Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.577-Rp17.588 per USD, Ditopang Cadangan Devisa Rp146,5 Miliar

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.577-Rp17.588 per USD, Ditopang Cadangan Devisa Rp146,5 Miliar
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.577-Rp17.588 per USD, Ditopang Cadangan Devisa Rp146,5 Miliar

Cakrawala News – 11 September 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada awal perdagangan Rabu, 9 September 2026. Mata uang Garuda bergerak di kisaran Rp17.577 hingga Rp17.588 per USD, naik sekitar 0,25 hingga 0,31 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.632 per USD.

Data Bloomberg yang dikutip Metro TV menunjukkan rupiah berada di level Rp17.577 per USD, menguat 55 poin atau setara 0,31 persen. Sementara data Yahoo Finance pada waktu yang sama menempatkan rupiah di Rp17.613 per USD. Adapun Warta Ekonomi mencatat rupiah dibuka di Rp17.588 per USD, menguat 0,25 persen dari penutupan sebelumnya.

Perbedaan angka antarpenyedia data tersebut lazim terjadi karena perbedaan waktu pencatatan dan metodologi kuotasi, namun arah pergerakannya sama, yakni penguatan.

Penguatan nilai tukar rupiah ini ditopang oleh posisi cadangan devisa Bank Indonesia (BI) yang mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Angka itu meningkat dibandingkan posisi akhir Juli 2026 sebesar US$145,3 miliar.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai kenaikan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

“Kondisi cadangan devisa tersebut dinilai mampu menopang ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional,” kata Ibrahim kepada wartawan.

Posisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor, atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.

BI Perluas Insentif Likuiditas

Di sisi kebijakan, Bank Indonesia terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah langkah lain untuk meningkatkan aliran masuk modal asing serta memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran itu dibahas dalam program Kompas Bisnis bersama Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) Bank Indonesia, Dhaha Praviandi Kuantan, pada Rabu (9/9/2026).

Menurut Ibrahim, ke depan BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia akan tetap terjaga. Keyakinan tersebut didukung oleh kecukupan cadangan devisa serta potensi aliran modal asing seiring persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

Jejak Fluktuasi Ekstrem Sepanjang Sejarah

Pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir memang relatif stabil, namun sejarah mencatat sejumlah episode ketika mata uang ini mengalami guncangan hebat. Nilai tukar rupiah terhadap USD selalu menjadi barometer kesehatan ekonomi Indonesia, dari masa Orde Baru hingga era modern.

Episodenya paling traumatis adalah Krisis Moneter Asia 1997-1998. Sebelum krisis, rupiah relatif stabil di kisaran Rp2.000-Rp2.500 per USD. Ketika krisis keuangan Asia meledak dari Thailand, spekulasi dan capital flight menghantam Indonesia. Bank Indonesia akhirnya melepas sistem managed floating pada Agustus 1997.

Dalam hitungan bulan, rupiah ambruk. Puncaknya pada Juni 1998, nilai tukar sempat menyentuh Rp16.800 per USD secara intraday, dengan penutupan terendah di sekitar Rp15.200. Rupiah kehilangan lebih dari 80 persen nilainya. Kerusuhan sosial, penjarahan, dan lengsernya Presiden Soeharto memperparah situasi. Episode ini menjadi titik nadir yang hingga kini masih menjadi pembanding utama setiap kali rupiah melemah tajam.

Setahun setelah krisis moneter mereda, tepatnya pada 2026, level rupiah berada di kisaran Rp17.500-an per USD. Artinya, nilai tukar rupiah telah mengalami pelemahan nominal yang sangat panjang dibandingkan era sebelum 1997, meski dalam beberapa tahun terakhir pergerakannya lebih terkendali.

Satu dekade setelah krismon, dunia diguncang krisis subprime mortgage di Amerika Serikat yang memuncak dengan kebangkrutan Lehman Brothers pada 2008. Investor global menarik dana dari emerging market, termasuk Indonesia. Rupiah yang sempat berada di kisaran Rp9.000-an per USD pada awal 2008 tertekan hingga menembus Rp12.000-Rp12.650 pada November 2008.

Meski tidak se-ekstrem 1998, pelemahan saat itu cukup dalam dan cepat. Untungnya, fondasi perbankan Indonesia sudah jauh lebih sehat sehingga tidak terjadi rush money seperti satu dekade sebelumnya.

Guncangan berikutnya datang dari kebijakan The Fed. Pada 2013, rencana pengurangan stimulus atau taper tantrum membuat dana asing keluar dari pasar negara berkembang dan menekan nilai tukar rupiah.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Stabilnya pergerakan rupiah pada awal perdagangan 9 September 2026 tidak lepas dari bauran kebijakan yang ditempuh bank sentral. Kombinasi insentif likuiditas, pengelolaan cadangan devisa, dan upaya menarik modal asing menjadi penopang utama ketahanan sektor eksternal.

Ke depan, pasar masih akan mencermati arah kebijakan moneter global, perkembangan aliran modal asing, serta konsistensi BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Bagi pelaku usaha dan masyarakat, pergerakan kurs harian tetap relevan karena memengaruhi biaya impor, harga bahan baku, dan daya beli secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *