Asing Jual Saham TLKM Rp161,1 Miliar, BMRI Paling Banyak Dilepas Pekan Ini

Asing Jual Saham TLKM Rp161,1 Miliar, BMRI Paling Banyak Dilepas Pekan Ini
Asing Jual Saham TLKM Rp161,1 Miliar, BMRI Paling Banyak Dilepas Pekan Ini

Cakrawala News – 17 Oktober 2026 | Investor asing tercatat melepas saham tlkm senilai Rp161,1 miliar dalam periode perdagangan 12–16 Oktober 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Aksi jual tersebut menempatkan Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebagai salah satu saham dengan nilai net foreign sell terbesar pada pekan itu, berdasarkan pemantauan RTI Business.

Selain tlkm, sejumlah saham unggulan lain juga masuk daftar net foreign sell atau NFS. Bank Mandiri Tbk (BMRI) menempati posisi teratas dengan NFS Rp204,3 miliar, disusul TLKM, lalu GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

Data RTI Business menunjukkan harga BMRI berada di Rp3.980 per saham, turun Rp20 atau melemah 0,50 persen. Sementara itu, harga saham tlkm turun Rp30 atau terkoreksi 1,33 persen menjadi Rp2.230 per saham.

Tekanan Jual Menyebar ke Saham Berkapitalisasi Besar

Tekanan jual tidak hanya menimpa tlkm dan BMRI. GOTO mencatat NFS Rp95 miliar dengan harga saham merosot Rp3 atau 10 persen menjadi Rp27 per saham. Penurunan 10 persen tersebut menjadi koreksi terdalam di antara lima saham yang masuk daftar NFS pada periode itu.

ANTM mencatat NFS Rp67,7 miliar dengan harga saham terkoreksi Rp160 atau 5,08 persen menjadi Rp2.990 per saham. Adapun ADMR mencatat NFS Rp67,2 miliar, sementara harganya turun Rp135 atau 9 persen menjadi Rp1.365 per saham.

BMRI dan TLKM menjadi dua saham dengan nilai NFS terbesar di antara lima saham yang terlihat pada tangkapan layar RTI Business. Keduanya merupakan emiten berkapitalisasi pasar besar yang sahamnya aktif diperdagangkan di BEI.

Dalam konteks yang lebih luas, aksi jual asing juga terlihat pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing mencatat net foreign sell sebesar Rp182,94 miliar hingga sesi pertama. Saham yang paling banyak dijual asing saat itu adalah tlkm senilai Rp34,93 miliar, disusul GOTO Rp25,86 miliar dan Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp18,11 miliar.

Pada sesi tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 2,16 persen ke level 5.814. Hanya 80 saham yang menguat, sementara 621 saham terkoreksi dan 89 saham tidak bergerak. Secara year to date, IHSG tercatat anjlok 32,75 persen dan tergelincir 10,02 persen dalam sebulan terakhir.

Nilai transaksi saham pada siang itu mencapai Rp8,57 triliun dengan volume 22,43 miliar saham dan frekuensi 1,09 juta kali. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat Rp10.225 triliun. Seluruh sebelas sektor di BEI berada di zona merah, dengan sektor energi mencatat penurunan terbesar sebesar 3,71 persen.

IHSG Tertekan Sejak Pembukaan

Pelemahan pasar sebenarnya sudah terlihat sejak awal perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. IHSG dibuka langsung melemah ke posisi 5.917,13 dari penutupan hari sebelumnya di level 5.943,02. Pada pukul 09.03 WIB, indeks masih tertekan dengan penurunan 0,75 persen ke posisi 5.898,74.

Seluruh sektor saham kompak berada di zona merah pada awal sesi. Sektor teknologi mengalami penurunan paling dalam sebesar 1,77 persen, disusul sektor transportasi yang melemah 1,60 persen. Sektor industri melorot 1,23 persen dan sektor properti terkoreksi 1,09 persen. Saat itu, sebanyak 410 saham melemah, 117 saham menguat, dan 174 saham stagnan.

Sentimen serupa juga terjadi di bursa saham Asia yang seluruhnya berada di zona merah. Indeks Hang Seng turun 1,33 persen, Nikkei terkoreksi 4,52 persen, Shanghai Composite turun 2,24 persen, dan Straits Times tergelincir 0,69 persen.

Meski demikian, tlkm masih masuk dalam daftar rekomendasi saham analis. Berdasarkan catatan BNI Sekuritas, Head of Retail Research Analyst Fanny Suherman memilih saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), PT Ultrajaya Milk Industry and Trading Tbk (ULTJ), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) sebagai trading idea pada perdagangan 15 Oktober 2026.

BNI Sekuritas mencatat IHSG ditutup naik 0,29 persen pada Rabu, 14 Oktober 2026, tetapi kembali disertai aksi jual asing Rp104 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing saat itu antara lain BBRI, BMRI, ADMR, ITMG, dan PTBA. Fanny menyebut IHSG berpotensi kembali koreksi karena gagal menembus level 6.000, dengan support di 5.830–5.900 dan resistance di 5.970–6.000.

Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam risetnya menyebutkan IHSG secara teknikal telah menyentuh area resistance terdekat, tetapi belum mampu bertahan di atasnya. Indikator RSI (14) meningkat ke level 34,2. Jika penguatan berlanjut, IHSG berpeluang menguji level 5.979, 6.009, hingga 6.120. Sebaliknya, apabila gagal menembus 5.979 atau breakdown support 5.906, indeks berpotensi melemah menuju 5.850, dengan support berikutnya di area 5.805–5.774.

Posisi TLKM di Tengah Tekanan Pasar

TLKM sendiri dikenal sebagai salah satu saham blue chip di Indonesia. Saham blue chip merujuk pada saham perusahaan dengan reputasi baik, bisnis relatif mapan, kondisi keuangan kuat, serta posisi kompetitif di industrinya. Di Indonesia, sejumlah emiten yang sering dikaitkan dengan kategori ini antara lain BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII.

Namun, status blue chip tidak menjamin harga saham selalu menguat. Seperti terlihat pada pekan 12–16 Oktober 2026, tlkm dan BMRI justru menjadi dua saham dengan nilai net foreign sell terbesar. Investor tetap perlu mencermati laporan keuangan, valuasi saham, prospek bisnis, dan kondisi industri sebelum mengambil keputusan investasi.

Bagi pembaca, deretan data ini menunjukkan bahwa tekanan jual asing pada periode tersebut terkonsentrasi di saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk tlkm. Perkembangan selanjutnya yang perlu dicermati adalah arah arus dana asing pada pekan berikutnya serta kemampuan IHSG bertahan di area support teknikal yang disebutkan para analis.

Exit mobile version