Banjir Rendam Sentra Unggas, Thailand Batasi Ekspor Telur hingga 50 Persen

Banjir Rendam Sentra Unggas, Thailand Batasi Ekspor Telur hingga 50 Persen
Banjir Rendam Sentra Unggas, Thailand Batasi Ekspor Telur hingga 50 Persen

Cakrawala News – 10 Oktober 2026 | Bencana banjir yang melanda sejumlah sentra produksi unggas di Thailand memaksa pemerintah setempat mengambil kebijakan darurat. Pemerintah Thailand resmi meminta kalangan pengusaha membatasi volume ekspor telur ayam ke luar negeri pada Selasa (6/10/2026), guna memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di pasar domestik selama masa tanggap darurat.

Langkah intervensi ini diambil menyusul banjir yang merendam wilayah-wilayah produksi unggas nasional. Otoritas setempat berharap pembatasan pengiriman ke pasar luar negeri dapat menjaga stabilitas ketersediaan barang sekaligus menekan risiko lonjakan harga di dalam negeri.

Kementerian Perdagangan Thailand menginstruksikan para pelaku usaha untuk memotong alokasi pengiriman telur ke luar negeri sebesar 30 hingga 50 persen sampai Desember 2026. Penurunan volume ekspor ini berdampak langsung terhadap ketersediaan pasokan di negara tujuan utama, seperti Singapura dan Hong Kong.

Pada tahun lalu, Singapura menyerap hingga 79 persen dari total ekspor telur Thailand dengan nilai transaksi mencapai 1,7 miliar baht atau setara Rp902,73 miliar. Ketergantungan Singapura terhadap pasokan telur dari Thailand membuat kebijakan pembatasan ini berpotensi memengaruhi pasar di negara tersebut.

Wakil Direktur Jenderal Departemen Perdagangan Dalam Negeri Thailand, Jirawuth Suwanna-arj, menyatakan pihaknya telah meminta asosiasi dan peternakan besar menahan harga jual telur di angka 4 baht atau sekitar Rp2,1 ribu per butir agar tidak membebani daya beli warga. Permintaan tersebut disampaikan langsung kepada para pelaku usaha unggas di negara itu.

Dampak Kerusakan di Chachoengsao

Dampak kerusakan paling parah dialami oleh sentra peternakan di Provinsi Chachoengsao, yang terletak sekitar dua jam perjalanan di sebelah timur Bangkok. Menurut Jirawuth, banjir di wilayah Chachoengsao telah menewaskan sekitar tiga juta ekor ayam petelur.

Terjangan banjir bandang sejak pertengahan September 2026 tersebut telah melanda 51 provinsi dan merenggut 31 korban jiwa. Otoritas bahkan sempat menetapkan status darurat di ibu kota Bangkok setelah curah hujan ekstrem tercatat menembus 320 milimeter dalam tempo tiga hari.

Pemerintah kini memetakan daerah yang tidak tergenang air guna mengalihkan sumber pasokan telur ke jaringan pasar swalayan dan pasar tradisional. Para pedagang perantara juga diimbau menjaga kelancaran rantai distribusi logistik.

Imbauan tersebut dikeluarkan mengingat badan meteorologi memperingatkan potensi hujan lebat susulan pada 9 hingga 13 Oktober 2026 di kawasan timur, tengah, serta selatan Thailand. Peringatan cuaca ini menjadi perhatian serius karena dapat memperburuk kondisi wilayah yang belum sepenuhnya pulih.

Selain mengatur distribusi dan harga, pemerintah Thailand juga mengambil langkah untuk mengamankan ketersediaan pasokan telur dalam jangka menengah. Jirawuth menyebut pihaknya bekerja sama dengan instansi lain untuk memperpanjang masa produktif ayam dari 80 minggu menjadi 85 minggu.

Kebijakan pembatasan ekspor ini menunjukkan bagaimana bencana banjir tidak hanya berdampak pada keselamatan warga dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mengganggu rantai pasok pangan lintas negara. Thailand merupakan salah satu eksportir telur utama di kawasan Asia Tenggara, sehingga perubahan kebijakan ekspornya dapat memengaruhi harga dan ketersediaan di negara-negara tujuan.

Bagi Singapura dan Hong Kong, pembatasan ini menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi sumber pasokan pangan. Ketergantungan pada satu negara pemasok membuat keduanya rentan terhadap guncangan yang berasal dari bencana alam di wilayah produsen.

Ke depan, yang perlu dicermati adalah perkembangan cuaca di Thailand hingga pertengahan Oktober serta efektivitas langkah pemerintah dalam menstabilkan harga telur di pasar domestik. Jika banjir susulan benar-benar terjadi, tekanan terhadap pasokan dan harga telur berpotensi berlanjut hingga akhir tahun.

Pemerintah Thailand juga masih harus memastikan bahwa pemetaan wilayah bebas genangan berjalan efektif, sehingga distribusi telur dari daerah yang tidak terdampak dapat menjangkau seluruh pasar. Perpanjangan masa produktif ayam menjadi 85 minggu menjadi salah satu upaya untuk menutup kekurangan pasokan akibat kematian jutaan ayam petelur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *