Cakrawala News – 12 Oktober 2026 | Bursa Asia bergerak bervariasi pada perdagangan Senin (12/10/2026), sementara di dalam negeri, saham PT Andalan Sakti Primaindo Tbk. (ASPI) kembali melanjutkan penguatan setelah suspensi dibuka oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Penguatan ASPI menjadi salah satu sorotan di tengah tekanan yang masih membayangi sejumlah indeks kawasan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan pukul 10.06 WIB, saham ASPI menguat 135 poin atau 13,78 persen ke level Rp1.115 dengan nilai transaksi Rp4,32 miliar. Pergerakan ini melanjutkan tren positif saham perseroan setelah sebelumnya terkunci selama tujuh hari bursa.
Pjs Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Endra Febri Styawan, dalam keterangan tertulisnya pada 9 Oktober 2026, menyatakan bahwa suspensi saham ASPI dibuka kembali mulai sesi pra-pembukaan tanggal 12 Oktober 2026. Pembukaan suspensi itu dilakukan setelah BEI mensuspensi saham ASPI pada perdagangan 1 Oktober 2026 karena adanya peningkatan harga saham yang signifikan.
Kronologi Penguatan ASPI
Penelusuran data perdagangan menunjukkan ASPI memang berada dalam tren penguatan tajam dalam tiga hari bursa sebelum suspensi dijatuhkan. Pada 30 September 2026, saham ASPI ditutup di level 980, melonjak 150 poin atau 18,07 persen dengan nilai transaksi Rp17,33 miliar.
Sebelumnya, pada 29 September 2026, saham ini ditutup di level 830, naik 150 poin atau 22,06 persen dengan nilai Rp6,64 miliar. Adapun pada 28 September 2026, ASPI ditutup di level 680, naik 30 poin atau 4,62 persen dengan nilai transaksi Rp1,28 miliar.
Selama periode suspensi 1 Oktober hingga 9 Oktober 2026, harga ASPI terkunci di Rp980. Dengan dibukanya kembali perdagangan, saham ini melanjutkan penguatan dalam empat hari bursa terakhir dan berhasil menyentuh level psikologis baru di atas Rp1.000.
Bursa Asia Tertekan Sentimen Timur Tengah
Di kawasan Asia, indeks KOSPI Korea Selatan menjadi salah satu yang tertekan. Indeks acuan itu turun 2,14 persen pada pukul 09.04 WIB dan memperpanjang pelemahan ke level terendah dalam lebih dari sebulan. Tekanan datang setelah serangan terbaru kelompok Houthi ke Arab Saudi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap meluasnya konflik di kawasan serta potensi gangguan pasokan energi.
Harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas USD104 per barel, sehingga memicu kekhawatiran terhadap inflasi. Di saat yang sama, kenaikan imbal hasil US Treasury dan meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut turut membebani pasar saham.
Meski demikian, sejumlah indeks lain bergerak positif. Indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 0,61 persen, sementara pasar saham Jepang ditutup karena hari libur. Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,12 persen dan Nasdaq 100 menguat 0,24 persen, sedangkan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average bertambah 28 poin atau 0,05 persen.
Wall Street sebelumnya mencatat penguatan mingguan berkat reli saham teknologi yang membantu investor mengabaikan kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi. Dow Jones dan S&P 500 sama-sama membukukan kenaikan mingguan kedua dalam tiga pekan, sementara Nasdaq Composite mencatat penguatan selama empat pekan berturut-turut.
Fokus Investor Pekan Ini
Ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap harga energi. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sedang mempertimbangkan keterlibatan negaranya dalam serangan Arab Saudi terhadap kelompok Houthi di Yaman setelah serangan mematikan di bandara internasional Riyadh.
Investor berharap musim laporan keuangan kuartal III 2026 dapat menopang pasar saham. FactSet memperkirakan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 tumbuh 29,6 persen, yang akan menjadi kuartal keempat berturut-turut dengan pertumbuhan di atas 25 persen, didorong pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI).
Namun, investor juga akan mencermati komentar manajemen perusahaan terkait kenaikan biaya bahan bakar dan pinjaman. Brian Leonard, manajer portofolio Keeley Gabelli Small Cap Dividend Fund, menilai investor kini berfokus pada kemampuan perusahaan bertahan menghadapi kondisi ekonomi yang penuh tantangan, termasuk apakah perusahaan mampu meneruskan kenaikan harga kepada pelanggan dan mempertahankan pertumbuhan margin.
Musim laporan keuangan akan memasuki fase lebih ramai dengan dimulainya publikasi kinerja sejumlah bank besar AS, seperti Bank of America, Citigroup, Goldman Sachs, JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Wells Fargo. Selain itu, data indeks harga konsumen (CPI) September dijadwalkan dirilis Rabu, disusul indeks harga produsen (PPI) pada Kamis.
Aksi Korporasi VIVA
Dari sisi aksi korporasi, emiten Grup Bakrie, PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA), berencana mengonversi utang senilai Rp1,72 triliun menjadi saham baru melalui skema penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu atau private placement. Perseroan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 43,08 miliar saham baru Seri C dengan nilai nominal Rp40 per saham.
Saham baru itu akan diberikan kepada dua kreditur, yaitu PT Mandara Sentra Perdana (MSP) dan PT Bina Aksara Muliatama (BAM), sebagai pengganti piutang kepada perseroan. Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi utang berdasarkan perjanjian perdamaian yang telah mendapat pengesahan pengadilan atau homologasi.
Dalam prospektus private placement, manajemen VIVA menjelaskan rencana tersebut dilaksanakan dalam rangka memperbaiki posisi keuangan perseroan guna memenuhi putusan pengadilan. Setelah aksi itu, MSP akan memperoleh 25,27 miliar saham baru, sedangkan BAM mendapatkan 17,81 miliar saham, dengan nilai utang yang dikonversi masing-masing Rp1,01 triliun dan Rp712,56 miliar.
Konversi utang tersebut diperkirakan mengubah struktur kepemilikan VIVA secara signifikan. Perseroan memperkirakan pemegang saham lama mengalami dilusi kepemilikan sebesar 72,35 persen setelah seluruh saham baru diterbitkan. Porsi PT Bakrie Global Ventura bakal turun dari 32,94 persen menjadi 9,11 persen, UBS AG Hong Kong dari 5,03 persen menjadi 1,39 persen, dan PT Surya Ganesa Amani dari 6,90 persen menjadi 1,91 persen.
Kepemilikan masyarakat dengan porsi saham di bawah 5 persen juga diproyeksikan turun dari 55,13 persen menjadi 15,24 persen. Sebaliknya, MSP diperkirakan menguasai 42,44 persen saham VIVA dan BAM memiliki 29,91 persen, sehingga kedua kreditur berpotensi menjadi pemegang saham terbesar perseroan. Rencana konversi utang itu menjadi bagian dari penyelesaian kewajiban VIVA dan entitas anaknya melalui proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang bermula dari permohonan PT Laras Nugraha Cipta pada Januari 2024.
Bagi pelaku pasar, pergerakan saham ASPI pasca-unsuspensi dan rencana private placement VIVA menjadi dua agenda yang layak dicermati, terutama terkait dampaknya terhadap struktur kepemilikan dan likuiditas saham. Di sisi lain, arah bursa Asia ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah, harga minyak, serta data inflasi dan kinerja keuangan emiten di Amerika Serikat.












