Daerah  

Penyelenggara Karnaval Mirip Ritual Satanic di Pekalongan Terungkap, Panitia dan Tim Simone Minta Maaf

Penyelenggara Karnaval Mirip Ritual Satanic di Pekalongan Terungkap, Panitia dan Tim Simone Minta Maaf
Penyelenggara Karnaval Mirip Ritual Satanic di Pekalongan Terungkap, Panitia dan Tim Simone Minta Maaf

Cakrawala News – 16 September 2026 | Siapa penyelenggara karnaval mirip ritual satanic di Pekalongan? NU hingga GP Ansor ikut terseret [titlebase] menjadi pertanyaan yang ramai dibahas warganet setelah penampilan Tim Simone dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, viral di media sosial. Acara yang digelar Kamis (10/9/2026) malam itu merupakan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61. Polemik muncul karena salah satu peserta menampilkan kostum menyerupai makhluk bertanduk, peti mati putih, hingga adegan penyembelihan kambing yang dinilai sebagian masyarakat menyerupai ritual satanik.

Ketua Panitia SKNC 2026, Ziyad Azizi, membenarkan adanya penampilan Tim Simone dalam gelaran tersebut. Ia mengaku panitia tidak mengetahui secara detail konsep pertunjukan yang dibawakan peserta. Ziyad menyatakan baru mengetahui persoalan itu setelah pertunjukan menjadi polemik. Atas nama panitia penyelenggara, ia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.

Pertanyaan mengenai siapa penyelenggara karnaval mirip ritual satanic di Pekalongan? NU hingga GP Ansor ikut terseret [titlebase] turut menyita perhatian karena acara ini digelar di lingkungan yang lekat dengan organisasi keagamaan. Hingga berita ini ditulis, tidak ada informasi dari sumber yang menyebut keterlibatan resmi NU maupun GP Ansor dalam konsep pertunjukan Tim Simone. Nama keduanya terseret dalam perbincangan publik semata karena lokasi dan konteks acara keagamaan, bukan karena menjadi penggagas penampilan tersebut.

Pengakuan Tim Simone

Perwakilan Tim Simone, M Akhid, mengungkapkan bahwa ide penampilan berawal dari kostum unik yang mereka lihat, kemudian disewa dan ditiru. Ia menyebut kostum tersebut disewa dari Malang. Gerakan dan koreografi dilatih bersama rekan-rekan tim dengan referensi dari YouTube serta berbagai perform daerah Malang. Latihan dilakukan sekitar sepekan sebelum pertunjukan pada Kamis malam.

Akhid menegaskan dirinya dan timnya tidak memahami bahwa kostum hingga koreografi yang mereka bawakan mengarah pada ritual pemujaan setan. “Kalau awalnya kami tidak tahu apa itu ritual satanik. Kami hanya melihat unik, kemudian kami sewa,” ujarnya saat ditemui di Kelurahan Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Senin (14/9/2026). Ia juga mengaku menyesal karena kurang literasi untuk memahami pertunjukan yang dibawakan timnya.

“Kami perwakilan dari Tim Simone minta maaf. Kami menyesal, kami kurang literasi. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas penampilan kami di depan panggung,” kata Akhid. Pernyataan itu disampaikan setelah timnya menemui Sekda Kabupaten Pekalongan.

Kronologi dan Isi Pertunjukan

Dalam rekaman yang beredar, beberapa peserta tampak mengenakan kostum menyerupai makhluk berkepala hewan bertanduk dengan tubuh serta kaki yang dibuat menyerupai binatang. Peserta lain mengenakan pakaian putih dengan penutup kepala berbentuk lancip sambil membawa peti mati berwarna putih. Rangkaian visual itu dipadukan dengan koreografi yang menampilkan adegan penyembelihan kepala kambing.

Video pertunjukan tersebut viral dan dihubungkan dengan ritual satanik. Salah satu akun Instagram yang mengunggah karnaval itu adalah @infobimantara. Dalam unggahan tersebut terlihat sejumlah orang mengenakan jubah putih berwajah tengkorak, bahkan ada yang berkostum hitam dengan wajah seram. Terlihat pula aksi kambing dibawa ke peti mati yang mereka bawa, lalu disembelih.

Ribuan penonton menyaksikan peserta menyusuri rute karnaval sepanjang sekitar tiga kilometer. Potongan video yang tersebar luas di media sosial memunculkan beragam reaksi. Sejumlah warganet mempertanyakan konsep pertunjukan karena dianggap tidak sesuai dengan kultur dan nilai masyarakat setempat. Warga bahkan mengaitkannya dengan ritual pemujaan satanic.

Peserta Meninggal Dunia

Di tengah polemik, Tim SimOne menghadapi kabar duka. Ahmad Faiz (40), salah satu peserta karnaval, meninggal dunia pada Jumat (11/9/2026), beberapa jam setelah mengikuti rangkaian acara. Faiz merupakan warga Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan. Ia menjadi bagian dari Tim SimOne dan tampil mengenakan kostum maskot berwarna hitam dengan detail tanduk serta ekor.

Dalam video yang beredar, Faiz terlihat berjalan di bagian depan rombongan dengan kostum tersebut. Di belakangnya, anggota rombongan menampilkan teatrikal yang oleh sebagian masyarakat dinilai menyerupai ritual satanik. Akhid membenarkan kabar tersebut dan menyebut Faiz meninggal karena kelelahan setelah menjalani persiapan karnaval selama kurang lebih satu pekan. “Dia menggunakan kostum… berarti maskot yang ada di depan. Bisa dilihat di video-video itu sudah beredar di mana-mana,” jelasnya.

Respons Pemerintah dan MUI

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan kegiatan masyarakat tidak boleh mengganggu ketertiban umum maupun persatuan dan kesatuan bangsa. Ia menyinggung ketentuan tersebut telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Menurutnya, kegiatan masyarakat yang mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa serta ketertiban umum dapat dibubarkan.

Tito menyebut setiap daerah memiliki badan kesatuan bangsa dan politik (kesbangpol) yang bisa mengatur kegiatan masyarakat. Pemerintah daerah dan aparat keamanan juga bisa memantau sekaligus memberikan imbauan agar kegiatan demikian tidak terjadi. Pernyataan itu disampaikan usai rapat kerja di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan pentingnya edukasi berkesinambungan mengenai batasan pemahaman ekspresi seni, khususnya yang dikaitkan dengan perayaan keagamaan. Wakil Ketua Umum MUI M. Cholil Nafis mengatakan edukasi itu penting agar publik dan penyelenggara kegiatan tidak kebablasan dalam menerjemahkan seni budaya hingga mengaburkan nilai-nilai syariat Islam.

“Maulid Nabi itu kan disuruh bergembira karena hadirnya Rasulullah SAW dan cara bergembira itu diimplementasikan dengan kumpul-kumpul, membaca Al Quran, serta membaca selawat. Kalaupun dibuat karnaval, buatlah karnaval yang Islami,” kata Nafis.

Polemik ini menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan acara keagamaan memerlukan pengawasan konsep sejak awal. Panitia dinilai perlu memastikan setiap penampilan selaras dengan nilai masyarakat dan syariat. Selain itu, literasi peserta mengenai simbol dan makna budaya yang dibawakan menjadi kunci agar peristiwa serupa tidak terulang. Publik kini menantikan langkah lanjutan dari pemerintah daerah serta klarifikasi pihak-pihak yang namanya terseret dalam perbincangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *