Cakrawala News – 23 September 2026 | Ekspansi multinasional Barito Pacific, pusat kendali tetap di Indonesia menjadi penegasan penting dari konglomerasi yang didirikan pada 1979 tersebut. Di tengah gencarnya perluasan bisnis ke kawasan regional, Grup Barito Pacific memastikan Indonesia masih menjadi pusat pertumbuhan, investasi, konsolidasi, dan penciptaan nilai jangka panjang. Wakil Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk, Rudy Suparman, menyatakan belanja modal sekitar US$5 miliar digelontorkan dalam lima tahun terakhir, dengan sekitar 90% dialokasikan untuk investasi di dalam negeri.
“Ekspansi ini tidak hanya bertujuan mendorong pertumbuhan bisnis dan skala usaha, tetapi juga memperkuat basis industri kami di Indonesia sebagai yang mendorong pertumbuhan industri hilir,” ujar Rudy dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Pernyataan itu menegaskan bahwa langkah Barito Pacific merambah pasar regional tidak dimaksudkan memindahkan pusat kendali bisnis ke luar negeri. Sebaliknya, aset di luar negeri dimanfaatkan untuk memperluas pasar, mendiversifikasi sumber pendapatan, dan memperkuat daya saing grup secara keseluruhan.
Petrokimia dan Energi Terbarukan sebagai Motor Utama
Barito Pacific memiliki portofolio bisnis yang mencakup industri dasar dan energi terbarukan. Di sektor petrokimia, PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) disebut sebagai salah satu motor utama pengembangan industri petrokimia nasional. Perusahaan itu merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang mengoperasikan naphtha cracker untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri domestik.
Chandra Asri Group juga terus menambah kapasitas produksi dan mengembangkan berbagai produk turunan guna mendukung kebutuhan industri dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Sementara di sektor energi terbarukan, PT Barito Renewables Energy Tbk (Barito Renewables) mengoperasikan berbagai lapangan panas bumi dengan total kapasitas mencapai 926 megawatt (MW). Kapasitas itu menjadi bagian dari kontribusi grup dalam menyediakan listrik bersih dan mendukung agenda transisi energi Indonesia.
Rudy menjelaskan, Barito Renewables terus meningkatkan kapasitas terpasang energi hijau di wilayah operasionalnya. Langkah ini melengkapi strategi grup yang menempatkan sektor industri dasar dan energi ramah lingkungan sebagai pilar pertumbuhan.
Aset Regional untuk Perkuat Basis di Indonesia
Langkah strategis terkini membawa Barito Pacific merambah pasar regional melalui investasi dan akuisisi aset-aset strategis di luar negeri, yang kemudian dicatatkan di Indonesia. Salah satu yang disorot adalah kepemilikan aset Aster di Singapura.
Menurut Rudy, melalui kepemilikan aset Aster di Singapura, Chandra Asri Group dapat mendukung ketahanan energi nasional dengan menyuplai produk petroleum vital, seperti bensin, bahan bakar jet, gas oil, dan bitumen untuk kebutuhan berbagai industri dalam negeri.
Ia menambahkan, langkah ekspansi regional tersebut justru mendukung ketahanan neraca perusahaan induk di Indonesia. “Ini merupakan strategi untuk mengkonsolidasikan pendapatan di Indonesia, melalui induk usaha yaitu Barito Pacific,” katanya.
Grup juga memastikan skala usaha, pendapatan, keahlian, akses pasar, dan kapasitas pendanaan yang diperoleh melalui ekspansi regional tetap berada dalam kendali dan masuk ke laporan keuangan di Indonesia. Model bisnis itu menempatkan Barito Pacific sebagai perusahaan Indonesia dengan jangkauan multinasional.
Konteks Konglomerasi dan Diversifikasi
Barito Pacific bukan satu-satunya konglomerasi Tanah Air yang memperluas sayap ke luar negeri. Keluarga Hartono, pemilik Grup Djarum, juga tercatat melakukan sejumlah investasi di luar negeri. Merujuk pemberitaan Bloomberg, keluarga Hartono telah menginvestasikan sekitar US$1,4 miliar atau sekitar Rp24,9 triliun di luar negeri melalui sedikitnya sembilan entitas yang berbasis di Singapura dan London.
Meski demikian, Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan menyebut sekitar 90% investasi keluarga Hartono masih berada di Indonesia. Ia menegaskan tidak ada yang berubah dari semangat bisnis Grup Djarum, dan ekspansi yang dilakukan merupakan tahap lanjutan dari diversifikasi yang telah berlangsung puluhan tahun.
Grup Djarum sendiri berawal dari bisnis tembakau di Kudus, Jawa Tengah. Setelah Oei Wie Gwan meninggal pada 1963, bisnis dilanjutkan oleh dua putranya, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Keduanya kemudian membawa Djarum keluar dari bisnis rokok semata, masuk ke perbankan melalui kepemilikan di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), membangun bisnis elektronik melalui Polytron, mengembangkan properti seperti Grand Indonesia, hingga perkebunan, telekomunikasi, dan teknologi.
Setelah Michael Bambang Hartono meninggal pada Maret 2026, struktur pengendalian PT Dwimuria Investama Andalan berubah. Robert Budi Hartono menjadi satu-satunya pemegang saham pengendali terakhir. Perubahan itu dicatat OJK pada akhir Juli 2026 dan diumumkan BCA pada awal Agustus.
Di sisi lain, Barito Pacific yang dimiliki Prajogo Pangestu telah beroperasi 47 tahun sejak didirikan pada 1979. Perusahaan ini konsisten disebut sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional melalui kontribusi strategis di sektor industri dasar dan energi ramah lingkungan.
Dengan alokasi belanja modal yang mayoritas tetap berada di dalam negeri, arah ekspansi Barito Pacific menunjukkan bahwa jangkauan multinasional tidak selalu berarti pemindahan pusat kendali. Yang perlu dicermati ke depan adalah bagaimana aset regional tersebut benar-benar memperkuat industri hilir dalam negeri, sekaligus menjaga konsolidasi pendapatan dan pelaporan keuangan tetap di Indonesia.










