Cakrawala News – 06 November 2026 | Amerika Serikat dan Iran tunjukkan optimisme negosiasi untuk mengakhiri konflik yang berisiko memicu perang terbuka, seiring mengendurnya ketegangan di Selat Hormuz. Sinyal kemajuan itu disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi komunikasi tidak langsung yang berlangsung intensif dengan Washington. Kabar tersebut langsung mengguncang pasar global: harga minyak dunia merosot lebih dari 7 persen akibat proyeksi berakhirnya penutupan jalur vital energi itu.
Menurut laporan yang mengutip pernyataan Trump, ia meyakini kesepakatan dengan Teheran berada di depan mata. “Kesepakatan itu bisa saja terjadi,” ujarnya, seraya menyatakan Iran ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Langkah diplomasi intensif ini bergulir tepat sehari sebelum pemungutan suara pemilu sela AS.
Dari pihak Iran, Araghchi menegaskan konsultasi melalui mediator berlangsung intensif. Namun ia memberi catatan penting: keberhasilan perundingan bergantung pada sikap Washington. “Kami telah menyampaikan persyaratan dan proposal kami, dan semuanya bergantung pada rasionalitas politik Washington,” kata Araghchi, dikutip media pemerintah Iran, IRNA.
Proposal Tujuh Langkah Jadi Dasar Pembicaraan
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyatakan proposal tujuh langkah yang diajukan Teheran pada September masih menjadi dasar pembicaraan. Proposal itu kini dipersingkat agar dapat diterapkan dalam waktu dua hari.
Rencana tersebut mencakup sejumlah tuntutan utama:
- Penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran;
- Pembukaan kembali Selat Hormuz;
- Pencabutan pembatasan penjualan minyak Iran;
- Pembatalan sanksi baru terhadap Teheran.
Setelah persyaratan itu dipenuhi, kedua negara diharapkan membahas persoalan lainnya. Namun Iran menegaskan pembicaraan mengenai program nuklir hanya dapat dimulai setelah seluruh persyaratannya terpenuhi. Baghaei juga membantah adanya pembahasan mengenai kemungkinan pemindahan persediaan uranium yang telah diperkaya tinggi ke negara lain.
Sebelumnya, Trump menolak proposal tujuh langkah tersebut pada September. Reuters melaporkan bahwa proposal Iran yang disampaikan melalui mediator Qatar menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari sebagai bagian dari mekanisme penghentian permusuhan, tetapi Trump menilai persyaratannya tidak dapat diterima.
Mediator Qatar dan Pakistan, Tekanan Tetap Berjalan
Perundingan intensif ini berlangsung lewat perantara Qatar dan Pakistan. Pertemuan tidak langsung tersebut memperlihatkan kanal komunikasi belum sepenuhnya mati, meski ketiadaan kesepakatan mengenai urutan konsesi membuat setiap pihak menunggu tindakan lawannya terlebih dahulu.
Vance membenarkan keberhasilan awal dari rangkaian dialog rahasia itu. “Kami tentu telah mencapai kemajuan. Kita lihat saja apakah kami bisa mencapai kemajuan lebih lanjut,” ujarnya kepada wartawan. Pihaknya terus mengupayakan ruang negosiasi tambahan untuk mencapai hasil permanen.
Di sisi lain, Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaei menegaskan Teheran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz ataupun kembali ke meja perundingan sebelum seluruh persyaratan dipenuhi. Ia menyebut persyaratan itu sebenarnya telah dirumuskan sejak September, termasuk permintaan agar Washington tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran.
“Kita tidak akan kembali ke diplomasi masa lalu, tetapi kita juga tidak sepenuhnya meninggalkan diplomasi,” kata Rezaei, dikutip dari ISNA. Ia menambahkan Iran kini tidak lagi menginginkan kesepakatan yang hanya bergantung pada komitmen politik tanpa jaminan yang jelas.
Ancaman Militer Masih Membayangi
Meski optimisme menguat, jalan diplomasi tetap berliku. Pernyataan Araghchi bahwa “tidak ada solusi militer” dan kritik Presiden Masoud Pezeshkian bahwa negosiasi dengan Washington menjadi tidak bermakna memperlihatkan dalamnya defisit kepercayaan antara Teheran dan Washington.
Di Washington, Trump juga terus mempertahankan ancaman penggunaan kekuatan, termasuk pernyataan pada 1 Oktober bahwa pilihannya adalah “meledakkan” Iran atau membuat kesepakatan. Retorika semacam itu dinilai mempersempit ruang kompromi diplomatik.
Rezaei bahkan memperingatkan Iran dapat memanfaatkan kemampuan persenjataan barunya untuk menyerang aset-aset AS di kawasan Timur Tengah jika perang berlanjut. Sasaran yang disebutkan termasuk kabel dan fasilitas kecerdasan buatan. Ia menegaskan pilihan utama Teheran adalah meredakan ketegangan, tetapi memperingatkan kemampuan Iran akan semakin berkembang apabila AS terus memperpanjang konflik.
Kebuntuan ini tidak lepas dari perubahan karakter konflik sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026, ketika perundingan mengenai program nuklir Iran sedang berlangsung. Situasi itu menciptakan persoalan kredibilitas serius bagi Teheran untuk meyakinkan lawan bahwa diplomasi masih dapat menghasilkan keamanan.
Dampak Energi dan Pembicaraan dengan Arab Saudi
Di tengah negosiasi dengan Washington, Iran juga melanjutkan pembicaraan dengan Arab Saudi untuk membentuk pengaturan keamanan baru di kawasan. Araghchi mengatakan Teheran menginginkan mekanisme keamanan regional yang melibatkan negara-negara di kawasan tanpa campur tangan militer asing.
Sementara itu, perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, menjajaki jalur ekspor tambahan untuk mengantisipasi gangguan pasokan energi akibat konflik. Langkah ini menunjukkan pelaku pasar energi tetap bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, meski harga minyak sudah turun tajam.
Agenda negosiasi kini jauh lebih kompleks daripada perselisihan soal program nuklir. Cakupannya meliputi keamanan maritim, sanksi ekonomi, ekspor minyak, posisi regional Iran, serta hubungan Washington dengan Israel. Kombinasi sanksi, blokade, dan tekanan militer dari AS berhadapan dengan kemampuan rudal, ancaman terhadap pelayaran, dan posisi geografis Selat Hormuz yang dimiliki Iran.
Ke depan, yang perlu dicermati adalah apakah proposal yang telah dipersingkat benar-benar dapat diterapkan dalam dua hari seperti yang digariskan Teheran, serta apakah Washington bersedia memenuhi urutan konsesi yang diminta. Tanpa kesepahaman soal urutan itu, Amerika Serikat dan Iran tunjukkan optimisme negosiasi untuk mengakhiri konflik, tetapi hasil akhirnya masih bergantung pada langkah konkret masing-masing pihak.
