Cakrawala News – 25 September 2026 | Evakuasi buaya 2 meter di Sangatta Selatan, Disdamkartan Kutim koordinasi dengan BPSPL menjadi sorotan setelah insiden buaya menyerang warga di kawasan Sungai Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kutai Timur menerima penyerahan seekor buaya muara berukuran besar dari tim gabungan yang terdiri atas Laskar Kebangkitan Kutai (LKK) Kutim dan warga setempat. Buaya tersebut dievakuasi pada Minggu dini hari, 20 September 2026, setelah sebelumnya diduga menerkam seorang warga.
Peristiwa bermula pada Sabtu, 19 September 2026. Seorang kakek yang identik disebut bernama Aji sedang memperbaiki mesin air atau pipa alkon di tepi Sungai Sangatta, tepatnya di kawasan Gang Durian, Sangatta Utara. Saat itulah seekor buaya menyerangnya. Korban mengalami luka pada bagian kaki akibat sambaran atau gigitan buaya, namun beruntung selamat.
Koordinator Penyelamatan, Evakuasi, dan Investigasi Damkar Kutim, Abdul Muis, mengatakan bahwa korban dapat bertahan karena ruang gerak buaya ketika menyerang terbatas. Menurutnya, buaya itu terganjal sesuatu sehingga tidak leluasa melakukan serangan. “Karena buaya itu terganjal sesuatu di situ. Jadi untuk ruang penyambaran yang luas itu enggak bisa dia. Jadi hanya sedikit yang dia bisa lakukan, jadi kaki itu tadi yang diterkamnya,” jelas Abdul Muis saat dikonfirmasi.
Setelah kejadian, korban dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara itu, tim gabungan melakukan penelusuran untuk mencari keberadaan buaya yang menyerang warga tersebut.
Penyisiran Sungai dan Penangkapan Buaya
Ketua LKK Kutim, Ronny Effendi, menyatakan pihaknya mengerahkan 16 personel untuk memburu predator tersebut. Penyisiran dimulai sejak Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WITA dari markas. “Jam 10 malam kami berangkat dari markas menuju lokasi. Sekitar jam 2 dini hari kami mulai sisir sungai pakai perahu,” ujar Ronny.
Pada pukul 03.00 WITA, tim mendapati empat ekor buaya dengan ukuran hampir serupa muncul di permukaan air. Satu di antaranya langsung dikenali karena memiliki ciri khas mencolok, yakni sebuah ban motor yang melingkar di bagian lehernya. Buaya itu diduga kuat sebagai hewan yang menyerang warga. “Jam 03.00 subuh itu ada empat ekor buaya yang sama ukurannya. Cuma karena satu ekor ini yang bersalah sudah menggigit warga, akhirnya kita eksekusi. Tandanya itu di bagian lehernya ada sebuah ban motor yang melekat,” jelas Ronny didampingi pawang buaya, Anasrullah.
Butuh waktu sekitar 1,5 jam bagi tim untuk berjibaku menaklukkan buaya tersebut. Mereka menggunakan peralatan tradisional berupa tali untuk menjerat hewan buas itu dan menariknya ke darat. Menurut Abdul Muis, buaya dilumpuhkan lebih dulu dengan cara disetrum, kemudian diikat, baru ditarik dan diangkat ke daratan. “Disetrum, habis itu dilakukan pengikatan, baru ditarik, diangkat ke darat, baru diikat moncongnya supaya lebih aman,” ungkapnya.
Karena bobotnya yang sangat besar, proses evakuasi harus dibantu warga sekitar. “Untuk pengangkatannya, kami menggunakan alat tradisional dijerat, pakai tali, dan dibantu oleh warga. Karena ukuran besar jadi perlu bantuan orang banyak,” tambah Ronny.
Buaya muara tersebut kemudian diserahkan kepada Disdamkartan Kutai Timur. Proses serah terima disaksikan langsung oleh Camat Sangatta Utara Hasdiah, Kades Sangatta Utara Mulyanti, Babinsa, Ketua RT, dan warga. Pihak Disdamkartan Kutim yang menerima langsung antara lain Soleram dan Abdul Muis. Evakuasi buaya 2 meter di Sangatta Selatan, Disdamkartan Kutim koordinasi dengan BPSPL juga menjadi bagian dari upaya penanganan satwa liar yang menimbulkan konflik dengan manusia.
Imbauan Warga dan Potensi Bahaya Susulan
Ronny mengimbau masyarakat, terutama anak-anak, agar tidak beraktivitas di bantaran Sungai Sangatta. Menurutnya, masih ada beberapa buaya lain dengan ukuran serupa yang berkeliaran di kawasan tersebut. Imbauan ini penting mengingat sungai menjadi lokasi aktivitas warga sehari-hari, termasuk untuk keperluan pengairan dan perbaikan mesin air.
Ronny juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua Umum LKK M. Hufni Fahruddin yang selama ini memberikan bimbingan agar LKK Kutim terus berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan.
Hingga kini, penanganan buaya tersebut masih berada di ranah Disdamkartan Kutim. Koordinasi dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) diperlukan untuk menentukan langkah lanjutan, termasuk kemungkinan relokasi satwa ke habitat yang lebih aman. Evakuasi buaya 2 meter di Sangatta Selatan, Disdamkartan Kutim koordinasi dengan BPSPL menunjukkan perlunya sinergi antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat dalam menangani konflik satwa liar.
Bagi warga, kewaspadaan tetap menjadi kunci. Keberadaan buaya di Sungai Sangatta bukan hal baru, sehingga aktivitas di tepi sungai sebaiknya dilakukan dengan hati-hati, terutama pada pagi dan malam hari ketika satwa tersebut lebih aktif. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa batas antara permukiman dan habitat alami perlu dikelola dengan baik agar keselamatan warga tetap terjaga.
