Cakrawala News – 06 Oktober 2026 | Penghentian sementara pembangunan data center berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, memicu peringatan keras dari kalangan ekonom. Data center dihentikan di Jabar, Indef: jangan ulangi kesalahan investasi 1980-an menjadi sorotan utama setelah Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didik J Rachbini, menilai kebijakan tersebut berpotensi merusak iklim investasi nasional dan mengulang sejarah kelam industri semikonduktor empat dekade silam.
Didik menyampaikan kritik tersebut dalam keterangan tertulisnya pada Minggu, 4 Oktober 2026. Menurutnya, keputusan penghentian proyek yang sudah berjalan memberikan sinyal negatif kepada investor dan mengancam peluang besar Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai tujuan investasi teknologi di Asia Tenggara.
“Peluang ini jangan sampai membuat kita seperti pelanduk terperosok dua kali di lubang yang sama,” kata Didik dalam keterangan persnya.
Proyek BDX Data Centers Disetop Gubernur Jabar
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya menghentikan sementara pembangunan data center AI milik BDX Data Centers di Jatiluhur. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyebut penghentian dilakukan karena proyek tersebut belum mengantongi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Proyek yang dibangun di lahan sekitar 8.000 meter persegi itu mulai dikerjakan pada 22 September 2026 dan direncanakan memiliki kapasitas daya hingga 640 megawatt (MW). Selain persoalan perizinan, Dedi meminta kajian mengenai dampak proyek terhadap lingkungan, termasuk potensi kebisingan serta penggunaan air dari Waduk Jatiluhur. Pemprov Jabar juga meminta agar kebutuhan air data center tidak mengganggu kepentingan masyarakat dan petani.
Namun, Didik menilai penghentian sepihak tersebut menjadi pukulan telak bagi investor karena menciptakan ketidakpastian iklim investasi. Ia menegaskan Indonesia membutuhkan investasi besar untuk mengembangkan ekosistem data center, terutama karena pemerintah sendiri menargetkan investasi data center AI senilai Rp 360 triliun masuk ke Indonesia.
Target Rp 360 Triliun dan Peta Data Center Nasional
Menurut Didik, minat dan semangat investor sudah cukup jauh, dan pemerintah juga sudah serta mesti bersiap diri karena jumlah investasi ini sedemikian besar. Peluang ini dinilai akan menolong ketertinggalan Indonesia dalam menarik investasi dibandingkan dengan negara-negara sekitarnya.
Pemerintah telah menetapkan sejumlah kawasan sebagai lokasi pengembangan data center, yakni Batam, Jawa Barat, Madura, dan Bali. Saat ini Indonesia memiliki 182 data center yang mayoritas beroperasi di Jakarta sebanyak 94 unit dan Batam sebanyak 16 unit.
Khusus di Batam, rencana investasi data center diperkirakan bernilai USD 15 miliar hingga USD 20 miliar, dengan target kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt. Batam dengan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah 7 persen diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan baru dengan pilar investasi data center.
“Tetapi di Jawa Barat terjadi kisruh di mana pembangunan data center dihentikan sepihak oleh gubernur dengan berbagai alasan lingkungan hidup, pasokan air dan beragam alasan lainnya. Praktek kebijakan yang menyebabkan iklim investasi rusak seperti ini menjadi kendala besar bagi masa depan perekonomian, yang sekarang terhenti bertumbuh moderat 5 persen,” kata Didik.
Bayang-Bayang Kehilangan Investasi Semikonduktor 1980-an
Didik mengingatkan Indonesia pernah kehilangan peluang investasi semikonduktor pada 1980-an. Saat itu, sejumlah perusahaan teknologi global seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto sempat membangun fasilitas perakitan chip di Jakarta dan Bandung, tetapi investasi tersebut akhirnya terhenti akibat kebijakan pemerintah.
Pada tahun 1985, terjadi konflik kebijakan mengenai otomatisasi produksi. Menurut Didik, aliran kuno ortodoks memenangkan konflik tersebut dengan membatasi otomatisasi dan memaksa penyerapan tenaga kerja manual kepada investor. Kebijakan itu dinilai tidak cocok dengan investasi canggih mereka, sehingga perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya hengkang ke Penang, Malaysia.
Indonesia sempat menjadi salah satu pemain utama industri semikonduktor di Asia Tenggara pada 1970-an hingga awal 1980-an. Namun, posisi tersebut kemudian bergeser ke Malaysia akibat kebijakan yang dinilai kurang tepat serta persaingan menarik investasi dengan negara tetangga. Saat ini, Malaysia menguasai sekitar 13 persen pangsa pasar global untuk aktivitas pengujian, perakitan, dan pengemasan chip.
Menurut Didik, kondisi tersebut serupa dengan yang terjadi di Jawa Barat, di mana investasi sudah dilaksanakan tetapi dihentikan sepihak. Ia menilai keputusan ini menjadi pukulan telak bagi investor karena tidak ada kepastian iklim investasi.
Kepastian Kebijakan Daerah Jadi Kunci
Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina itu menyoroti bahwa kepastian kebijakan di daerah menjadi salah satu tantangan yang harus segera dibenahi. Peluang investasi data center senilai ratusan triliun rupiah dinilai menjadi momentum besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai tujuan investasi teknologi di Asia Tenggara.
Data center dihentikan di Jabar, Indef: jangan ulangi kesalahan investasi 1980-an menjadi peringatan bahwa konsistensi kebijakan pusat dan daerah akan menentukan apakah Indonesia mampu memanfaatkan gelombang investasi AI atau kembali kehilangan momentum seperti empat dekade lalu.
Ke depan, publik akan menantikan bagaimana Pemprov Jawa Barat menuntaskan kajian lingkungan dan perizinan proyek Jatiluhur, serta apakah pemerintah pusat akan mengambil langkah untuk menjaga kepercayaan investor di tengah target investasi data center AI senilai Rp 360 triliun. Tanpa kepastian regulasi yang selaras antara pusat dan daerah, kekhawatiran Indef bahwa sejarah 1980-an terulang kembali akan terus membayangi industri data center nasional.
