Saham Himbara Melejit Usai Reshuffle Menkeu, BMRI Ikut Menguat

Saham Himbara Melejit Usai Reshuffle Menkeu, BMRI Ikut Menguat
Saham Himbara Melejit Usai Reshuffle Menkeu, BMRI Ikut Menguat

Cakrawala News – 16 September 2026 | Pengumuman reshuffle Menteri Keuangan pada Senin, 14 September 2026, langsung disambut positif oleh pasar saham. Saham bank-bank Himbara kompak menghijau, termasuk saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang naik 1,84%. Penguatan ini terjadi meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup terkoreksi tipis 0,1% ke level 6.534,69.

Suahasil Nazara resmi dilantik menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Pasar tampaknya merespons positif perubahan di Kementerian Keuangan tersebut, terutama di sektor perbankan yang dinilai responsif terhadap kebijakan fiskal.

Pada perdagangan hari itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatat penguatan tertinggi sebesar 3,98% menjadi Rp3.400. Disusul PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang naik 3,4%, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 3,2%, BMRI naik 1,84%, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) naik 0,58%.

Tak hanya bank pelat merah, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga menguat 2,77% menjadi Rp6.500. Penguatan saham-saham perbankan ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah tekanan yang menimpa IHSG secara keseluruhan.

Tekanan Jual Asing dan Koreksi IHSG

Sentimen positif dari reshuffle Menkeu ternyata tidak bertahan lama. Pada sesi pertama perdagangan Selasa, 15 September 2026, IHSG ditutup turun 0,76% ke level 6.484. Investor asing tercatat melakukan net foreign sell sebesar Rp383,65 miliar, dengan nilai foreign buy Rp2,67 triliun dan foreign sell Rp3,06 triliun.

Menariknya, saham BMRI justru menjadi yang paling banyak dijual asing pada sesi tersebut dengan nilai transaksi mencapai Rp176,97 miliar. Posisi berikutnya ditempati BBRI sebesar Rp95,40 miliar dan BBNI sebesar Rp46,30 miliar.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham siang itu sebesar Rp7,15 triliun dengan volume 16,75 miliar saham dan frekuensi 1,05 juta kali. Kapitalisasi pasar IHSG pada sesi pertama tercatat Rp11.321 triliun.

Dari sebelas sektor di BEI, sepuluh sektor berada di zona merah. Sektor keuangan mencatat penurunan terbesar, terperosok hingga 1,31%. Saham BBNI turun 2,33% ke Rp3.780 pada sesi tersebut.

Tekanan berlanjut hingga penutupan perdagangan hari yang sama. IHSG ditutup melemah 1,13% ke level 6.461. Sebanyak 312 saham menguat, 314 saham terkoreksi, dan 165 saham tidak mengalami perubahan harga.

Nilai transaksi harian mencapai Rp12,68 triliun dengan volume 26,40 miliar saham dan frekuensi perdagangan 1,76 juta kali. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat Rp11.285 triliun. Sektor keuangan kembali menjadi yang paling terdampak dengan penurunan 1,36%, sementara saham BBNI turun signifikan 3,10% ke Rp3.750.

Meski demikian, saham BBRI menjadi salah satu yang paling diburu investor dengan nilai transaksi mencapai Rp527,18 miliar. BBCA juga ramai diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp614,25 miliar, diikuti saham BUMI dan ANTM.

Rekomendasi dan Prospek Sektor Perbankan

Di tengah volatilitas tersebut, sejumlah analis menilai sektor perbankan tetap prospektif dan responsif terhadap pemulihan sentimen ekonomi domestik. Saham BBRI direkomendasikan sebagai trading buy dengan target harga Rp3.600 per saham.

BMRI juga mendapat rekomendasi serupa dengan target Rp4.730 per saham berkat likuiditas yang tinggi. Rekomendasi ini mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental bank-bank besar di tengah ketidakpastian jangka pendek.

Namun, pelaku pasar diingatkan untuk tidak terbuai oleh sentimen jangka pendek terkait pergantian Menteri Keuangan. Analis menekankan pentingnya bukti nyata kebijakan fiskal dan eksekusi anggaran yang konsisten sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.

Kepala Riset Retail BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG berpotensi rebound atau menguat jika berhasil menembus resistance 6.550. Ia mengingatkan agar investor berhati-hati jika indeks gagal menembus level tersebut, dengan potensi koreksi mendekati pengumuman kebijakan The Federal Reserve.

Menurut Fanny, IHSG akan berada di level support 6.450-6.500 dan level resistance 6.550-6.600. Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia menyarankan investor untuk wait and see sambil mencermati kemampuan IHSG bertahan di area 6.531-6.429.

Investor yang telah memperoleh keuntungan disarankan menerapkan trailing stop atau melakukan profit taking secara bertahap apabila IHSG menembus support. Sementara akumulasi beli sebaiknya menunggu konfirmasi rebound dan kembali di atas EMA10 6.581.

Untuk rekomendasi saham harian, Fanny memilih MEDC, ENRG, TPIA, SSIA, PTBA, dan ITMG. Sementara itu, saham-saham yang paling banyak dijual asing pada Senin, 14 September 2026, antara lain ANTM, BMRI, BBCA, BUMI, dan TINS, dengan aksi jual asing mencapai Rp331 miliar.

Konteks Global dan Langkah Selanjutnya

Pergerakan pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi global. Bursa saham Asia seluruhnya berada di zona merah pada sesi tersebut. Indeks Nikkei turun 0,28%, Shanghai Composite tergelincir 0,20%, Hang Seng turun 0,46%, dan Straits Times terperosok 1,09%.

Kondisi ini menegaskan bahwa dinamika pasar saham Indonesia dipengaruhi oleh faktor domestik dan global secara bersamaan. Saham BMRI dan bank-bank lainnya tetap menjadi fokus utama investor yang mencari peluang di tengah volatilitas pasar.

Ke depan, pasar akan mencermati arah kebijakan fiskal yang akan dibawa Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan baru. Keberlanjutan sentimen positif terhadap saham perbankan, termasuk BMRI, sangat bergantung pada konsistensi eksekusi anggaran dan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *