Cakrawala News – 22 Oktober 2026 | Filter masker 3 bulan lalu masih dipakai, cerita relawan di Kalsel bikin pilu tim Zaskia Adya Mecca. Kondisi itu terungkap saat Zaskia Adya Mecca bersama tim Rangkul Foundation menyambangi posko bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan, sebelum melanjutkan perjalanan ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang disebut menjadi daerah terparah karhutla.
Meninggalkan dunia keartisan, Zaskia kini lebih banyak mengurus bisnis dan aktif sebagai relawan. Dalam setiap bencana, ia berusaha bergerak cepat membuka donasi serta menyalurkan bantuan bagi korban terdampak. Kali ini, ia memilih turun langsung ke lapangan untuk melihat situasi terkini setelah karhutla berlangsung berbulan-bulan.
Kalimantan Selatan menjadi titik pertama yang dikunjungi. Wilayah itu diketahui mengalami karhutla selama lebih dari empat bulan. Di salah satu posko bencana, Zaskia dan tim menyaksikan sendiri bagaimana para relawan setempat bertahan dengan keterbatasan alat dan perlengkapan.
Pengorbanan Relawan Lokal di Tengah Keterbatasan
Pemandangan yang paling membekas adalah ketika tim menemukan filter masker yang sudah dipakai sejak tiga bulan lalu namun masih digunakan oleh para relawan. Kondisi tersebut menggambarkan betapa terbatasnya perlengkapan yang tersedia, sementara mereka harus terus berjaga memadamkan api dan mencegahnya menjalar ke permukiman warga.
Zaskia disebut langsung terenyuh melihat para relawan yang telah berkorban harta dan diri untuk memadamkan api. Mereka bertahan di garis depan dengan peralatan seadanya demi melindungi kampung dan rumah penduduk dari kobaran api yang tak kunjung padam.
Kisah itu menjadi cermin bahwa kebutuhan di lapangan tidak selalu besar dalam jumlah, tetapi sangat mendesak sifatnya. Masker dan sepatu yang layak untuk memadamkan api menjadi dua hal yang paling dibutuhkan saat ini. Bantuan sederhana seperti itu menentukan keselamatan relawan yang setiap hari berhadapan dengan asap dan bara.
Donasi Digalang, Bantuan Disalurkan Langsung
Sebelum berangkat, Zaskia sempat menggalang donasi bersama tim Rangkul Foundation. Perjalanan ke Kalimantan ini menjadi cara memastikan bantuan yang dikumpulkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan paling mendesak di lapangan, bukan sekadar berhenti pada penyaluran formalitas.
Dengan meninjau lokasi dan posko karhutla di Kalimantan Selatan terlebih dahulu, tim bisa memetakan apa yang paling krusial untuk dipenuhi. Dari hasil peninjauan itu, kebutuhan masker dan sepatu proper untuk memadamkan api muncul sebagai prioritas yang harus segera dipenuhi.
Langkah tersebut menegaskan bahwa aksi kemanusiaan tidak cukup hanya dengan mengumpulkan dana. Pemahaman langsung terhadap kondisi di lapangan memungkinkan penyaluran bantuan menjadi lebih tepat sasaran, terutama ketika bencana berlangsung lama dan perhatian publik mulai menurun.
Karhutla Berkepanjangan dan Beban yang Tak Terlihat
Karhutla yang berlangsung berbulan-bulan menyisakan beban berat bagi daerah terdampak. Selain kerusakan lingkungan, asap yang terus menyelimuti wilayah menimbulkan risiko kesehatan bagi warga dan para relawan yang bertugas. Perlengkapan pelindung diri menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa ditawar.
Di tengah situasi itu, cerita tentang filter masker yang masih dipakai setelah tiga bulan menunjukkan bahwa dukungan terhadap relawan belum sepenuhnya merata. Padahal, mereka adalah garda terdepan yang berjaga agar api tidak meluas ke permukiman penduduk.
Kisah relawan di Kalsel bikin pilu tim Zaskia Adya Mecca ini juga menjadi pengingat bahwa bencana yang panjang kerap membuat kebutuhan dasar di posko menipis. Perhatian publik yang datang di awal musim karhutla cenderung berkurang seiring berjalannya waktu, sementara tugas pemadaman dan penjagaan tetap berjalan setiap hari.
Perjalanan Berlanjut ke Kalimantan Tengah
Setelah meninjau Kalimantan Selatan, Zaskia dan tim akan menuju Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang disebut sebagai daerah terparah karhutla. Kunjungan ini menjadi kelanjutan dari upaya memastikan penyaluran bantuan sesuai kebutuhan nyata di tiap titik bencana.
Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan pola pendekatan yang menekankan peninjauan langsung sebelum menyalurkan bantuan. Dengan begitu, tim dapat memilah prioritas antara perlengkapan pemadaman, alat pelindung diri, maupun kebutuhan lain yang muncul di posko.
Bagi publik, cerita dari posko karhutla di Kalimantan Selatan memberi gambaran konkret tentang kondisi para relawan. Dukungan yang datang dalam bentuk masker, sepatu, dan perlengkapan pemadaman dinilai jauh lebih berarti dibandingkan bantuan yang tidak sesuai kebutuhan lapangan.
Ke depan, perhatian tertuju pada bagaimana bantuan yang disalurkan tim Rangkul Foundation bersama Zaskia Adya Mecca dapat meringankan beban relawan, terutama di wilayah yang paling terdampak. Kisah filter masker yang masih dipakai setelah tiga bulan menjadi pengingat bahwa solidaritas terhadap mereka yang bertahan di garis depan masih sangat dibutuhkan selama karhutla belum benar-benar berakhir.










