Cakrawala News – 25 September 2026 | Empat senator republik membelot, resolusi perang Iran tetap kandas dalam pemungutan suara di Senat Amerika Serikat pada Kamis, 24 September 2026. Resolusi berbasis War Powers Resolution itu gagal dengan hasil 49 berbanding 50, hanya terpaut satu suara dari mayoritas senator yang memberikan suara.
Empat senator Partai Republik yang berseberangan dengan mayoritas partainya adalah Susan Collins dari Maine, Lisa Murkowski dari Alaska, Rand Paul dari Kentucky, dan Thom Tillis dari North Carolina. Mereka bergabung dengan hampir seluruh senator Demokrat untuk mendukung upaya Kongres membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran.
Di sisi lain, Senator Demokrat John Fetterman dari Pennsylvania justru menolak resolusi tersebut, sedangkan Senator Angela Alsobrooks tidak memberikan suara. Kombinasi dukungan lintas partai itu tetap belum cukup untuk meloloskan resolusi yang tercatat sebagai H.Con.Res.89.
Isi dan Mekanisme Resolusi
Resolusi berdasarkan War Powers Resolution tersebut mengarahkan presiden menarik Angkatan Bersenjata AS dari permusuhan dengan Iran, kecuali keterlibatan itu secara eksplisit mendapat otorisasi melalui deklarasi perang atau persetujuan khusus penggunaan kekuatan militer dari Kongres.
War Powers Resolution 1973 mewajibkan presiden memberi tahu Kongres dalam waktu 48 jam setelah pasukan AS dimasukkan ke dalam permusuhan. Aturan itu pada umumnya membatasi keterlibatan militer tanpa otorisasi Kongres selama 60 hari, dengan tambahan waktu untuk penarikan pasukan dalam keadaan tertentu.
Resolusi ini bukan rancangan yang baru muncul. DPR AS telah mengesahkan H.Con.Res.89 pada Juli dengan perolehan 214 suara berbanding 208, sebelum dokumen itu bergerak ke Senat. Resolusi kekuasaan perang terpisah yang disetujui DPR pekan berikutnya memperoleh 220 suara, dengan rekor tujuh anggota Partai Republik bergabung dengan Partai Demokrat dalam mendukungnya.
Alasan Tillis dan Sikap Kaine
Masuknya Tillis menjadi perkembangan baru dalam pertarungan politik mengenai kewenangan perang Trump. Pada pemungutan suara Senat mengenai resolusi Iran pada akhir Juli, hanya Collins, Murkowski, dan Paul dari kubu Republik yang mendukung upaya tersebut.
Tillis mengatakan dukungannya kali ini berkaitan dengan batas waktu yang ditetapkan War Powers Resolution. Menurut dia, lebih dari 60 hari telah berlalu sejak pemerintahan Trump memberi tahu Kongres pada Juli bahwa aksi militer terhadap Iran kembali dimulai. Ia juga menyatakan perlunya menghentikan siklus konflik dan perdebatan yang terus berlangsung.
Senator Demokrat Tim Kaine dari Virginia, yang mendorong resolusi tersebut, menilai Kongres perlu lebih tegas dalam menjalankan kewenangannya terkait keputusan perang. Reuters melaporkan resolusi yang dipimpin Demokrat itu menuntut Trump mengakhiri perang dengan Iran atau memperoleh otorisasi Kongres untuk melanjutkan permusuhan.
Tekanan Politik Menjelang Pemilu Sela
Pemungutan suara berlangsung menjelang pemilu sela 3 November, ketika perang dan dampak ekonominya semakin masuk ke dalam perdebatan politik domestik AS. Sejumlah anggota Partai Republik mulai menjauhkan diri dari Trump terkait perang tersebut, meskipun sebagian lainnya tetap mendukung.
Anggota DPR Ashley Hinson dari Partai Republik Iowa, yang sedang bersaing ketat untuk memperebutkan kursi Senat yang kosong di negaranya, menulis dalam unggahan media sosial pekan itu bahwa warga Iowa sedang diperas dan seharusnya tidak perlu menanggung biaya bensin atau kasir untuk perang di Iran.
Pada hari yang sama, Mike Rogers, calon dari Partai Republik untuk Senat di Michigan, mengatakan perang tersebut perlu diakhiri untuk menurunkan biaya, tetapi keluarga di Michigan tidak mampu menunggu. Pernyataan-pernyataan itu menggambarkan meningkatnya keresahan di dalam partai mengenai perang.
Meskipun tidak mengikat secara hukum, resolusi tersebut merupakan teguran simbolis kepada Trump atas perang yang tidak pernah disetujui oleh para anggota parlemen. Pemungutan suara di Senat terjadi setelah Trump memperingatkan dalam pidatonya di PBB pekan itu bahwa kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran mungkin tidak akan tercapai hingga setelah pemilihan paruh waktu pada November.
Korban dan Dampak Ekonomi
Departemen Pertahanan mencatat setidaknya 19 anggota militer AS tewas sejak pertempuran pecah pada Februari, meskipun laporan terbaru menunjukkan bahwa Pentagon gagal memberikan perhitungan lengkap tentang perang tersebut, baik dari segi biaya finansial maupun korban jiwa.
Ketegangan yang terus berlanjut di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga bahan bakar. Harga solar baru-baru ini mencapai rekor harian di atas 6,50 dolar AS per galon, menjadikan isu energi sebagai salah satu sorotan dalam perdebatan politik terkait perang Iran.
Dengan hasil 49-50, jarak antara dua kubu di Senat terbilang sangat sempit. Resolusi hanya kekurangan satu suara untuk mencapai mayoritas dari senator yang memberikan suara, meski komposisi dukungannya melintasi garis partai.
Kegagalan resolusi ini membuat kebijakan militer Trump terhadap Iran tetap berjalan, sementara tekanan politik di Kongres dan kekhawatiran mengenai dampak ekonomi perang terus meningkat. Kongres belum berhasil menggunakan mekanisme War Powers untuk menghentikan atau membatasi operasi militer AS di Iran.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada perkembangan perang menjelang pemilu sela November dan apakah tekanan dari sejumlah anggota Partai Republik, termasuk mereka yang menghadapi pertarungan elektoral ketat, akan mendorong perubahan sikap di Kongres.
