BMKG Peringatkan Curah Hujan Tinggi hingga 10 November 2026, Aceh hingga Sumut Berstatus Awas

BMKG Peringatkan Curah Hujan Tinggi hingga 10 November 2026, Aceh hingga Sumut Berstatus Awas
BMKG Peringatkan Curah Hujan Tinggi hingga 10 November 2026, Aceh hingga Sumut Berstatus Awas

Cakrawala News – 05 November 2026 | Peringatan curah hujan tinggi di Indonesia hingga 10 November 2026 resmi dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui peringatan dini untuk periode Dasarian I November 2026. Lembaga itu mencatat sekitar 8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim penghujan, sementara sejumlah daerah diprediksi dilanda hujan lebat hingga sangat lebat yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi.

Peringatan tersebut disampaikan BMKG melalui akun Instagram resminya, @infobmkg. Kategori ditentukan berdasarkan prakiraan curah hujan dan peluang terjadinya hujan dalam periode dasarian atau sepuluh hari. Tingkat peringatan dibagi menjadi tiga, yaitu Waspada, Siaga, dan Awas.

Wilayah berstatus Awas menjadi yang paling perlu diperhatikan karena berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sangat deras hingga cuaca ekstrem. BMKG menyatakan status ini dapat meningkatkan risiko banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang berdampak luas.

Daftar Wilayah Berstatus Awas

Berdasarkan informasi BMKG, sejumlah wilayah di tiga provinsi masuk kategori Awas. Di Provinsi Aceh, wilayah tersebut meliputi Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Aceh Selatan, dan Kabupaten Nagan Raya.

Di Provinsi Sumatra Barat, kategori Awas mencakup Kota Padang, khususnya di daerah Lubuk Begalung. Sementara di Sumatra Utara, status Awas meliputi Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga.

BMKG mengimbau masyarakat yang berada di wilayah rawan untuk menghindari lokasi berisiko dan mengikuti arahan pemerintah daerah setempat. Warga juga diminta waspada terhadap kemungkinan banjir, luapan sungai, dan longsor, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar lereng pegunungan dan bantaran sungai.

Penyebab Cuaca Ekstrem di Aceh

Forecaster on Duty BMKG SIM, Faqih Musyaffa, menjelaskan sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Aceh. Menurutnya, Monsun Asia terpantau tidak aktif pada Dasarian II Oktober dan diprediksi aktif pada Dasarian III Oktober hingga Dasarian III November.

Sebaliknya, Monsun Australia diprediksi terus aktif pada periode Oktober hingga November dengan intensitas lebih kuat dari klimatologisnya. Selain itu, adanya daerah belokan angin dan konvergensi terpantau dapat memicu aktivitas konvektif di wilayah Aceh.

Faqih juga menyebut suhu muka laut yang hangat di Samudra Hindia barat Sumatera serta Perairan Utara dan Timur Aceh berpotensi menambah kandungan uap air di atmosfer. Kondisi-kondisi tersebut disebut dapat berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan.

BMKG meminta masyarakat mewaspadai hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang datang tiba-tiba pada sore hingga malam hari akibat pemanasan intens pada siang hari. Faqih menyarankan agar warga berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan, terutama saat berkendara dalam cuaca buruk yang dapat disertai angin kencang, serta menghindari daerah sumber air seperti danau, sungai, dan waduk ketika hujan lebat atau berlangsung lama.

Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan analisis dari TCWC Jakarta-BMKG, bibit siklon 91B sudah menjauh dari perairan Aceh dan terbentuk menjadi Siklon Tropis MURASU yang bergerak menuju daratan India, sehingga tidak berdampak langsung terhadap cuaca di wilayah Aceh.

Wilayah Siaga dan Waspada

Selain kategori Awas, BMKG mencatat sejumlah provinsi masuk kategori Siaga. Dalam pembaruan peringatan dini harian untuk Kamis, 5 November 2026, lima provinsi berstatus Siaga karena berpotensi mengalami hujan lebat yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, yaitu Sumatra Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Jawa Barat, dan Sulawesi Barat.

Pada periode yang sama, wilayah berstatus Waspada atau berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang meliputi Aceh, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali.

BMKG juga memperbarui pemetaan peringatan dini curah hujan harian untuk periode 5 hingga 7 November 2026. Memasuki 6 November 2026, intensitas potensi curah hujan terpantau bergeser dan merata ke sejumlah wilayah Indonesia bagian barat, tengah, hingga timur.

Pembaruan ini dirilis sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti genangan air, banjir, serta tanah longsor. Masyarakat di provinsi berstatus Siaga diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak banjir, luapan air sungai, dan tanah longsor.

Langkah Antisipasi yang Dianjurkan

BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah yang telah memasuki musim hujan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir maupun longsor. Warga dianjurkan membersihkan saluran air dan menghindari aktivitas di luar ruangan saat hujan deras disertai petir.

Selain itu, masyarakat diminta terus memantau pembaruan informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG, yaitu @InfoBMKG dan bmkg.go.id. Pemantauan berkala penting agar warga dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca terkini.

Peringatan curah hujan tinggi di Indonesia hingga 10 November 2026 ini menjadi pengingat bahwa sebagian wilayah Tanah Air mulai memasuki periode musim hujan. Kesiapsiagaan di tingkat warga, bersama koordinasi dengan pemerintah daerah, menjadi kunci untuk mengurangi risiko dampak bencana hidrometeorologi selama periode tersebut.

Masyarakat diimbau tidak mengabaikan pembaruan informasi dari BMKG, terutama bagi mereka yang bermukim di wilayah berstatus Awas dan Siaga, karena kondisi atmosfer dapat berubah dari hari ke hari sepanjang Dasarian I November 2026.

Exit mobile version