Ansarallah Bantah Tuduhan Targetkan Makkah, Klaim Saudi Gempur Yaman 40 Kali

Ansarallah Bantah Tuduhan Targetkan Makkah, Klaim Saudi Gempur Yaman 40 Kali
Ansarallah Bantah Tuduhan Targetkan Makkah, Klaim Saudi Gempur Yaman 40 Kali

Cakrawala News – 17 September 2026 | Kelompok Ansarallah Yaman tegaskan tak akan targetkan Makkah dan kota suci lainnya di Arab Saudi, membantah tuduhan koalisi pimpinan Riyadh bahwa mereka berupaya menyerang kota suci itu menggunakan drone. Bantahan tersebut disampaikan setelah koalisi Arab Saudi menyatakan telah mencegat sebuah pesawat nirawak di sebelah selatan Makkah sebelum memasuki zona udara terbatas, dalam perkembangan terbaru konflik yang kembali memanas antara kedua pihak.

Anggota biro politik Ansarallah, Mohammed Al-Farah, melalui kantor berita Saba yang dikelola kelompok itu, menyebut tuduhan bahwa Yaman menargetkan Makkah sebagai kebohongan terang-terangan yang sama sekali tidak berdasar. Ia menegaskan kelompoknya justru lebih peduli terhadap Makkah dan tempat-tempat suci dibandingkan pihak-pihak yang memanfaatkannya untuk kepentingan politik.

Pernyataan itu menjadi respons resmi pertama Ansarallah atas tuduhan yang dilontarkan koalisi Arab Saudi. Juru bicara koalisi, Turki al-Maliki, sebelumnya menegaskan bahwa keamanan Makkah dan para jamaah merupakan batas merah bagi Riyadh. Ia menyatakan keamanan Dua Masjid Suci dan para tamu Allah adalah garis merah, serta menegaskan Arab Saudi tidak akan ragu mengambil tindakan yang disebutnya perlu dan tegas.

Klaim 40 Serangan Udara dalam 24 Jam

Bantahan Ansarallah muncul bersamaan dengan klaim kelompok itu bahwa Arab Saudi kembali melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Yaman. Juru bicara militer Ansarallah, Yahya Saree, mengatakan pesawat tempur Saudi dalam 24 jam terakhir melancarkan 40 serangan udara menggunakan jet F-15 yang lepas landas dari Pangkalan Khamis Mushait.

Menurut Saree, serangan tersebut menyasar sejumlah wilayah, termasuk Taiz, Ma’rib, dan Hajjah. Ia juga mengklaim kelompoknya berhasil menjatuhkan sebuah jet tempur F-15 milik Arab Saudi di wilayah udara Provinsi Ma’rib. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan tidak disebutkan pihak koalisi Arab Saudi dalam pernyataan resminya.

Serangan udara itu disebut terjadi setelah tuduhan bahwa Ansarallah berupaya menyerang Makkah menggunakan drone. Tuduhan tersebut dibantah langsung oleh kelompok yang secara resmi bernama Ansar Allah tersebut. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Arab Saudi mengenai jumlah maupun lokasi serangan yang diklaim Ansarallah.

Sorotan terhadap Krisis Yaman

Al-Farah menuding Arab Saudi menggunakan tuduhan penargetan Makkah untuk mengalihkan perhatian dari krisis yang dihadapinya di Yaman. Menurutnya, Riyadh kini menghadapi dilema serius setelah terlibat dalam apa yang ia sebut sebagai perang, blokade, dan pendudukan, tetapi gagal mencapai tujuannya.

Ia menilai Arab Saudi berusaha mengalihkan perhatian dari akar persoalan dan mendorong umat Islam untuk menentang Yaman setelah gagal mengatasi konsekuensi dari kebijakannya sendiri. Al-Farah menyerukan agar perang dihentikan, blokade dicabut, dan rakyat Yaman diberi kompensasi atas perang serta kehancuran yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Menurut Al-Farah, solusinya jelas, yakni menghentikan agresi, mencabut blokade, meninggalkan Yaman, dan memberikan kompensasi kepada rakyat Yaman atas perang dan kehancuran selama bertahun-tahun. Ia menegaskan hanya dengan begitu Arab Saudi dapat mengupayakan keamanan dan stabilitas. Ia juga memperingatkan bahwa berlanjutnya apa yang disebutnya sebagai agresi akan memicu eskalasi lebih lanjut.

Pernyataan Ansarallah Yaman tegaskan tak akan targetkan Makkah dan kota suci lainnya di Arab Saudi itu menjadi bagian dari upaya kelompok tersebut membantah narasi yang dibangun Riyadh. Namun, tuduhan dan bantahan ini justru memperlihatkan bahwa ketegangan antara kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Komunikasi Diam-Diam dengan Amerika Serikat

Di tengah eskalasi tersebut, sejumlah pejabat Amerika Serikat dilaporkan bertemu dengan perwakilan Ansarallah di Oman pada akhir pekan lalu. Pertemuan yang tidak diumumkan ke publik itu dikabarkan digelar di Kedutaan Besar AS di Muscat, menurut sumber-sumber yang berbicara secara anonim. Pemerintah Oman disebut ikut membantu mengatur pertemuan tersebut.

Dalam pertemuan itu, perwakilan Ansarallah disebut mengatakan kepada pejabat AS bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal-kapal Amerika dan tetap berkomitmen atas kesepakatan gencatan senjata 2025. Satu sumber menyebut kelompok itu juga menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal Israel atau kapal komersial lain kecuali milik Arab Saudi.

Pejabat AS yang hadir dalam pertemuan itu disebut berasal dari kalangan personel kedutaan. Di antara delegasi Ansarallah yang hadir adalah seorang pejabat senior yang masih berstatus disanksi AS, yakni Mohammad Abdulsalam, bersama pejabat Abdelmalik al-Ajiri. Pemerintah Trump mendefinisikan Ansarallah sebagai organisasi teroris asing pada Maret 2025 dan mengkriminalisasi dukungan terhadap kelompok itu.

Meski demikian, AS tetap menjalin komunikasi dengan Ansarallah sejak saat itu dan mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Mei 2025 setelah kampanye pengeboman selama dua bulan untuk menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah. Presiden Donald Trump pada akhir pekan lalu mengeklaim pihak Ansarallah menghubungi pemerintahannya dan meminta AS untuk tidak terlibat di perang Yaman, sementara Wakil Presiden JD Vance menyatakan AS berkomunikasi secara tidak langsung dengan kelompok itu.

Kementerian Luar Negeri AS enggan mengomentari laporan pertemuan tersebut. Kedutaan Oman di AS dan pejabat senior Ansarallah, Mohammad Abdulsalam, juga tidak merespons permintaan klarifikasi.

Konteks Regional yang Lebih Luas

Konflik di Yaman selama bertahun-tahun telah menciptakan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Tuduhan terkait penargetan kota suci menambah dimensi baru yang sensitif, mengingat posisi Makkah dan Madinah sebagai tempat paling suci bagi umat Islam. Tuduhan semacam itu berpotensi memicu reaksi luas di dunia Islam, sehingga kedua pihak berupaya menegaskan posisi masing-masing secara hati-hati.

Di sisi lain, laporan pertemuan AS dan Ansarallah di Oman menunjukkan adanya jalur diplomasi yang berjalan meski Washington secara resmi melabeli kelompok itu sebagai organisasi teroris asing. Hal ini memperlihatkan kompleksitas kepentingan regional, terutama terkait keamanan jalur pelayaran di Laut Merah yang menjadi perhatian utama AS.

Pernyataan Ansarallah Yaman tegaskan tak akan targetkan Makkah dan kota suci lainnya di Arab Saudi menjadi sinyal bahwa kelompok itu berupaya membatasi lingkup konflik pada Arab Saudi, sekaligus menjauhkan diri dari potensi konfrontasi dengan aktor lain. Namun, dinamika di lapangan masih berpotensi berubah cepat seiring klaim serangan udara yang terus dilaporkan.

Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah klaim 40 serangan udara dan jatuhnya jet F-15 akan mendapat tanggapan resmi dari koalisi Arab Saudi, serta bagaimana kelanjutan komunikasi tidak langsung antara AS dan Ansarallah. Perkembangan ini akan menentukan arah eskalasi maupun peluang deeskalasi di Yaman dalam waktu dekat. Bagi pembaca, penting untuk mencermati bahwa sejumlah klaim dalam konflik ini masih bersifat satu pihak dan belum terverifikasi secara independen.

Exit mobile version