Korsel Protes Pengumuman AS soal Investasi LNG Alaska, Trump Ancam Biaya Lebih Tinggi

Korsel Protes Pengumuman AS soal Investasi LNG Alaska, Trump Ancam Biaya Lebih Tinggi
Korsel Protes Pengumuman AS soal Investasi LNG Alaska, Trump Ancam Biaya Lebih Tinggi

Cakrawala News – 04 Oktober 2026 | Korea Selatan memprotes pengumuman AS soal investasi LNG Alaska setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan biaya lebih tinggi, bahkan menggandakan biaya tersebut, jika Seoul menolak berinvestasi dalam proyek gas alam cair di Alaska. Ancaman itu disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Jumat, 2 Oktober 2026 waktu setempat, dua hari setelah ia mengumumkan keterlibatan Korea Selatan dalam proyek tersebut.

Ketika ditanya mengenai keputusan Seoul yang belum menandatangani kesepakatan, Trump menyatakan tidak masalah jika Korea Selatan tidak mau melakukannya. Ia justru menegaskan akan mengenakan biaya lebih tinggi kepada negara itu.

“Kalau mereka tidak mau melakukannya, tidak masalah bagi saya. Saya akan mengenakan biaya lebih tinggi,” kata Trump, seraya menambahkan, “Beri tahu mereka, jika mereka tidak segera menandatanganinya, saya akan menggandakannya.”

Hingga kini belum jelas apa yang dimaksud Trump dengan biaya tersebut. Sebelumnya, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan Korea Selatan akan menginvestasikan lebih dari 50 miliar dolar AS, setara sekitar Rp894,43 triliun, dalam proyek LNG Alaska.

Seoul Belum Ambil Keputusan Final

Pemerintah Korea Selatan menegaskan belum mengambil keputusan final terkait partisipasi dalam proyek LNG Alaska. Seoul masih melakukan peninjauan berdasarkan pertimbangan komersial dan hukum sebelum menentukan sikap resmi.

Proyek LNG Alaska mencakup pembangunan pipa sepanjang 1.298 kilometer dari North Slope menuju Alaska bagian selatan. Pipa itu akan mengangkut gas alam yang kemudian didinginkan menjadi bentuk cair sebelum dikirim ke pasar Asia.

Korea Selatan sebelumnya berkomitmen menginvestasikan 350 miliar dolar AS, setara sekitar Rp6.260,98 triliun, di Amerika Serikat berdasarkan kesepakatan perdagangan kedua negara pada Oktober 2025. Komitmen itu menjadi imbalan atas tarif AS yang lebih rendah terhadap barang-barang Korea Selatan. Proyek pembangkit listrik bertenaga gas siklus gabungan di Texas menjadi yang pertama dalam daftar komitmen tersebut.

Dalam perkembangan terpisah, Trump pada Jumat juga mengumumkan proyek pengurasan minyak tahap lanjut atau enhanced oil recovery (EOR) senilai 8,4 miliar dolar AS, setara sekitar Rp150,26 triliun, melalui Truth Social. Ia menyebut kesepakatan dengan Korea Selatan terus membaik, tetapi tidak memberikan perincian proyek tersebut.

Pengumuman itu mengejutkan Seoul karena pemerintah Korea Selatan menilai proyek EOR tidak termasuk dalam kesepakatan investasi strategis bilateral. Seorang pejabat Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan (MOTIR) mengatakan kesepakatan investasi strategis kedua negara terbatas pada hal-hal yang tercantum dalam lembar fakta bersama dan siaran pers.

Bantahan Pejabat Korsel

Menteri Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan Kim Jung-kwan pada Kamis, 1 Oktober 2026, membantah adanya kesepakatan resmi mengenai LNG Alaska. Ia mengatakan kedua pihak hanya menyepakati tiga poin dalam lembar fakta. Menurutnya, angka maupun pernyataan yang bersifat pasti dari Washington melampaui apa yang sebenarnya telah dibahas.

Bloomberg sebelumnya melaporkan Seoul akan menginvestasikan 54 miliar dolar AS, setara sekitar Rp965 triliun, dalam proyek Alaska tersebut. Angka itu merupakan bagian dari investasi dan komitmen yang lebih luas senilai 350 miliar dolar AS untuk berinvestasi di Amerika Serikat pada 2025.

Di sisi lain, Trump mengumumkan komitmen investasi energi dari Korea Selatan senilai 200 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.571 triliun. Paket investasi itu mencakup pembangunan fasilitas pembangkit listrik tenaga gas alam berkapasitas 6,4 gigawatt di Texas, delapan reaktor nuklir baru, serta proyek pipa LNG di Alaska.

Trump mengklaim agenda tersebut sebagai salah satu investasi infrastruktur energi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Salah satu sorotan utama adalah fasilitas PLTG di Texas yang dinamai Project Star. Proyek bernilai 22,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp398,9 triliun itu digadang-gadang menjadi salah satu PLTG terbesar di dunia dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2032.

Penanaman modal jumbo ini merupakan bagian dari implementasi kerangka perjanjian perdagangan antara Washington dan Seoul yang dirancang sejak akhir 2025 dengan nilai total kesepakatan mencapai 350 miliar dolar AS atau sekitar Rp6.249 triliun. Sesuai kesepakatan, Korea Selatan berkomitmen menanamkan modal di sektor-sektor strategis AS. Sebagai imbal baliknya, pemerintah AS bersedia memangkas tarif impor untuk produk-produk asal Korea Selatan menjadi 15 persen.

Ketidakpastian di Tengah Klaim Washington

Meski Trump memasukkan proyek pipa LNG Alaska ke dalam jajaran investasi Korea Selatan, pemerintah Korea Selatan tetap menegaskan bahwa keterlibatan mereka dalam proyek tersebut belum sepenuhnya final. Perbedaan penafsiran antara Washington dan Seoul menyoroti belum tuntasnya rincian kesepakatan investasi strategis kedua negara.

Protes Korea Selatan terhadap pengumuman AS soal investasi LNG Alaska menunjukkan bahwa negosiasi kedua negara masih berjalan dan belum mencapai titik final. Seoul menuntut agar setiap pernyataan resmi didasarkan pada kesepakatan yang benar-benar tercantum dalam dokumen bersama, bukan klaim yang melampaui hasil pembahasan.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada sikap final Korea Selatan terhadap proyek LNG Alaska dan apakah ancaman biaya tambahan dari Trump akan benar-benar diterapkan. Perkembangan ini juga menjadi ujian bagi kerangka perjanjian perdagangan kedua negara yang bernilai ratusan miliar dolar AS.

Exit mobile version