Cakrawala News – 17 September 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump nominasikan calon anti-Islam dan pro-Israel sebagai dubes AS di Saudi, yakni Wesley Hunt, seorang anggota Partai Republik yang dikenal vokal mengkritik Islam. Penunjukan itu diumumkan pada Senin dan menempatkan Hunt, sekutu setia Trump, pada posisi kunci di tengah hubungan Washington dengan negara-negara Teluk yang sedang tegang, beberapa bulan setelah AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran.
Hunt bukan nama baru di lingkungan militer dan diplomasi AS. Ia pernah bertugas di militer Amerika di Irak dan terbang dalam 55 misi tempur sebagai pilot helikopter Apache di Baghdad pada 2006. Sebelumnya, ia juga menjalani dua masa penugasan di Arab Saudi sebagai perwira penghubung diplomatik.
Namun, rekam jejak itu justru menjadi dasar bagi Hunt untuk berulang kali melontarkan kecaman terhadap umat Muslim dan agama Islam. Pengalaman hidupnya di Arab Saudi kerap ia jadikan pijakan dalam menyampaikan pandangan yang dinilai kontroversial tersebut.
Kecaman Berulang terhadap Islam dan Hukum Syariah
Pada November tahun lalu, Hunt menyatakan bahwa ia pernah tinggal di Arab Saudi selama dua tahun dan ditugaskan di Irak. Menurutnya, ia telah melihat secara langsung bagaimana rasanya hidup di negara-negara yang diatur oleh sistem seperti hukum Syariah. Pernyataan itu disampaikan kepada Middle East Eye dan dikutip pada Rabu (16/9/2026).
Pada Januari, Hunt menegaskan kembali pernyataannya. Ia mengatakan bahwa orang-orang yang menganggap peringatannya tentang Islam sebagai upaya menyebar ketakutan belum pernah hidup di bawah sistem tersebut.
Saya telah melihat wujud sistem itu dalam kehidupan nyata, bukan di tayangan berita televisi kabel. Eksekusi pemenggalan kepala di depan umum terjadi di sana belum lama ini. Perempuan bahkan tidak diperbolehkan mengemudi saat saya bertugas di sana.
Dalam kesempatan lain, saat tampil pada acara Stakelbeck Tonight pada Januari 2026, Hunt menyatakan bahwa rakyat Amerika harus sangat khawatir. Menurutnya, mandat yang diberikan kepada Islam pada dasarnya adalah pergi ke negara-negara lain dan menyusup masuk. Ia menambahkan bahwa umat Muslim akan membangun populasi yang besar dan pada akhirnya mengambil alih negara-negara tersebut.
Penunjukan di Tengah Ketegangan AS dan Teluk
Penunjukan Hunt sebagai duta besar AS untuk Arab Saudi terjadi pada momen yang sensitif. Hubungan AS dengan negara-negara Teluk sedang berada dalam situasi tegang, beberapa bulan setelah AS dan Israel melancarkan perang melawan Iran. Arab Saudi sendiri merupakan salah satu negara Teluk yang memiliki posisi strategis bagi kepentingan Washington di kawasan.
Pernyataan-pernyataan Hunt yang anti-Islam dan pro-Israel menjadi perhatian karena ia akan mewakili Amerika Serikat di negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Arab Saudi juga menerapkan hukum Syariah dalam sistem hukumnya, sehingga sikap Hunt terhadap sistem tersebut berpotensi menjadi sorotan publik di sana maupun di kawasan.
Hunt disebut pernah meledek sistem hukum Syariah. Kritik semacam itu ia sampaikan secara terbuka di hadapan publik Amerika, bukan hanya dalam forum-forum terbatas. Sebagai sekutu setia Trump, Hunt dinilai akan membawa garis kebijakan yang sejalan dengan pemerintahan saat ini.
Konteks dan Hal yang Perlu Diperhatikan
Sebagai duta besar, Hunt akan bertanggung jawab menjalankan diplomasi AS di Arab Saudi, termasuk menjaga komunikasi politik, kerja sama keamanan, dan kepentingan ekonomi kedua negara. Pengalamannya sebagai perwira penghubung diplomatik di Arab Saudi dan pilot tempur di Irak menjadi modal pengalaman yang jarang dimiliki calon duta besar.
Namun, pernyataan-pernyataannya yang keras terhadap Islam berpotensi memengaruhi penerimaan di negara penempatan. Bagaimana ia menyeimbangkan sikap pribadinya dengan tugas diplomasi resmi akan menjadi hal yang menarik dicermati, terutama ketika hubungan AS dengan negara-negara Teluk sedang tidak stabil.
Proses nominasi ini masih memerlukan langkah berikutnya, termasuk pembahasan di Senat AS sebelum Hunt resmi menjabat. Publik di kawasan, khususnya di Arab Saudi, akan menantikan bagaimana pemerintahan Trump menjelaskan arah kebijakan mereka melalui sosok duta besar yang kontroversial ini.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah respons pemerintah Arab Saudi terhadap nominasi tersebut serta jalannya proses konfirmasi di Senat AS. Kedua hal itu akan menentukan seberapa cepat dan seberapa mulus Hunt dapat mulai menjalankan tugasnya sebagai duta besar AS untuk Arab Saudi.
