Cakrawala News – 03 Oktober 2026 | Danantara kejar penyelesaian merger PTPP-ADHI, berikutnya Waskita-WIKA menjadi agenda utama dalam konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi tahun ini. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan akan mendahulukan proses merger empat BUMN Karya, yakni PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Brantas Abipraya, dan PT Nindya Karya, sebelum menangani dua perusahaan yang membutuhkan restrukturisasi lebih kompleks.
Langkah tersebut disampaikan Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, usai acara Executive Breakfast Meeting (EBM) seri ke-6 bertajuk ‘Dua Tahun Danantara’ oleh IKA Fikom Unpad di Jakarta, Jumat (2/10/2026). Menurut Dony, penggabungan keempat perusahaan konstruksi pelat merah itu merupakan opsi yang paling mudah untuk dieksekusi.
“Bahwa merger PTPP, Adhi Karya, kemudian Brantas Abipraya dan Nindya Karya, ini akan kita selesaikan. Ini yang paling mudah untuk dilakukan mergernya. Sehingga kita mulai melakukan merger ini dulu. Kemudian baru berikutnya perusahaan yang harus kita restrukturisasi. Itu ada WIKA dan Waskita,” ujar Dony.
WIKA dan Waskita Jadi Prioritas Restrukturisasi
Dony menjelaskan, Danantara akan memfokuskan diri pada proses merger empat perusahaan BUMN Karya terlebih dahulu. Setelahnya, barulah perseroan mengarahkan perhatian pada dua perusahaan yang membutuhkan langkah restrukturisasi lebih kompleks, yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).
Menurutnya, WIKA dan Waskita memerlukan penanganan khusus, mulai dari optimalisasi atau investasi aset hingga penurunan beban utang. Ia menilai kedua perusahaan itu menjadi persoalan yang membutuhkan upaya tersendiri dibandingkan perusahaan konstruksi BUMN lainnya.
“Terutama sekali WIKA dan Waskita. Kalau yang PT Hutama Karya, mereka relatively sehat. Jadi hanya WIKA, Waskita yang akan menjadi persoalan,” kata Dony.
Ia menambahkan, langkah yang perlu dilakukan untuk WIKA dan Waskita mencakup restrukturisasi, divestasi aset, serta penurunan utang. Setelah proses itu rampung, barulah rencana penggabungan keduanya dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari konsolidasi BUMN Karya secara menyeluruh.
Empat Skema Penataan BUMN
Dony memaparkan, Danantara saat ini tengah melakukan penataan terhadap perusahaan-perusahaan BUMN melalui empat skema, yaitu penutupan atau likuidasi, divestasi, konsolidasi, serta restrukturisasi. Untuk perusahaan yang masuk dalam skema restrukturisasi, langkah yang dilakukan dapat berupa penambahan ekuitas, injeksi aset, maupun restrukturisasi pinjaman.
Penataan itu menjadi bagian dari target besar pemerintah yang ingin merampingkan jumlah entitas BUMN. Dony menyebut pemerintah tengah melakukan pembenahan terhadap lebih dari 1.000 entitas BUMN, termasuk menggabungkan hingga menutup sejumlah perusahaan.
“Ini sudah selesai kita tentukan sehingga harapannya ini selalu disampaikan oleh Bapak Presiden, kita harapkan akhir tahun ini tinggal hanya 200 perusahaan yang kita kelola, ya,” kata Dony di Tribrata Hotel, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia hanya memiliki paling banyak 300 BUMN hingga 31 Desember 2026. Pemerintah menyatakan hanya akan mempertahankan BUMN yang produktif dan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Merger Asuransi Juga Dikebut
Selain sektor konstruksi, Danantara tengah melakukan proses konsolidasi terhadap perusahaan-perusahaan BUMN sektor asuransi. Dony menargetkan proses merger perusahaan asuransi milik negara rampung pada akhir 2026.
Konsolidasi tersebut akan mencakup bisnis asuransi jiwa, asuransi umum, hingga asuransi kredit. Menurut Dony, proses merger asuransi sedang berjalan dan ditargetkan selesai pada akhir tahun.
“Merger asuransi juga sedang terjadi. Dan akhir tahun ini sudah harus terjadi. Terutama dari life Insurance, kita akan go, kemudian general insurance juga, dan yang terakhir credit insurance. Ini kita harapkan akhir tahun sudah selesai,” katanya.
Dengan peta jalan itu, Danantara menempatkan merger PTPP, Adhi Karya, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya sebagai langkah pembuka. Setelah keempatnya rampung, perhatian akan beralih ke WIKA dan Waskita yang memerlukan restrukturisasi, divestasi aset, dan penurunan utang sebelum digabungkan.
Bagi pasar dan pelaku industri konstruksi, urutan langkah ini menjadi sinyal bahwa konsolidasi BUMN Karya tidak akan berjalan serentak. Kejelasan waktu penyelesaian merger empat perusahaan pertama, serta hasil restrukturisasi WIKA dan Waskita, akan menjadi faktor yang perlu dicermati dalam beberapa bulan mendatang.
