Cakrawala News – 29 September 2026 | Nilai tukar rupiah makin dekat Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, ini risiko yang perlu diwaspadai karena tekanan datang dari kombinasi faktor eksternal yang saling memperkuat. Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS menguat 0,32 persen ke level Rp17.961 pada perdagangan Senin pagi, 28 September 2026, setelah sebelumnya ditutup di level Rp17.903. Sepanjang tahun 2026, mata uang Paman Sam itu telah menguat 7,67 persen terhadap rupiah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah terus memantau pergerakan nilai tukar dan akan mendorong ekspor agar penerimaan devisa meningkat. “Kita monitor dulu. Pemerintah tentu kita akan menggenjot ekspor supaya devisa meningkat,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Pernyataan itu disampaikan Airlangga saat rupiah berada di bawah tekanan. Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah melemah 75 poin atau 0,42 persen menuju posisi Rp17.978 per dolar AS. Level tersebut menjadi yang terendah dalam lebih dari tujuh pekan dan semakin mendekati batas psikologis Rp18.000.
Tekanan Eksternal yang Bekerja Bersamaan
Chief Economist PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai tekanan terkuat terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal, bukan satu faktor domestik tertentu. Faktor paling dominan adalah kenaikan kembali imbal hasil surat utang pemerintah AS setelah pasar memperkirakan bank sentral AS masih akan menaikkan suku bunga.
Kondisi itu membuat aset dolar menjadi lebih menarik dan selisih imbal hasil Indonesia terhadap AS semakin menyempit. Pada saat yang sama, konflik Timur Tengah mempertahankan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel. Bagi Indonesia, kondisi tersebut menghasilkan tekanan ganda karena meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor minyak sekaligus menambah risiko inflasi dan beban fiskal.
“Tiga tekanan yang sekarang bekerja bersamaan, yakni tingginya imbal hasil AS, Brent di atas 100 dolar AS per barel, dan melemahnya arus investasi portofolio,” terang Josua. Ia menambahkan, pada pekan hingga 25 September 2026 investor asing mencatat penjualan bersih obligasi Indonesia sekitar 127 juta dolar AS dan saham sekitar 145 juta dolar AS.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyoroti hal serupa dari sisi lain. Menurut analisisnya, sentimen terkuat pelemahan rupiah justru datang dari kenaikan bond yield global, terutama pada tenor panjang. Yield US Treasury 10 tahun dalam beberapa pekan terakhir bergerak di sekitar 4,9 sampai 5 persen, bahkan sempat menyentuh sekitar 5,03 persen.
Ketika yield obligasi pemerintah AS naik, hurdle rate atau tingkat pengembalian minimum investor global ikut naik. “Investor menjadi lebih selektif terhadap aset emerging market, termasuk obligasi Indonesia. Artinya, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak bisa hanya dibaca sebagai persoalan domestic interest-rate differential,” tutur Fakhrul.
Ia menuturkan, Indonesia kini menghadapi kenaikan global term premium, yaitu imbal hasil tambahan yang diminta investor karena memilih memegang obligasi jangka panjang. “Kalau investor bisa mendapatkan yield hampir 5 persen dari US treasury dengan risiko yang sangat rendah, aset Indonesia harus menawarkan kompensasi yang lebih besar, baik melalui yield yang lebih tinggi maupun ekspektasi nilai tukar yang lebih stabil,” jelasnya.
Gejala itu mulai terlihat di pasar domestik. Yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun Indonesia kembali bergerak ke kisaran 7,08 persen pada 25 September 2026, meningkat dari posisi sekitar 6,96 persen pada akhir Agustus 2026. “Jadi menurut saya, rupiah yang kembali mendekati Rp18.000 bukan hanya persoalan dolar menguat. Ini merupakan bagian dari repricing terhadap harga modal global,” tegas Fakhrul.
Pemerintah Pertahankan Asumsi Rp17.500
Di tengah tekanan tersebut, Airlangga menilai kondisi fundamental makroekonomi Indonesia masih cukup baik. Meski demikian, ia mengakui pergerakan nilai tukar juga dapat dipengaruhi faktor di luar fundamental. “Kalau kita lihat karena kondisi makro cukup baik, kita lihat aja, kan selalu ada faktor di luar fundamental, faktor sentimental kan ada juga, kita harus mem-balance aja,” ujarnya.
Airlangga juga menegaskan pemerintah tidak akan mengubah asumsi nilai tukar rupiah untuk 2027. Pemerintah memasang asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2027. “Tidak diganti, optimis,” tegasnya.
Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (25/9/2026), rupiah dibuka di level Rp17.933 per dolar AS, melemah 17 poin atau 0,09 persen dari penutupan sebelumnya Rp17.916. Pelemahan itu terjadi ketika sebagian besar mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS pada awal perdagangan.
Data Bank Indonesia menunjukkan kurs JISDOR pada Kamis (24/9/2026) berada di level Rp17.898 per dolar AS, naik dibandingkan Rp17.803 pada hari sebelumnya. Pada 23 September, JISDOR berada di Rp17.803, sehari sebelumnya Rp17.883, sedangkan pada 21 September tercatat Rp17.813. Pada 18 September, JISDOR berada di level Rp17.745 per dolar AS.
Josua menilai level Rp18.000 sebaiknya dipahami sebagai batas psikologis pasar, bukan batas fundamental yang menentukan sehat atau tidaknya perekonomian. Ia menyebut rupiah menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan ketika minyak kembali mendekati 106 dolar AS per barel dan dolar menguat.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Bagi pembaca, pergerakan rupiah makin dekat Rp18.000, ini risiko yang perlu diwaspadai terutama karena tekanan datang dari harga minyak, imbal hasil obligasi AS, dan arus modal asing yang keluar dari pasar domestik. Ketiga faktor itu dapat memengaruhi biaya impor, harga barang, hingga beban pembayaran utang valas.
Pemerintah memilih merespons dengan mendorong ekspor demi memperkuat devisa, sambil mempertahankan asumsi nilai tukar Rp17.500 dalam RAPBN 2027. Namun para ekonom menekankan bahwa pergerakan kurs tidak hanya ditentukan oleh fundamental domestik, melainkan juga oleh repricing harga modal global yang masih berlangsung. Perkembangan yield US Treasury dan harga minyak dunia menjadi dua indikator yang layak dicermati dalam beberapa pekan mendatang.
