Cakrawala News – 08 Oktober 2026 | Keluhan soal ‘Batuk yang terasa menekan hingga sakit persendian’ – Kasus influenza A ‘meningkat’ di Indonesia, seberapa parah gejalanya? menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah warga mengaku mengalami gejala yang terasa lebih berat dibanding flu biasa, mulai dari badan linu, demam tinggi, hingga nyeri sendi yang mengganggu aktivitas harian. Peningkatan kasus ini tercatat di sejumlah daerah, termasuk Kota Bandung, dan turut terlihat dalam data surveilans nasional Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam, mengatakan peningkatan kasus influenza membuat lebih banyak warga mendatangi fasilitas kesehatan, termasuk instalasi gawat darurat (IGD). “Untuk kasus influenza di Kota Bandung ada peningkatan,” ujar Sony, seperti dikutip dari pemberitaan CNBC Indonesia.
Kondisi serupa terlihat secara nasional. Kemenkes mencatat aktivitas influenza meningkat pada periode Agustus-September 2026. Hasil surveilans pada minggu ke-38 menunjukkan positivity rate influenza mencapai 56 persen. Dari 265 spesimen yang diperiksa melalui surveilans sentinel, sebanyak 148 spesimen dinyatakan positif influenza.
Kemenkes menegaskan angka tersebut bukan berarti 56 persen masyarakat Indonesia terkena influenza. Persentase itu menunjukkan jumlah sampel yang dinyatakan positif dari spesimen yang diperiksa melalui sistem surveilans. Virus yang paling dominan ditemukan adalah Influenza A(H1N1)pdm09.
Gejala dan Lonjakan Kasus
Meski terjadi peningkatan, Kemenkes menyebut aktivitas influenza di tingkat puskesmas masih berada dalam kategori sedang atau medium, sementara aktivitas di rumah sakit masih berada pada kategori rendah. Peningkatan pada Agustus hingga September juga dinilai masih sejalan dengan pola musiman influenza yang selama ini terjadi di Indonesia.
Data yang dihimpun Katadata mencatat jumlah kasus influenza tipe A melonjak dalam tiga pekan terakhir. Kementerian Kesehatan mencatat angkanya mencapai 293 kasus, atau naik 692 persen ketimbang tahun lalu. Adapun kasus influenza tipe A didominasi oleh subjenis H1N1pdm09 sebanyak 93 persen dari total kasus.
Influenza tipe A memiliki gejala khas seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, batuk kering, hingga sakit kepala dan kelelahan ekstrem. Infeksi ini juga bisa berkembang dan menimbulkan pneumonia, peradangan otot jantung, hingga radang otak. Anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit bawaan rentan mengalami gejala lebih berat.
Di media sosial, sejumlah warganet mengeluhkan gejala yang mereka rasakan. “Emg rasa linu2 nya luar biasa,” tulis akun @ely*** dikutip dari Threads. “Influenza a sejak kamis. Ganas juga ini virus,” tulis akun lain. Ada pula yang menyebut demam naik turun, kepala sakit, dan sendi ngilu.
Respons Kemenkes dan Imbauan Publik
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, mengatakan pihaknya belum bisa menyimpulkan terkait fenomena gejala yang dikeluhkan lebih berat tersebut. “Kami tidak dapat menyimpulkan bahwa influenza A saat ini lebih berat hanya karena berdasarkan pengalaman atau keluhan masyarakat. Jadi yang lebih penting adalah melihat data surveilans, termasuk kasus berat, rawat inap, dan kematiannya,” kata Andi dalam konferensi pers daring, Selasa (29/9/2026).
Andi menambahkan, untuk Influenza A H3N2 Subclade K yang sempat menjadi perhatian, tidak ditemukan tingkat keparahan penyakit. Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Herbuwono menyebut influenza A adalah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Ia menyatakan pola penyebarannya memang meningkat seiring musim hujan dan menurun pada Februari atau Maret.
“Jenisnya memang strain baru, tetapi tidak berbahaya. Belum ada kematian yang dicatat akibat influenza A tersebut,” kata Dante, 30 September. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengimbau agar masyarakat tidak melakukan pembelian antivirus secara masif. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, kata dia, malah dapat memicu resistensi antimikroba di sistem kekebalan tubuh.
“Kita tidak boleh menggunakan antivirus secara berlebihan karena ada risiko resistensi. Kalau resistensi terjadi, justru kita bisa kehilangan pilihan obat ketika menghadapi wabah yang lebih berat dan mengancam nyawa,” kata Budi, 28 September lalu.
Konteks Sejarah Influenza A
Di tengah kondisi tersebut, Influenza A sebenarnya bukan virus baru. Virus ini telah berada di tengah manusia selama lebih dari satu abad dan beberapa kali berada di balik pandemi besar dunia. Karena itu, peningkatan aktivitas influenza pada periode tertentu perlu dipahami dalam konteks pola musiman dan pemantauan epidemiologi yang berkelanjutan.
Kemenkes tetap mengimbau masyarakat menjalankan hidup sehat dan menjaga kebersihan. Masyarakat juga diminta aktif menggunakan masker saat sakit atau berada di tempat ramai, serta segera berobat apabila mengalami gejala influenza yang memburuk.
Dengan data surveilans yang masih menunjukkan aktivitas influenza pada kategori sedang di puskesmas dan rendah di rumah sakit, otoritas kesehatan menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa panik. Masyarakat diharapkan memantau perkembangan informasi resmi dan tidak mengonsumsi obat antivirus atau antibiotik tanpa indikasi medis yang jelas.












