Alexander Zverev Juara US Open 2026, Sebut Dirinya Mungkin Terbaik di Dunia Saat Ini

Alexander Zverev Juara US Open 2026, Sebut Dirinya Mungkin Terbaik di Dunia Saat Ini
Alexander Zverev Juara US Open 2026, Sebut Dirinya Mungkin Terbaik di Dunia Saat Ini

Cakrawala News – 17 September 2026 | Alexander Zverev juara US Open 2026: Mungkin saya terbaik di dunia saat ini! Pernyataan itu keluar dari mulut petenis Jerman tersebut setelah ia menundukkan petenis tuan rumah, Ben Shelton, dengan skor 6-3, 7-6 (7-2), 5-7, 6-2, di USTA Billie Jean King National Tennis Center, New York, Amerika Serikat. Gelar ini menjadi Grand Slam kedua Zverev pada 2026 sekaligus penuntas luka lama yang sempat menghantuinya selama bertahun-tahun.

Kemenangan atas Shelton diraih Zverev lewat pertarungan empat set yang sempat diwarnai kebangkitan lawan. Setelah merebut dua set pertama, petenis berusia 29 tahun itu kehilangan set ketiga. Namun, pada set keempat, ia kembali mengendalikan permainan dan memastikan gelar US Open pertamanya pada usia 29 tahun.

“Saat ini, pada momen ini, mungkin iya,” kata Zverev ketika ditanya apakah ia petenis terbaik di dunia saat ini, seperti dikutip dari Ubitennis. Meski begitu, ia tetap memberikan catatan penting soal peta persaingan tenis putra. “Jika semua pemain sehat, saya rasa Jannik (Sinner) masih di depan,” imbuhnya.

Luka Lama yang Akhirnya Terbayar

Gelar di New York ini melengkapi perjalanan panjang Zverev yang sebelumnya nyaris mengangkat trofi US Open pada 2020. Saat itu, ia unggul dua set atas Dominic Thiem di final dan bahkan sempat melakukan servis untuk memenangi pertandingan pada set kelima. Namun, gelar tersebut akhirnya lepas.

Enam tahun kemudian, penantian itu terbayar. Zverev bukan hanya menjadi juara, tetapi juga memasuki fase baru dalam kariernya. Kesuksesan di US Open melengkapi musim luar biasa setelah ia menjuarai Prancis Open pada Juni lalu. Ia juga sempat mencapai final Wimbledon sebelum kembali memperkuat statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia.

Dalam laga final melawan Shelton, Zverev menunjukkan kelasnya. Servisnya sulit ditembus dan pukulannya dari kedua sisi lapangan membuat Shelton berada dalam tekanan sejak awal. Zverev merebut gim pertama setelah Shelton melakukan double fault saat menghadapi break point, lalu menutup set pertama dengan kesalahan lawan.

Pada set kedua, Shelton mencoba bangkit dan memaksakan tie-break. Namun, Zverev tampil tanpa ampun untuk unggul dua set. Dukungan penonton tuan rumah membuat Shelton menemukan kembali keberanian pada set ketiga dan merebutnya 7-5. Harapan Amerika Serikat mengakhiri penantian 23 tahun gelar Grand Slam tunggal putra kembali pupus pada set keempat.

Pada gim pertama set keempat, Zverev memaksa Shelton menjalani reli 24 pukulan sebelum pukulan backhand petenis Amerika itu melebar. Break tersebut menjadi titik balik terakhir. Zverev terus melaju dan mengakhiri pertandingan dengan servis Shelton yang melebar.

“Saya tahu 99,9 persen orang menginginkan Ben menang, jadi minta maaf,” ujar Zverev sambil tersenyum. Shelton sendiri mengakui kehebatan lawannya. Ia memuji servis, pergerakan, serta etos kerja Zverev yang menurutnya lebih keras dibandingkan pemain mana pun yang ia kenal.

Perubahan Gaya Bermain dan Peran Rafa Nadal Academy

Kesuksesan Alexander Zverev juara US Open 2026 tidak lepas dari usaha yang telah dilakukannya untuk mengubah gaya bermain. Seperti dilaporkan The Athletic, petenis berpostur 198 sentimeter itu mengubah gaya bermainnya yang terlalu pasif menjadi lebih agresif.

Perubahan itu bermula setelah Zverev tersingkir di babak pertama Wimbledon 2025 oleh Arthur Rinderknech. Ia kemudian mengunjungi Rafa Nadal Academy di Mallorca pada Juli 2025. Di sana, ia mendapat masukan dari Rafa dan Toni Nadal agar tidak terus menunggu dan lebih berani mengambil inisiatif.

Dalam final US Open, Zverev tidak sekadar mencoba mengimbangi kecepatan pukulan Shelton. Ia juga mengubah ketinggian dan kedalaman bola sehingga membuat lawan tidak nyaman. “Dia (Shelton) lebih nyaman menghadapi bola cepat dan datar di backhand. Jadi, bola yang lebih tinggi dan dalam bisa membuatnya kesulitan,” tutur Zverev.

Perjuangan Melawan Diabetes Sejak Usia Empat Tahun

Di balik gelar tersebut, Zverev menyimpan kisah perjuangan panjang. Ia didiagnosis mengidap diabetes tipe 1 ketika berusia empat tahun, sekitar dua dekade sebelum akhirnya menjuarai US Open pada usia 29 tahun. Setelah pertandingan, ia memberikan penghormatan khusus kepada ibunya, Irina, yang sejak awal menolak anggapan bahwa diabetes akan membatasi masa depan dan ambisinya sebagai atlet.

Zverev mengungkapkan bahwa ketika dirinya didiagnosis pada usia empat tahun, dokter memperingatkan bahwa kehidupan dan aktivitas olahraga yang dijalaninya dapat menghadapi banyak keterbatasan. Namun, Irina yang merupakan mantan petenis profesional meyakinkan keluarganya bahwa kondisi tersebut tidak akan menentukan masa depan putranya.

Zverev menyebut ibunya sebagai sosok terpenting dan terkuat dalam hidupnya karena terus mendukung impiannya hingga akhirnya mampu menjadi juara Grand Slam. Ia juga mengapresiasi ayahnya, Alexander Zverev Sr, serta saudaranya, Mischa, yang menjadi bagian dari timnya dan mendampinginya melewati perjalanan panjang menuju keberhasilan tersebut.

Peluang Menjadi Nomor Satu Dunia

Dengan gelar US Open di tangan, Zverev tidak lagi sekadar menjadi seorang yang nyaris juara. Ia kini telah memiliki dua gelar major pada 2026 dan mulai menatap tantangan yang lebih besar: menjadi pemain nomor satu dunia.

Peluang itu terbuka lebar karena petenis nomor satu dunia saat ini, Jannik Sinner, harus absen dari US Open akibat cedera lutut kanan. Sinner juga menjadi petenis yang mengalahkan Zverev di Wimbledon pada 13 Juli lalu. Sementara itu, rival papan atas lainnya, Carlos Alcaraz dari Spanyol, baru pulih dari cedera saat tampil di US Open. Alcaraz saat ini turun ke ranking ketiga dunia dan merupakan pemenang grand slam awal tahun, Australian Open.

Zverev yang saat ini menempati ranking kedua dunia memenangi grand slam pertamanya di French Open pada Juni lalu ketika Sinner lebih dulu tereliminasi di babak kedua. “Saya pikir Tuhan melihat betapa keras kami bekerja, betapa banyak kami menderita, dan berapa banyak rasa sakit yang dilalui,” ujar Zverev seusai menerima trofi.

Bagi Amerika Serikat, kekalahan Shelton memperpanjang penantian gelar Grand Slam tunggal putra yang terakhir diraih Andy Roddick. Shelton, unggulan kedelapan, mendapat dukungan penuh penonton tuan rumah, tetapi belum mampu mengakhiri puasa gelar tersebut.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada persaingan menuju peringkat satu dunia. Dengan kondisi Sinner yang masih dalam pemulihan cedera dan Alcaraz yang baru kembali ke performa terbaiknya, peluang Zverev untuk merebut posisi teratas semakin terbuka. Namun, ia sendiri menyadari bahwa peta persaingan bisa berubah begitu para rival utamanya kembali dalam kondisi sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *