Cakrawala News – 30 Oktober 2026 | Bill Gates puji AI Meta milik Zuckerberg, Muse dinilai mampu mengubah cara orang bekerja dalam penilaian langka dari salah satu tokoh paling berpengaruh di industri teknologi. Pendiri Microsoft itu menyebut Muse sebagai produk kecerdasan buatan konsumen pertama yang benar-benar hebat karena mampu menyelesaikan tugas nyata, bukan sekadar menjawab pertanyaan lewat percakapan. Pujian tersebut disampaikan Gates dalam wawancara bersama pemimpin redaksi The Verge, Nilay Patel, melalui siniar Decoder yang dirilis 22 Oktober 2026.
Menurut Gates, ia bahkan menghubungi Kepala AI Meta, Alexandr Wang, untuk menyampaikan selamat atas pengembangan agen AI personal tersebut. Dukungan itu menarik perhatian karena Gates dikenal sebagai salah satu pengusaha teknologi yang paling vokal memperingatkan risiko kemajuan AI, termasuk bagi keamanan dan masa depan pekerjaan manusia.
“Muse merupakan kemajuan yang sangat baik. Saya berbicara dengan Alexandr Wang tentang produk itu dan mengucapkan selamat kepadanya. Meskipun akan menghadapi berbagai tantangan, agen AI personal akan membantu orang menyelesaikan pekerjaan,” kata Gates, seperti dilansir The Times of India pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Beda Muse dengan Chatbot Konvensional
Muse diperkenalkan Meta pada 8 September 2026 dengan dukungan model Muse Spark. Berbeda dari chatbot konvensional yang terutama merespons perintah melalui percakapan, agen AI ini dirancang untuk menjalankan tugas nyata atas nama pengguna.
Kemampuannya mencakup memesan perjalanan, mengisi formulir, berbelanja, hingga mengelola surat elektronik. Layanan itu dapat diakses melalui aplikasi tersendiri maupun WhatsApp.
Gates menilai kemampuan menyelesaikan pekerjaan menjadi pembeda utama Muse di tengah keraguan masyarakat terhadap AI. Ia menyoroti pengalaman banyak orang menggunakan model gratis yang kurang andal, ringkasan pencarian otomatis yang keliru, serta chatbot yang menghasilkan informasi palsu, yang turut membentuk persepsi negatif terhadap teknologi tersebut.
“Muse benar-benar melakukan sesuatu dan merupakan produk konsumen yang bagus,” ujarnya.
Meta mulai menunjukkan daya tarik produknya kepada pasar. Dalam konferensi laporan keuangan kuartal III, CEO Meta Mark Zuckerberg mengatakan lebih dari 10 juta orang telah mencoba Muse, dengan sekitar seperempat pengguna kembali mengaksesnya setiap hari. Belanja disebut menjadi tugas yang paling sering dilakukan pengguna.
Meski begitu, layanan ini masih tersedia terbatas di Amerika Serikat dan Kanada, sehingga jangkauan penggunanya belum mencakup pasar global.
Persoalan Keamanan di Balik Penerimaan
Di balik penerimaan positif tersebut, terdapat persoalan mendasar mengenai keamanan. Setiap agen Muse beroperasi melalui komputer awan khusus, sementara agen pengawas bernama Sentinel harus menyetujui tindakan yang dikirimkan ke internet.
Kendati demikian, sistem pengamanan belum sepenuhnya mencegah kesalahan. Dalam satu insiden, Muse membagikan alamat pengguna kepada penjual di Facebook Marketplace tanpa izin.
Karena itu, pujian Gates tidak berarti dirinya mendukung semua pendekatan pengembangan AI. Dalam wawancara yang sama, ia menyebut AI sebagai “senjata paling berbahaya sepanjang masa” dan memperingatkan bahwa masyarakat perlu bersiap menghadapi sekitar dua dekade perubahan besar.
Menurutnya, manfaat teknologi harus diimbangi pengawasan terhadap risiko serangan siber, ancaman biologis, dan gangguan terhadap pasar kerja. Gates secara khusus menyoroti model open-weight, yakni model AI yang bobotnya dapat diakses dan dimodifikasi pihak lain. Ia menilai model berkemampuan tinggi tidak boleh dijalankan pada platform yang memungkinkan pengamanan dihapus begitu saja.
Kekhawatiran itu mencuat setelah Meta merilis Muse Spark Open, model dengan 816 miliar parameter yang dirancang untuk pemrograman dan pekerjaan berbasis agen. Wang menyebutnya sebagai model open-weight paling mumpuni dari perusahaan Amerika Serikat, sementara Meta menyatakan telah menanamkan pengamanan yang kuat.
Pilihan Membatasi AI dan Tujuan Hidup
Dalam wawancara terpisah, Gates juga mengemukakan gagasan bahwa manusia kelak dapat memilih membatasi penggunaan AI pada bidang tertentu, bahkan ketika teknologi itu mampu bekerja lebih baik daripada manusia. Ia mengibaratkan pilihan tersebut dengan komunitas Amish yang tidak mengikuti seluruh perkembangan teknologi modern.
“Kita bisa saja memilih hidup seperti komunitas Amish dan hanya menggunakan AI untuk hal-hal tertentu,” kata Gates, seperti dilansir Barchart pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Gagasan itu muncul ketika Gates membahas kemungkinan AI dan robot mengambil alih sebagian besar pekerjaan manusia. Jika mesin kelak mampu menghasilkan barang dan jasa dalam jumlah melimpah, persoalannya tidak lagi terbatas pada hilangnya pekerjaan atau pendapatan. Masyarakat juga perlu menentukan kegiatan apa yang tetap ingin dilakukan manusia ketika pekerjaan tidak lagi menjadi kebutuhan utama.
Gates menilai masa depan dengan kelimpahan barang dan jasa justru menghadirkan persoalan mendasar mengenai tujuan hidup. Ketika AI mampu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih baik, manusia harus menentukan kontribusi apa yang masih ingin mereka berikan.
“Namun, persoalan lainnya adalah bagaimana menghadapi kelimpahan dan menemukan tujuan hidup dalam kondisi seperti itu. Saya akan menyerahkan kepada generasi muda untuk menentukan bagaimana mereka ingin menghadapinya kelak,” ujarnya.
Untuk menjawab persoalan itu, Gates mengusulkan agar sejumlah profesi dipertahankan sebagai wilayah kerja manusia. Dalam memo yang dibahasnya, ia menyebut pengasuhan anak, penyiapan makanan, seni, dan olahraga sebagai bidang yang mungkin tetap dikerjakan manusia meskipun AI kelak lebih unggul.
“Saya mengusulkan dalam memo saya agar beberapa profesi, seperti pengasuhan anak, penyiapan makanan, seni, olahraga, dan berbagai kegiatan lainnya, dapat ditetapkan sebagai bidang yang khusus diperuntukkan bagi manusia, meskipun AI mampu melakukannya dengan lebih baik,” kata Gates.
Kombinasi pujian dan peringatan dari Gates menggambarkan posisi industri AI yang tengah berada di persimpangan. Di satu sisi, produk seperti Muse menunjukkan bahwa agen AI personal mulai mampu mengubah cara orang bekerja dan menyelesaikan tugas sehari-hari. Di sisi lain, isu keamanan, model open-weight, dan dampak terhadap lapangan kerja masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Ke depan, yang perlu dicermati adalah bagaimana Meta memperluas jangkauan Muse ke pasar global sekaligus memperbaiki celah keamanan yang sudah muncul. Selain itu, perdebatan mengenai batas penggunaan AI dan profesi yang tetap diperuntukkan bagi manusia akan terus bergulir, terutama ketika generasi muda mulai menentukan arah kebijakan teknologi di masa mendatang.
