Cakrawala News – 25 September 2026 | Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebut Qatar-Turki sebar kebohongan soal Israel: Erdogan adalah tiran! Pernyataan itu disampaikannya dalam pidato di Sidang Umum PBB ke-81 di New York, Kamis (24/9), sebagaimana dilaporkan media pada Jumat (25/9/2026). Dalam pidatonya, Netanyahu menuduh kedua negara menyebarkan kebohongan tentang Israel dan menebarkan paham antisemit.
Netanyahu menyebut Qatar sebagai pihak yang sejak puluhan tahun membiayai secara masif sejumlah universitas di Amerika Serikat serta media yang ia nilai bermasalah, termasuk Al Jazeera. Menurutnya, langkah serupa juga dilakukan di Eropa. Ia menuduh tujuan pendanaan itu adalah mencuci otak anak-anak muda agar membenci Israel, Amerika, dan Barat.
Ia juga menuduh Qatar menampung para pelaku serangan 7 Oktober yang menjadi pemicu serangan besar-besaran Israel ke Palestina saat ini. “Ini adalah Qatar yang sama yang menampung para algojo Hamas pada tanggal 7 Oktober,” ujar Netanyahu. Tuduhan tersebut ia sampaikan tanpa menyertakan bukti baru dalam pidatonya.
Erdogan Disebut Tiran
Selain Qatar, Netanyahu mengarahkan kritik tajam kepada Turki. Ia menilai Turki kini menjadi negara terdepan dalam menyebarkan kebohongan tentang Israel. Dalam pidatonya, ia menyebut Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai seorang tiran, istilah yang merujuk pada penguasa kejam dan sewenang-wenang.
“Kini, negara terbaru yang menjadi pemicu utama penyebaran kebohongan antisemit adalah Turki. Erdogan, Erdogan adalah seorang tiran, dia juga menampung para pemimpin teror Hamas,” kata Netanyahu. Ia lantas menuduh Erdogan melakukan sejumlah kejahatan, mulai dari membunuh ribuan warga sipil Kurdi, menyangkal genosida Armenia, hingga memenjarakan jurnalis dan pemimpin oposisi.
Menurut Netanyahu, Turki bahkan memegang rekor dunia dalam hal memenjarakan jurnalis dan pemimpin oposisi. “Saya rasa dia adalah nomor satu,” tuturnya. Tuduhan-tuduhan tersebut merupakan klaim Netanyahu yang disampaikan dalam forum PBB dan belum tentu mencerminkan posisi resmi lembaga internasional.
Kritik ke Iran dan Eropa
Dalam pidato yang sama, Netanyahu juga menyinggung Iran. Ia menyebut rezim Iran yang ia gambarkan haus darah akan digulingkan oleh kebohongan, korupsi, dan kekejamannya sendiri. “Rezim jahat ini akan runtuh, dan kita semua akan merayakannya,” ujarnya.
Netanyahu sempat memperlihatkan perangkat satelit Starlink dalam pidatonya. Ia menyebut pemimpin Iran takut terhadap teknologi yang memungkinkan orang mengakses kebenaran, menentukan pilihan, serta menggunakan kebebasan berpikir dan kebebasan berpendapat. Ia mengatakan akan menitipkan perangkat tersebut kepada presiden majelis untuk diserahkan kepada delegasi Iran, yang tidak hadir saat pidatonya berlangsung.
Netanyahu juga merespons para pengunjuk rasa di luar gedung PBB dan sejumlah delegasi internasional yang meninggalkan ruangan saat ia berpidato. Ia mempertanyakan keberadaan mereka ketika, menurut klaimnya, para tiran Iran membantai dan melukai puluhan ribu warga sipil Iran yang tak bersenjata.
Tak hanya itu, Netanyahu mengkritik negara-negara Eropa yang baru-baru ini mengumumkan rencana penerapan sanksi terhadap permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Ia menuduh negara-negara Eropa telah tunduk pada gerombolan antisemit.
Gimik dan Konteks Diplomatik
Netanyahu dikenal kerap menggunakan gimik dan alat peraga visual dalam pidato-pidatonya di PBB untuk mempertegas poin tertentu, yang sering kali berkaitan dengan Iran. Pola ini kembali terlihat dalam pidato tahun ini melalui penggunaan perangkat satelit sebagai simbol akses informasi.
Serangan verbal terhadap Qatar dan Turki menandai perluasan sasaran kritik Netanyahu di forum multilateral. Qatar selama ini memainkan peran sebagai mediator dalam sejumlah perundingan kawasan, sementara Turki merupakan salah satu negara yang paling vokal mengkritik kebijakan Israel terhadap Palestina.
Pernyataan Netanyahu sebut Qatar-Turki sebar kebohongan soal Israel: Erdogan adalah tiran! berpotensi memperkeruh hubungan Israel dengan kedua negara. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Qatar maupun Turki atas tuduhan tersebut.
Sejumlah pengamat menilai pidato di Sidang Umum PBB kerap digunakan para pemimpin untuk menyampaikan posisi politik sekaligus menggalang dukungan internasional. Karena itu, pernyataan Netanyahu perlu dibaca sebagai bagian dari manuver diplomasi, bukan semata laporan faktual.
Yang perlu dicermati selanjutnya adalah apakah Qatar dan Turki akan memberikan respons resmi, serta bagaimana sikap negara-negara Eropa menyusul rencana sanksi terhadap permukiman Israel di Tepi Barat. Dinamika ini akan menentukan arah diplomasi kawasan dalam beberapa pekan mendatang.
