suporter datang membawa warna, nyanyian, dan semangat untuk klub kebanggaan masing-masing.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menilai suasana tersebut tidak terlepas dari kedewasaan semua pihak dalam menjaga pertandingan.
“Tujuh tahun kita menunggu momentum ini. Hari ini kita melihat bahwa rivalitas dan kecintaan kepada klub dapat berjalan bersama dengan rasa saling menghormati. Yang paling penting, pertandingan selesai, masyarakat aman, dan semua bisa kembali kepada keluarga di rumah,” kata Kombes Budi.
Budi mengapresiasi seluruh suporter The Jakmania hingga panitia pelaksana atas terselenggaranya pertandingan dengan aman. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada personel Polri dan TNI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, panitia pelaksana, steward, The Jakmania, Persib Bandung dan para pendukungnya, serta seluruh masyarakat yang turut menjaga situasi.
Imbauan Polisi dan Catatan Keamanan
Kepolisian mengimbau suporter Persija, Jakmania, tidak melakukan konvoi setelah laga melawan Persib Bandung. Imbauan itu disampaikan dengan mempertimbangkan aktivitas masyarakat pada Sabtu malam.
“Kita juga mengimbau kepada teman-teman Jakmania, para pendukung dan suporter untuk kalau bisa tidak melaksanakan konvoi karena ini mengingat juga malam weekend, aktivitas masyarakat,” kata Budi usai pertandingan di GBK, Jakarta.
Budi meminta para suporter langsung kembali ke rumah dengan tertib dan tidak bergerak secara berkelompok setelah meninggalkan stadion. Menurutnya, keberhasilan pengamanan pertandingan tidak hanya diukur dari situasi di dalam stadion, tetapi juga ketertiban setelah pertandingan.
“Termasuk pada para pendukung, Jakmania, untuk bisa tertib bukan hanya di stadion, tetapi setelah keluar dari stadion sampai di rumah,” katanya.
Berdasarkan data ticketing yang diterima polisi, sekitar 58.478 orang hadir dalam pertandingan tersebut, mencakup Jakmania hingga tamu undangan. Sebelum pertandingan, polisi sempat mengamankan sejumlah petasan dan flare yang dibawa penonton, namun tidak mengamankan orang yang membawa barang tersebut.
Budi juga menyebut laga Persija melawan Persib berjalan aman, tertib, dan damai. Ia mengapresiasi panitia pelaksana, Jakmania, PSSI, LIB, TNI, Pemprov DKI, steward, serta seluruh petugas yang terlibat dalam pengamanan.
Di sisi lain, ia menyampaikan empati kepada saudara-saudara yang tengah menghadapi musibah, termasuk proses pencarian delapan orang yang terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal. Imbauan itu disampaikan agar situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga.
Insiden yang menimpa Beckham Putra menjadi pengingat bahwa rivalitas Persija dan Persib masih menyisakan persoalan di ranah perilaku suporter. Di satu sisi, pertemuan di GBK setelah tujuh tahun berlangsung relatif kondusif dan diapresiasi banyak pihak. Di sisi lain, pelemparan botol dan ujaran kebencian kepada pemain menunjukkan bahwa batas antara dukungan dan intimidasi masih perlu dijaga bersama.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada bagaimana panitia pelaksana, kepolisian, dan kelompok suporter menjaga standar keamanan yang sama pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Sebab, rivalitas yang sehat hanya bisa bertahan jika keselamatan pemain, penonton, dan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.












